Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Kajian Peradaban barat

Hampir seluruh pemikir-pemikir besar dunia mensinyalir peradaban dunia yang dihegemoni  peradaban barat telah sampai pada titik nadirnya. Peradaban dunia yang didominasi oleh peradaban barat hampir  tenggelam. Kenapa dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi.

Oleh: Zaki Permana

Peradaban memiliki padanan kata berupa kebudayaan, kemajuan, kultur, moral, akhlak. Sedang kata dasarnya, adab padanannya adalah akhlak, budaya, etika, kebajikan. Dan memang oleh itulah peradaban dapat kokoh dibangun, sedangkan jika kita mencoba mengamati sebuah peradaban. Sedang peradaban barat yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah peradaban Kebudayaan Barat (Western Civilization) yang berkembang dengan mewarisi unsur-unsur kebudayaan Yunani Kuno, Romawi, dan unsur-unsur lain dari budaya bangsa-bangsa Eropa, khususnya Jerman, Inggris, dan Prancis. Dinamakan Peradaban barat dikarenakan memang peradaban ini muncul dan tumbuh subur berkembang di Barat, yaitu di negara-negara Eropa dan Amerika Utara.

Menurut Profesor Naquib al-Attas, peradaban Barat memiliki sejumlah ciri. Pertama, berdasarkan filsafat dan bukan agama. Kedua, filsafat itu menjelma menjadi humanisme yang meneriakkan dengan lantang prinsip dikotomi –sekularisme, sebagai nilai dan kebenaran. Ketiga, berdasarkan pandangan hidup yang tragis. Artinya, manusia adalah tokoh dalam drama kehidupan di dunia. Pahlawannya adalah tokoh-tokoh yang bernasib tragis. Prinsip tragedi ini disebabkan oleh kekosongan kepercayaan (iman) dan karenanya mereka memandang kehidupan secara dikotomis. Konsep ini berujung pada keresahan jiwa, selalu mencari sesuatu yang tiada akhir, mencari suatu kebenaran tanpa asas kebenaran atau prinsip kebenaran mutlak. (al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, 2001).

Gelombang kebudayaan Barat yang disebut dengan modernisme itu secara konseptual berdampak pada perubahan konsep sejarah secara agressif, tapi juga mengubah sikap orang terhadap agama menjadi skeptis. Agama dan kitabnya diposisikan hanya sebagai suatu bentuk “narasi besar” (grand narrative) yang kering, profan, dan dapat dipermainkan melalui bahasa dan imajinasi liar yang mencampuradukkan realitas dan fantasi. Postmodernisme (saat ini) sebenarnya tidak lain dari sekularisme yang tampil dengan wajah baru yang “pusat gravitasinya” adalah pandangan hidup Barat (Western worldview).

Istilah sekularisme pertama kali digunakan oleh penulis Inggris George Holoyake pada tahun 1846. Walaupun istilah yang digunakannya adalah baru, konsep kebebasan berpikir yang darinya sekularisme didasarkan, telah ada sepanjang sejarah. Ide-ide sekular yang mentangkut pemisahan filsafat dan agama dapat dirunut baik ke Ibnu Rushdi dan aliran filsafat Averoisme. Holyoake menggunakan istilah sekularisme untuk menjelaskan pandangannya yang mendukung tatanan sosial terpisah dari agama, tanpa merendahkan atau mengkritik sebuah kepercayaan beragama. Sebagai seorang agnostik, Holyoake berpendapat bahwa “sekularisme bukanlah argumen melawan Kekristenan namun terpisah dari itu. Sekularisme tidak mengatakan bahwa tidak ada tuntunan atau penerangan dari ideologi lain, namun memelihara bahwa ada penerangan dan tuntunan di dalam kebenaran sekular, yang kondisi dan sanksinya berdiri secara mandiri dan berlaku selamanya. Pengetahuan sekular adalah pengetahuan yang didirikan di dalam hidup ini, berhubungan dengan hidup ini, membantu tercapainya kesejahteraan di dunia ini, dan dapat diuji oleh pengalaman di dunia ini.” (di unduh dari wikipedia.co.id)

Fenomena sekularisasi dan liberalisasi pada peradaban Barat yang kemudian diglobalkan ke seluruh dunia dapat ditelusuri dari proses sejarah yang panjang yang dialami  oleh salah satu peradaban besar di dunia ini. Setidaknya, ada tiga faktor penting yang menjadi latar belakang, mengapa Barat memilih jalan hidup sekular dan liberal dan kemudian mengglobalkan pandangan hidup dan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk di dunia Islam. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problema teks Bible. Dan ketiga, problema teologis Kristen. Dan hingga kini sekularisme benar-benar menjadi sebuah nafas kehidupan masyarakat di Barat bahkan sekularismepun menjadi dasar beberapa negara di Eropa bahkan hingga asia seperti Kanada, India, Perancis, Turki, dan Korea Selatan, walaupun tidak ada dari negara ini yang bentuk pemerintahannya sama satu dengan yang lainnya.

Dengan sekularisme peradaban ini berkembang, dan dengannya pulalah peradaban ini mengalami kebangkrutan. Karena memang tabiat sekularisme yang sama sekali tidak cocok untuk dijadikan sebagai sebuah sandaran bangunan peradaban. Sekularisme muncul dari kegelisahan menghadapi gereja yang menjelma menjadi tiran, artinya sekularisme adalah sebuah ledakan kemarahan akan sebuah kedzoliman yang muncul pada abad pertengahan di barat. Bukan sebagai sebuah sistem hakiki yang muncul dari nalar keilmuan yang secara objektif memang terbukti baik . Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qadim Zallum dalam Al Hamlah al Amirikiyah li Al Qadha` ‘ala Al Islam (1996) “Sekularisme sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Bahkan, tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang dihasilkan oleh logika sehat.” Bahkan kemudian sekularisme menjadi sebuah antitesa dari sebuah perilaku gereja (institusi agama) yang menjadi sangat berkuasa dan melebihi peranan yang seharusnya. Sekularisme muncul dari sebuah trauma kondisi yang meliputi masyarakat barat akan kesewenang-wenangan gereja, maka bisa dipastikan bahwa jika saja pada abad pertengahan fungsi-fungsi gereja tidak berlebihan dan tidak menindas rakyat maka sekularisme adalah sebuah hal yang tidak akan muncul kepermukaan dunia. Ini terbukti dari kenyataan bahwa sejak tahun kemunculan Kristen sebagai agama tahun 1 Masehi di Palestina, reformasi gereja baru dimulai pada abad pertengahan 130 tahun setelah kemunculan kristen, maka sebenarnya selama lebh dari 100 tahun masyarakat kristen tidak menolak agamanya –sebagaimana telah disebutkan diatas– , mereka menolak agamanya dikarenakan tingkah gereja yang terlalu mendominasi semua sistem pemerintahan dan dominasi itu digunakan dengan tidak bijak bahkan sewenang-wenang. Artinya sekularisme muncul bukan sebgai koreksi terhadap peran gereja atau institusi agama, ia muncul sebagai upaya untuk menganulir peranan gereja, dan dengan ini sekularisme lahir dengan mengabaikan sekian banyak peranan gereja yang memang diperlukan sebagai sistem control masyarakat agar tetap menjalankan kehidupan sebagai manusia. Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhamul Islam (2001) “mengatakan bahwa sekularisme bertentangan dengan fitrah manusia, yang terwujud secara menonjol pada naluri beragama. Naluri beragama tampak dalam aktivitas pen-taqdis-an (pensucian); di samping juga tampak dalam pengaturan manusia terhadap aktivitas hidupnya. Jika pengaturan kehidupan diserahkan kepada manusia, akan tampak perbedaan dan pertentangan tatkala pengaturan itu berjalan. Hal ini menunjukkan tanda kelemahan manusia dalam mengatur aktivitasnya.”

Secara fitrah manusia adalah makhluk tuhan yang sangat memerlukan dampingan-dampingan spiritual sebagai lentera untuk menemukan hakikat dan tujuan hidup manusia, nilai-nilai agama harus merasuk ke dalam seluruh sistem kehidupan sebagai panduan untuk menentukan kadar nilai kebenaran atau kehalalan sebuah perkara, baik dan buruknya sebuah perkara. Maka jika sistem kontrol ini dihilangkan yang terjadi adalah bencana degradasi moral besar-besaran terjadi, lihat saja revolusi seksual di Amerika yang muncul dikarenakan alasan hak asasi manusia tanpa melihat pertimbangan-pertimbangan agama sama sekali, dan kini hal itu menjadi sebuah standar kebenaran sosial di amerika dan Negara-negara sekular lainya. Mengosongkan kehidupan dunia (cara berpakaian, politik, ekonomi dan interaksi sosial lainnya) dar inilai-nilai agama dan ketuhanan, sama artinya menyamakan manusia dengan `hewan’, karena kehidupan manusia akan menjadi tidak ada aturan dan rambu-rambu sama sekali sebagai sebuah sistem penjaga nilai-nilai luhur manusia. Batasan—batasan antara kebenaran dan kebathilan menjadi sangat kabur dan sangat dangkal, demikian pula dengan batasan benar dan salah, kehidupan kemanusiaan menjadi sebuah hal bebas tanpa atura kecuali apa yang ada di otak manusia itu sendiri. Dan dari model berfikir sekular yang demikian itulah lahir sistem ekonomi kapitalistik yang sekarang mendominasi dunia, sebuah sistem yang muncul dan memungkinkan bagi yang kaya untuk menjadi semakin kaya dan mempersedikitkan akses si miskin untuk menjadi lebih mampu dalam menghadapi kehidupan.

Tengoklah sekarang ini di semua negara-negara maju dunia yang mengagungkan sekularisme dalam sistem tata kelolanya. Lihat orientasi kehidupan negara-negara sekular. Kemajuan materi yang pesat di negara-negara maju itu ternyata masih belum memenuhi kebahagiaan spiritual manusia-manusia di sana. Di AS dan Jepang tumbuh ribuan sekte spiritual, dari mulai penyembah piring terbang (UFO) sampai yang terang-terangan mengaku menyembah setan. Pengikutnya pun tidak sedikit yang berasal dari kalangan mapan dan intelektual. Selain masalah spiritual, para pencari kebahagiaan ini ada juga lari ke narkoba atau petualangan seks. Tidak aneh bahwa bagi Amerika Serikat, musuh yang tidak terkalahkan itu bukanlah Irak dengan (tuduhan) senjata pemusnah massalnya, atau al-Qaeda dengan (tuduhan) terorismenya, namun narkoba! Lebih banyak orang Amerika yang mati karena narkoba, daripada yang tewas pada perisitwa WTC-911 atau gugur di Irak. Narkoba menjadi persoalan yang hampir mustahil diselesaikan. Hal yang mirip juga terjadi di Belanda, ketika pemerintah akhirnya memutuskan untuk membagi saja narkoba secara gratis namun terkontrol, daripada menjadikannya ilegal namun berdampak sosial-ekonomi lebih parah. Indikasi disorientasi kehidupan ini juga tampak pada angka perceraian yang sangat tinggi, yang menjadikan generasi muda di sana rata-rata tidak lagi memiliki figur ayah atau ibu. Akibatnya, tingkat kekerasan pada remaja meningkat, di samping juga angka bunuh diri dan data angka aborsi yang terus menanjak naik dan semakin sedikit keluarga di sana yang berminat untuk memiliki anak, bahkan semakin sedikit orang yang berminat membentuk keluarga, bahkan untuk negara sekelas singapura saja, pemerintah sangat menganjurkan masyarakatnya untuk mau melakukan sex bebas dengan tujuan keberlangsungan keturunan dan maraknya pernikahan. Kebahagiaan semakin menghilang dari peradaban barat, nilai-nilai moralitas terus mengalami degradasi signifikan, angka kriminalitas semakin melonjak tinggi. Itulah yang sejak dulu semakin hari semakin marak saja di barat dengan ideologi sekularnya. Bagaimanakah dengan kebijakan-kebijakan luar negeri negara-negara maju yang sekular, karena mereka tidak pernah mengukur suatu kebenaran dan kehalalan maka ekspansi, kolinialisasi adalah tindak politik luar negeri mereka, sehingga politik yang semestinya menjadikan harta dan kekuasaan sebagai alat pencipta kemakmuran sesama menjadi sebuah tujuan utama yang mengkerdilkan sisi kemanusiaan bangsa-bangsa sekular yang semakin jauh dari demokrasi yang mereka dengungkan, belum lagi dengan toleransi yang sedemikian rendah dan masalah rasisme yang masih saja belum tuntas hingga sekarang, dan masih banyak lagi efek-efek yang muncul dari kesalahan pengambilan sebuah dasar ideologi mereka. Maka pertanyaanya, bukan sejauh apa keberhasilan sekularisme dalam sebuah peradaban barat, akan tetapi sejauh apa keberhasilan peradaban barat bertahan dengan ideologi sekularnya. Inilah rahim tempat dikandung dan dilahirkanya materialisme, dan ulasan-ulasan diatas hanyalah sebuah bentuk hasil dari materialisme yang diterapkan, Atheisme, Premisvisme, Hedonisme, Egoisme, dan Sistem kauangan ribawi yyang dilindungi legitimasi hukum mereka.

Agama haruslah mendapatkan fungsi sebagaimana mestinya, Fungsi pertama agama, ialah mendefinisikan siapakah saya dan siapakah Tuhan, serta bagaimanakah saya berhubung dengan Tuhan itu. Bagi Muslim, dimensi ini dinamakan sebagai hablun minaLlah dan ia merupakah skop manusia meneliti dan mengkaji kesahihan kepercayaannya dalam menghuraikan persoalan diri dan Tuhan yang saya sebutkan tadi. Perbincangan tentang fungsi pertama ini berkisar tentang Ketuhanan, Kenabian, Kesahihan Risalah dan sebagainya. fungsi kedua bagi agama ialah mendefinisikan siapakah saya dalam konteks interpersonal ia itu bagaimanakah saya berhubungan dengan manusia. Bagi pembaca Muslim, kategori ini saya rujukkan ia sebagai hablun minannaas. Agama adalah jawapan dan penyelesaian terhadap fungsi kehidupan manusia. Pola hubungan horisontal, manusia dengan manusia dan vertikal, manusia dengan Tuhan.

Kemanusiaan haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh dalam diri manusia, ia harus terwujud dengan bertemunya tiga elemen yang membentuknya, yakni ruh, jasad, dan jiwa yang masing-masing membutuhkan suplai energi dalam bentuk berbeda. Jasad dengan olahraga dan asupan-asupan intelektual, ruh dan jiwa dengan asupan-asupan moralitas yang bersumber dari kebijakan-kebijakan ketuhanan yang transenden. Hanya dengan inilah keharmonisan kehidupan manusia akan benar-benar terwujud di seluruh pelosok dunia. untuk itu demi melihat kehancuran peradaban barat yang sudah di ambang mata, maka kini perlulah bagi kita untuk mepersiapkan sebuah peradaban alternatif yang akan embawa kesejahteraan hakiki bagi entitas manusia secara keseluruhan, sebuah sistem peradaban yang mendukung berkembangnya intelektualitas sebagai kebutuhan kehidupan post modern ini, akan tetapi diiringi dengan sistem penjagaan nilai-nilai luhur yang akan membuat manusia menjadi manusia seutuhnya, manusia bahagia yang terjaga moral dan akhlaknya. Sebuah peradaban yang benar-benar sebuah peradaban dalam definisi terbaiknya, sebuah peradaban yang dirindukan oleh semua umat manusia.

Peradaban itu adalah peradaban islam.  Peradaban yang berangkat dari kebenaran mutlak  wahyu Tuhan yang dalam dirinya terdapat nilai universal yang dapat mengakomodir kebudayaan dan pemikiran asing dengan melalui proses Islamisasi. Sedangkan Barat adalah kebudayaan yang bermula dari spekulasi akal belaka yang tiada memiliki rujukan kepada kebenaran mutlak dan tiada akan pernah mencapai kebenaran. Islam islam adalah peradaban yang lahir dengan cita-cita, yakni mencipta kemakmuran, keharmonisan, dan kebahagiaan. Ia adalah peadaban universal yang menjunjung tinggi hak asasi manusia sesuai kadarnya, ia adalah peradaban sempurna yang benar-benar mengatur segala aspek kehidupan manusia, dari mulai terjaganya hingga lelapnya, yang mengtur pola hubungan manusia dari organisasi terkecilnya hingga organisasi-organisasi terbesarnya. Sebuah peradaban yang meleburkan sistem keagamaan dan sistem kemanusiaan. Peradaban inilah yang pernah membawa dunia kepada zaman keemasannya, yang menaungi manusia dengan keadilan, kesetaraan hak, dan kemapanan intelektualitas yang tinggi. Perdaban yang berhasil memadukan kemajuan zaman saat itu dengan keluhuran moralitas yang agung, di pareadaban itulah manusia akan benar-benar menjadi manusia, diperadaban macam itulah keteratuaran akan dapat benar-benar terwujud, dan diperadaban itulah manusia akan menjadi manusia utuh yang sempurna.

Referensi:

  1. Hasan al Banna, Risalah Pergerakan 2, Risalah Jihad.
  2. Hasan Al Banna, Tisalah pergerakan 1. Pergolakan sosial
  3. Muhammad Siddiq Al-Jawi, Artikel Jum’at Review
  4. Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhamul Islam (2001)
  5. Abdul Qadim Zallum, Al Hamlah al Amirikiyah li Al Qadha` ‘ala Al Islam (1996)
  6. (Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, 2001).
  7. www.wikipedia.co.id

18 Juni 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: