Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Demokrasi dalam Pro dan Kontra

Beberapa waktu belakangan terjadi polemik bekaitan dengan demokrasi. Beberapa harakah dan firqah-firqah Islam bahkan sampai pada level mengkafirkan seorang Muslim yang melibatkan diri dan berpartisipasi dalam demokrasi. Ada pula yang menyatakan bahwa demokrasi haram dan sampai pada derajat bahwa demokrasi adalah agama baru, sehingga orang yang menerima demokrasi berarti telah murtad dari Islam.mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Oleh: Zaki Permana

Memang telah banyak perdebatan dikalangan umat islam terkait dengan permasalahan boleh atau tidaknya kita – kaum muslimin – menggunakan sistem demokrasi dalam kehidupan ini, bahkan memang bukan hal yang asing lagi jika banyak beberapa golongan jama’ah minal muslimin yang kemudian sampai pada wilayah takfir –pengkafiran terhadap saudaranya sesama muslim – padahal Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz telah berkata bahwa “Adapun pengkafiran pemerintah, atau individu, atau penduduk negeri anu atau daerah anu secara mutlak, maka hal itu tidak akan muncul dari orang yang berakal. Seseorang dan pemerintah tidak boleh dikafirkan kecuali bila melakukan hal-hal yang mengkafirkan –membuat seorang muslim menjadi kafir—.

Islam telah ada sejak lima belas abad lalu di bumi ini, oleh karenanya secara logis tafsir original dari firman dan kehendak Allah (islam) hanya ada ditangan Rosulullah SAW saja, sedangkan kita adalah orang yang menafsirkan dari generasi setelah Rosul, setelahnya lagi, setelahnya lagi, setelahnya lagi dan seterusnya hingga sekarang, maka wajar memang jika akhirnya timbul beberapa perbedaan mengingat masing-masing individu memiliki tafsir yang berbeda terhadap islam dengan seluruh maknanya yang luas dari individu lain. Hal ini disebabkan perbedaan daya tangkap seseorang terhadap sebuah perkara adalah sangat berbeda satu sama lain, metode pendekatan memahami sebuah perkara juga sangat berbeda di tiap-tiap individu maupun kelompok. Maka jika sekarang terjadi sekian banyak perbedaan metode gerakan jama’ah minal muslimin maka bahakan sampai ada perbedaan yang sangat mendasar yakni hingga perbedaan akidah, maka bisa jadi hal itu adalah buah dari mekanisme rangkaian sejarah tadi.

Al-Qordhowi menyebutkan bahwa ada tiga golongan manusia yang berbeda metode dalam menafsirkan agama ini, pertama, madrasah yang memahami teks-teks partikular, memahaminya dengan pemahaman literal dan jauh dari maksud-maksud syariat yang ada dibelakangnya. Kedua, adalah madrasah yang meng-klaim diri sebagai madrasah yang memahami agama berdasarkan maksud-maksud didalamnya dengan menganulir teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka mengatakan bahwa agama bukan simbol, akan tetapi substansi. Mereka meng-klaim merekalah orang-orang yang menyeru kepada pembaruan islam, padahal mereka adalah orang-orang yang menyeru kepada westernisasi islam, atau liberalisasi islam. Ketiga, madrasah yang moderat. Mereka tidak melupakan ayat-ayat partikular Al-Qur’an dan as-sunnah namun dalam satu waktu mereka juga tidak melupakan maksud-maksud universal di dalamnya, pemahaman mereka tidak saklek dari teks-teks saja, mereka juga mengkaji makna dan maksud syariat di dalamnya. Mereka memang beranggapan agama bukanlah sekedar simbol akan tetapi substansi, tanpa menganulir firman Allah dan Sabda Nabinya.

Dari sini saja dapat kemudian kita pelajari bahwa memang dari akar pencarian kepahaman terhadap agama kaum muslimin telah sampai pada titik yang berbeda, maka jelas ketika di sodorkan kepada kaum muslimin sebuah kata berbunyi demokrasi maka tanggapan-tanggapan kaum muslimin atasnya tentulah berbeda, mereka yang memegang teguh pencarian pemahaman terhadap agama dengan tekstual dan saklek akan langsung menolak karena mereka melihat definisi demokrasi dan sejarahnya, mereka menggap bahwa demokrasi adalah sistem ciptaan manusia yang tidak memahami ada sebuah sistem yangg jauh lebih baik bernama islam. Maka perbedaan mereka yang tidak memahami dengan kaum muslimin adalah, kaum muslimin telah mendapatkan sebuah panduan sistem sosial dan tata kelola kenegaraan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, artinya sistem itu bersifat given, telah ada diturunkan langsung oleh Allah kepada Muhamad sang rosul lima belas abad silam, sedang demokrasi adalah sistem baru yang tercipta dari kesepakatan manusia yang tidak memahami arti kata islam sekalipun. Maka jika kita (kaum muslimin) menerima hal tersebut berarti kita adalah orang-orang yang menganulir panduan yang diberikan Tuhan dan menggantinya dengan sistem manusia, yang berati kita telah menciptakan sebuah saingan untuk Tuhan. Itulah yang membuat kita tersesat dengannya, itulah yang membuat kita menjadi kafir karenanya. Sabda Nabi, barangsiapa yang mengikuti kebiasaan suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. Naudzubillahimindzalik. Disini kaum konservatif memiliki pandangan yang berbeda dalam menghukumi kaum muslimin yang pro terhadap demokrasi, karena tidak semua dari mereka berpendapat bahwa seorang muslim yang menggunakan demmokrasi berarti dia telah kafir dari agamanya, kelompok ini mengatakan mereka (pelaku demokrasi) adalah orang-orang yang sekarang sedang bermaksiat kepada Allah, berdosa dan bahkan bisa jadi mereka dosa mereka adalah dosa syirik, akan tetapi tetap muslim, karena kekafiran tidak disebabkan karena ia melakukan sebuah kemaksiatan.

Kemudian yang berikutnya adalah mereka golongan liberal yang mengatakan mengapa kita perlu menerima demokrasi secara mutlak mengatakan bahwa, seluruh agama adalah benar, semuanya memiliki sebuah maksud yang mulia dan sama, yakni untuk mewujudkan kesejahteraan kepada seluruh umat manusia, bukan untuk saling melukai dan bersaing menunjukan sebenarnya siapa yang pantas berkuasa atas bumi, sudah saatnya seluruh agama tersebut menyadari bahwa jalan menuju Tuhan itu sangat banyak (agama) akan tetapi tetap tujuannya satu (Tuhan) maka menyadari hal ini adalah kewajiban bagi mereka yang berakal, dalam hal demokrasi, demokrasi bukanlah menjadi hal yang bathil ketika yang menciptakannya bukanlah orang muslim, karena belum tentu juga apa yang dibawa oleh kaum muslimin sempurna sifatnya, mereka berkaca dari sejarah bahwa dahulu ketika imperium islam menguasai dunia, maka berapa banyak darah yang telah pemerintah islam tumpahkan, berapa banyak kedzoliman yang juga merajalela, artinya yang dibawa kum muslimin belum tentulah sempurna, kadang masih perlu dikaji secara lebih teliti lagi. Demokrasi perlu diterima secara mutlak dikarenakan kesesuaiannya dengan zaman saat ini, keberterimaan masyarakat dunia atas sistem ini telah mencapai kata lebih dari 80% maka apa gunanya ditolak, sebalikya jika kita menegakan sistem syariat, maka mereka yang menolak secara langsung adalah mereka kaum muslimin sendiri. Terlebih lagi banyak sistem islam (syariat) yang tidak berkesesuaian dengan budaya global dan hak asasi manusia, seperti perlakuannya yang diskriminatif terhadap perempuan dan kekejaman hukuman rajam dan potong tangan. Sedangkan demokrasi adalah sebuah sistem yang meniscayakan egalitarian pendapat, tidak otoriter dan sangat menjunjung tinggi hak-hak manusia, untuk berpendapat, untuk menyatakan sikap, untuk berkelompok dengan siapapun, untuk membuat apapun yang tidak melanggar hukum. Maka bisa jadi inilah sistem yang paling sesuiai dengan karakter masyarakat dunia saat ini, yang menjunjung tinggi kebebasan.

Perdebatan panjang inilah yang terjadi diantara kaum pertama dengan kaum yang kedua, dalam tulisan ini penulis akan menggunakan istilah kelompok liberal untuk kelompok yang kedua dan kemlompok konservatif untuk kelompok yang pertama.

Sedangkan kelompok moderat berpendapat, bahwa iya, demokrasi adalah ciptaan manusia dan syariat kita dalam bernegara telah diberikan oleh Allah untuk kita terapkan karena memang agama ini begitu sempurna dan menyeluruh menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Anis Matta mengatakan bahwa, jika kita ingin merangkum tahapan perkembangan islam dalam sejarah maka kita dapat meringkasnya menjadi tiga kata: manusia, negara, dan peradaban. Manusia adalah subyeknya, Negara adalah institusinya, dan peradaban adalah karyanya. Dalam kerangkapemikiran seperti itu bentuk negara memang menjadi sebuah hal yang sangat fleksibel. Walaupun para pemikir politik islam mengakui bahwa sistem yang paling ideal adalah khilafah, khususnya pada zaman khulafaurrasyidin. Ketimbang bentuk-bentuk pemerintahan yang ada setelahnya, seperti kerajaan misalnya, akan tetai yang jauh lebih penting dari itu semua adalah fungsi negara sebagai alat untuk menerapkan syariat islam di dalamnya. Yang permanen dalam politik islam adalah fungsi negara sebagai instrumen penegak syari’at Allah. Adapun bentuk negara, mulai dari khilafah, dinasti, hingga negara bangsa dengan berbagai sistem pemerintahannya mulai dai monarki, presidensil, hingga parlementer. Semua dapat diakomodasi selama negara itu menjalankan fungsi dasarnya. Begitu juga dengan demokrasi, ia tidak lebih dari sekedar ijtihad sistem tatakelola negara oleh manusia, lebih jauh lagi Al-Qrodhowi menjelaskan bahwa makna Demokrasi yang sekarang ini tengah dijalani oleh sekian banyak negara-negara islam kini adalah berbeda makna defenitif akademik nya, jika Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘abdillah Al Imam menyebutkan bahwa demokrasi adalah, kekuasaan rakyat oleh rakyat, rakyat adalah sumber kekuasaan. Maka Al Qordhowi menyebutkan bahwa ‘demokrasi adalah bahwa rakyat memilih orang yang akan memerintah dan menata prsoalan mereka, tidak boleh dipaksakan kepada penguasa yang tidak mereka sekai atau rezim yang mereka benci, mereka diberi hak untuk mengoreksi penguasa bila dia keliru, diberi hak untuk mencabut dan menggantinya bila ia menyimpang, mereka tidak boleh digiring dengan paksa untuk mengikuti berbagai sistem ekonomi, sosial dan politik yang tidak mereka kenal dan tidak mereka sukai. Bila sebagai menolak , maka tidak boleh disiksa, dianiyaya atau dibunuh’ (Yusuf Al Qordhowi, Fiqih Negara, Hal. 167, Hakikat Demokrasi). dan jika hal ini direnungkan secara mendalam, maka sebenarnya demokrasi ini telah sejalan dengan makna pengelolaan islam hanya saja berbeda bahasa penyebutan. Kaidah ushul fiqh mengungkapkan kepada kita sebuah kaidah penghukuman kepada sebuah perkara, yakni, segala sesuatu yang berkenaan dengan muamalah hukum asalnya adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil atas perkara tersebut, misalnya Handphone adalah barang yang halal (mubah), akan tetapi jika didapat dengan cara yang bathil atau digunakan untuk perkara yang bathil maka jelas handphone dalah barang yang haram, namun jika sebaliknya, Hp digunakan untuk perkara kemaslahatan ummat, maka bisa jadi menggunakan Hp adalah sesuatu yang mendapatkan pahala dari Allah SWT. begitu pula demokrasi, ia adalah halal selama tidak ada hal yang menyebabkannya menjadi haram.

Berlepas dari polemik pendapat yang telah penulis jabarkan, sikap seorang muslim adalah sikap yang harus selalu mengutamakan sebuah objektifitas berfikir, jika nanti ternyata terbukti bahwa yang paling mendekati kebenaran adalah salah satu pihak maka sikap dewasalah yang harusnya muncul, yakni dengan mengikuti kepahaman salah satu pihak. Yaitu untuk –paling tidak – tidak ikut kembali dalam demokrasi, atau untuk mengikuti dan menerima sistem demokrasi hingga nanti sistem ideal dambaan muslim yang saleh terwujud yakni sistem islam yang syamil dan sempurna.

Ada sebuah kaidah ushul fiqh yang mengatakan bahwa; “sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya sebuah kewajiban kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu adalah menjadi wajib. Dan bila terbukti bahwa suatu sarana diperlukan untuk merealisir tujuan syariat, maka sarana itu sama hukumnya dengan tujuan tersebut.” secara syariat tidak ada halangan kaum muslimin untuk meggunakan sebuah idea atau cara dari kaum lain di luar kaum muslimin, jika itu memang terbukti memberikan maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat, perang ahzab misalkan, cara yang digunakan para sahabat dalam mempertahankan kota Madinah, sebuah representasi fundamental kaum muslimin saat itu, adalah cara yang digunakan oleh kaum diluar kaum muslimin yakni dengan menggali parit untuk kemudian menghadang musuh yang waktu itu berjumlah sangat besar bagi kaum muslimin di madinah dan cara ini terbukti efektif untuk menahan mereka yang hendak menghancurkan kaum muslimin saat itu. Kemudian dalam kasus pasca perang badar, Nabi menggunakan tawanan kaum musrikin untuk mengajarkan kaum muslilmin membaca dan menulis. Orang muukmin selalu berpedoman kepada hikmah, jika memang terdapat hikah yang baik, maka kaum mukminin akan melakukannya.

Kemudian secara objektif jika kita menengok definisi yang diberikan oleh pakar-pakar deokrasi terkait dengan demokrasi sendii memang ternyata telah mengalami disparitas yang cukup nyata dengan apa ayang ada di lapangan, dalam hal ini yang mendekati kebenaran adalah difinisi yang diberikan oleh Yusuf Al-Qordhowi, artinya memang secara syar’ie demokrasi sama sekali tidak bertentangan dengan islam, dan bahkan jika kemudian dengan alasan untuk menolak demokrasi kita (kaum muslimin) tidak terlibat dalam usaha pengelolaan dan penyelenggaraan negara, maka kemudian siapa yang akan memperhatikan kaum muslimin. Berdasarkan ini, tidak ada salahnya kita mengadopsi berbagai metode dan mekanisme demokrasi yang cocok dengan kita. Kita berhak melakukan perubahan dan penyesuaian. Namun kita tidak akan mengadopsi kefalsafahanya yang mungkin saja menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, atau menggugurkan kewajiban.

Wallahua’lam bishowab

Referensi:

  1. Abu Abdurrahman Al Tholibi, Dakwah salafiyah dakwah bijak, meluruskan sikap keras da’I salafi.
  2. Yusuf Al-Qordhowi, Fiqh Maqoshid Syari’ah
  3. Anis Matta, Dari Gerakan ke Negara
  4. Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘abdillah Al Imam, e-book di www.assunnah.cjb.net
  5. Yusuf Al Qordhowi, Fiqih Negara

17 Juni 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: