Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Refleksi DM

Oleh : Zaki Permana

Ada sebuah pertanyaan menarik yang nampaknya peru kita fikir dan renungkan bersama, baik secara jama’ah maupun individu, yaitu, apa makna Daurah Marhalah 1 untuk kita, apakah di dalamnya ada sebuah momentum yang mengantarkan kita pada “ke-norak-an” berfikir, ataukah di dalamnya muncul sebuah “ke-jaim-an” personal yang kolektif.

Norak adalah  sebuah bahasa yang tentunya kita semua sudah mengetahuinya dengan pasti, akan tetapi belum semua dari kita menyadari bahwa ternyata ‘norak’ adalah sebuah sifat fitrah manusia yang sejak lahir telah Allah tetapkan berada dalam diri kita. Manusia sebagai makhluk norak akan memunculkan ke-norak-annya ketika dihadapkan pada sesuatu yang baru, ambilah contoh, seorang yang belum pernah melihat laptop akan sangat norak ketika dia diberikan laptop untuk pertama kalinya, begitu juga orang yang baru pertama kali melihat gedug-gedung tinggi megah, bahkan Imam Samudra atau Abdul Aziz sang terpidana mati kasus bom Bali 1 pun menari-nari kegirangan dengan norak ketika baru pertama kali mendapati salju turun ketika ia sedang berjihad di pegunungan Khost-Afganistan.

Begitu pula dengan kita yang mungkin baru mendapat hal baru dari daurah marhalah 1, tentang Tauhid, tentang syumuliatul islam, tentang problematika umat, tentang kepedulian, dan tentang peran sosial mahasiswa terhadap bangsanya, Itu semua untuk beberapa diantara kita menjadi sebuah hal baru yang akhirnya menimbulkan sikap norak yang kadang melahirkan efek perbuatan yang berlebihan. Berlebihan dalam menyikapi diri kita, dan berlebihan dalam menyikapi apa yang orang lain lakukan, sehingga tidak jarang menimbulkan sebuah rasa bahwa dirinya berada di atas kebenaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan sahabat kita yang lain, bahkan tidak jarang sikap berlebihan dalam menyikapi diri sendiripun bermunculan. Kita lupa bahwasanya ada sebuah proses yang seharusnya melingkupi diri kita dan juga orang lain untuk menjadi lebih baik, lupa bahwasanya dakwah ini tidak dibangun dengan sulap akan tetapi dengan perjuangan yang tidak pendek waktunya.

Masa awal inilah yang kemudian disebut sebagai masa yang penuh dengan letupan keimanan, letupan adalah sebuah hasil dari gejolak yang membumbung lebih tinggi dari sesuatu disekitarnya, akan tetapi lejitan yang lebih tinggi itu tidak bertahan lama bahkan satu detikpun tidak. Letupan-letupan ini akan kemudian muncul sebagai semburan yang abadi ketika kesadaran dan kedewasaan berfikir telah ada dalam diri kita, dan yang perlu kita ingat adalah bahwa kedewasaan itu tidak terkait dengan usia, boleh jadi kita yang lebih muda jauh lebih dewasa dan tidak norak dibandingkan dengan mereka yang jauh lebih tua. Kita yang lebih muda jauh lebih dapat menerima kebenaran dibanding dengan mereka yang lebih tua dan merasa telah mendapatkan sekian banyak pengalaman dilapangan, padahal kita semua telah paham bahwa Rosulullah bukanlah orang tua, rosulullah Muhammad ketika diangkat sebagai rosul adalah ketika ia berumur 40 tahun, jika seandainya kedewasaan dan kematangan itu terkait dengan usia maka tentunya yang diangkat menjadi rosul usianya adalah yang paling dituakan, mungkin abdul mutholib atau pendeta bahiroh yang nasrani itu. Namun Allah adalah maha tahu dan maha bijaksana, dan karena Allah maha bijaksana itulah akhirnya yang diangkat sebagai rosul adalah seorang pemuda, seseorang yang secara pemikiran masih tajam dan dinamis serta masih terbuka dengan bermacam inovasi-inovasi untuk membangun sebuah tawaran peradaban baru, peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, peradaban suci yang kelak akan mensejahterakan bumi ini.

Masa-masa letupan keimanan tersebut kelak akan memiliki dua buah jalur Out Put, jalur yang pertama adalah jalur berbelok, beberapa kawan kita yang memilih jalur ini adalah para mujahid yang telah kehilangan lenteranya di saat gelap datang, mereka tidak lagi sabar menunggu pagi agar mereka dapat menyaksikan keindahan sang fajar, mereka lelah menunggu, mereka kedinginan oleh malam pekat, mereka takut akan gelap, mereka adalah orang-orang yang menyerah terhadap rayuan zaman. Mereka lebih memilih menghindar dari jalan dakwah atau terlanjur memilih jalan yang lain yang membuat mereka merasa nyaman, karena memang tabiat dakwah seringkali membuat kita merasa tidak nyaman, saya tidak akan pernah membuat istilah bahwa mereka yang telah menghilang dari jalan ini adalah orang-oarang yang terlempar, karena mereka bukan terlempar akan tetapi mereka memilih untuk pergi atas dasar kesadaran mereka. Memang ini adalah sebuah proses yang mungkin selalu ada di setiap zaman perjuangan, namun bagi kami yang di tinggalkan tetap saja itu menggoreskan luka menganga yang tak bisa sembuh kecuali dengan kembalinya sang jundi, kecuali dengan munculnya kembali saudara kami yang telah pergi mengembara, menyelami indah dan semunya dunia.

Kemudian out-put yang kedua adalah mereka yang bertahan dan menjadi matang dalam dakwah, ia menjadi singa-singa yang siap sedia untuk mengorbankan dirinya dijalan dakwah, mereka adalah orang-orang yang lebih mengutamakan saudaranya dari pada sekedar keegoisan diri semata, mereka adalah orang-orang yang ringan langkah kakinya dikarenakan kejelasan tujuan mereka, mereka adalah para pemikir yang luas pengetahuannya, mereka adalah para pekerja yang tangguh ketahanannya, mereka adalah para politisi ulung bermental perindu syurga. Karya mereka jelas, kontribusi mereka luas, dan kesholihan mereka membekas dalam tiap-tiap generasi, itulah orang-orang unggul yang pantas untuk dikenang.

Dan bagi kita yang sekarang ini sedang menjalani sebuah masa perjuangan ditangah dahsyatnya benturan-benturan antar peradaban, maka jelaslah tidak layak bagi kita untuk terus meratapi kehidupan, karena kehidupan bukan untuk diratapi akan tetapi dihadapi dengan dada yang membusung. Kita adalah sebuah anak panah yang akan meluncur deras menembus angin sang pembawa berita kemenangan, kita adalah sebuah batu bata yang akan memperkokoh bangunan dakwah secara global, kita adalah para guru diantara sejuta guru yang menjadi gambaran real dari Ustadziyatul ‘Alam. Karena kita adalah bagian dari Rahmatanlil’Alamin, maka tetapkanlah visi besar untuk berkontribusi positif dan ingatlah bahwa tidak cukup hanya sekedar kampus, tidak cukup hanya sekedar Indonesia, karena Islam menuntut Bumi.

Sekian banyak masalah yang kita hadapi bersama di dalam tubuh kita haruslah menjadi cebuah cemeti yang selalu membuat kita bangkit, bukan sebuah batu penghalang yang justru membuat kita sibuk memikirkannya, ingatlah ketika Khalid Bin Walid menyampaikan khutbah pada pasukannya saat perang untuk membebaskan Andalusia, kaum muslimin saat itu berhadapan dengan pasukan Romawi yang berjumlah 240.000 orang sedang pasukan muslimin hanya berjumlah 75.000 saja. Itu artinya setiap satu orang dari pasukan kaum muslimin harus menghadapi 32 orang. Khalid mengatakan, “ wahai kaum muslimin, hendaklah kalian tidak usah disibukan dengan menghitung jumlah pasukan Romawi, sibukanlah diri kalian dengan memenggal leher pasukan Romawi” maka hendaklah kita disibukan dengan kontribusi apa yang akan kita hasilkan, bukan dengan menghitung kelemahan dan minimnya sarana yang kita miliki, karena itu semua tidaklah begitu penting, karena itu semua tidaklah begitu berharga dibandingkan dengan pertolongan Allah, dan ingatlah Allah hanya akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya. Dan jadikanlah dirikita sebagai penolong AgamaNya.

Menjadilah satu sebagai sebuah kepaduan yang akan merobek-robek kedzoliman hingga ia sirna, menjadi padulah untuk memberi, menjadi padulah untuk menguatkan diri, dan menjadi padulah hingga tegak kalimat illahi atau hingga kematian menjemput diri. Ingatlah bahwa yang membedakan kita dengan mereka yang meninggalkan dakwah ini adalah kita sudi untuk sekedar tinggal lebih lama dalam ketidak nyamanan di banding mereka. Ingatlah ikrar kita di Daurah Marhalah dulu, tanamkan dalam qolbu, al-quwatul azzam untuk menapaki jalan terjal ini. Jadilah umat terbaik, jayalah kader-kader 2006 Universitas Negeri Yogyakarta.

18 Juni 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: