Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

GERAKAN MAHASISWA, ANTARA IDEALISME DAN RELITA

DSC05174

Oleh: Zaki Permana

Ada tiga hal yang seharusnya menjadi titik perhatian utama pemerintah dalam melaksanakan program-programnya, yaitu pemerintah harus melindungi, mensejahterakan, dan mencerdasakan rakyatnya. Ketiga hal tersebut sejalan dengan amanat konstitusi kita yang tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Berangkat dari pemikiran itulah kemudian gerakan mahasiswa mewakafkan dirinya untuk terus mengawal laju kinerja pemerintah agar tetap berorientasi pada rakyat secara keseluruhan.

Maka, adalah sebuah kewajaran jika pada akhirnya mahasiswa menjadi tidak percaya lagi dengan kinerja pemerintah Indonesia, meskipun secara teoretis ada juga program-program kerja pemerintah yang terkesan memihak rakyat kecil, jika pada akhirnya masih saja  terlalu banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang kembali membuat rakyat dan mahasiswa kecewa. Kekecewaan itu, dalam hemat penulis, semakin bertambah ketika menyaksikan pemerintah selalu saja disibukan dengan perkara-perkara penampilan dan citra, bukan masalah-masalah esensial bangsa ini. Seolah menganggap bahwa baju lebih penting ketimbang apa yang ada disebaliknya.

Seperti sebuah adagium yang menyebut bahwa setiap zaman memiliki sejarah dan masalahnya sendiri, hal demikian juga berlaku dalam gerakan mahsiswa. Dahulu mahasiswa mengerti dengan jelas siapa yang akan mereka tembak, namun mungkin kebingungan bagaimana cara untuk melakukannya. Maka sekarang ini gerakan mahasiswa mengalami sebuah kebingungan yang sedikit berbeda. Sekarang mahasiswa dapat merancang sebuah sistematika gerakan yang mungkin lebih sistematis dari mahasiswa terdahulu, namun mahasiswa kebingungan apa dan siapa yang akan di tembak, karena memang terlalu banyak penyakit yang menggerogoti bangsa ini. Bukan hanya orang nomer satu di Indonesia seperti tahun 1966 dan tahun 1998, namun sekarang ini penyakit bangsa telah parah menjangkiti dari mulai eksekutif, legislatif, hingga yudikatif secara kronis bahkan hingga skala desa. Sebagai mana DPR yang ngotot meminta disahkanya kebijakan-kebijakan pemborosan dan jelas tidak efisien demi kepentingan pribadi mereka. Dan tentu saja untuk menyelesaikan kompleksitas permasalahan bangsa yang sedemikian besar tidaklah cukup hanya dengan menggunakan kekuatan mahasiswa, akan tetapi jelas dibutuhkan pula kepaduan dari masyarakat dan mahsiswa untuk bersama membangun bangsa dan menghabisi ketidak adilan dan kebijakan-kebijakan sakit yang jelas anti rakyat dari pemerintah. Namun harapan menjadi kendur ketika mahasiswa melihat kondisi rakyat  Indonesia yang terus-terusan ditekan untuk bersabar dalam kemiskinannya dengan kebodohan yang dipelihara oleh pemerintah, sehingga, menurut penulis wajar saja jika kemudian hanya suara-suara pesimistis yang keluar dari mulut-mulut lapar masyarakat alih-alihsebuah gerakan marah yang menuntut perbaikan bangsa secara cepat. Dan jika sudah demikian maka rezimlah yang bertepuk tangan menyatakan kemenangan dan dominasinya secara membabi-buta.

Dengan kesadaran tersebut sudah seharusnyalah jika mahasiswa mulai mewacanakan untuk mulai menata ulang gerakan mahasiswa, dari sebuah gerakan yang selalu strukturalis, yaitu gerakan yang selalu berpikir perbaikan bangsa dapat terjadi dengan menyerang struktur pemerintahan yang ada, menjadi gerakan yang juga  menyentuh masyarakat, akan tetapi hal ini bukan berarti gerakan mahasiswa menjadi lupa dengan khitoh perjuangannya, mengkritisi dan mengevaluasi kinerja pemerintah untuk kemudian dilakukan langkah konkrit, baik berupa dukungan maupun serangan terhadap pemerintah (berupa aksi-aksi jalanan) haruslah tetap dipandang sebagai sebuah kewajiban mahasiswa sebagai kalangan intelektual bangsa ini. Dan memang penting bagi gerakan mahasiswa untuk tetap menjadi gerakan yang berpandangan strukturalis. Namun jika gerakan mahasiswa hanya terfokus pada hal-hal tersebut saja maka yang terjadi adalah munculnya pemisahan gerak antara mahasiswa dan rakyat, rakyat menjadi tak percaya dengan mahasiswa dan merasa bosan dengan pola gerakan mahasiswa yang hanya itu-itu saja. Karena kenyataan yang terjadi adalah, rakyat kelaparan dan dibodohkan. Ini adalah perkara mendesak yang harus segera diselesaikan dan tidak bisa ditunda-tunda, inilah yang kemudian tampaknya menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk juga menjadi gerakan-gerakan konkrit yang terjun langsung melakukan proses perbaikan untuk masyarakat dengan tangannya sendiri, walau memang harus diakui ketika mahasiswa mencoba terjun dalam wilayah ini maka pasti mahasiswa akan jelas mengalami banyak kendala karena mahasiswa adalah gerakan yang memang dapat dikatakan hanya bermodal tekad dan idealisme, artinya belum memiliki modal finansial yang memadai untuk menangani berbagai permasalahan kesejahteraan rakyat secara massif.

Dari kendala tersebutlah tampaknya gerakan mahasiswa perlu berkompromi dengan realita untuk bersedia menerima kucuran-kucuran modal dari pihak luar untuk kesejahteraan rakyat dengan batasan yang sangat ketat yang dirumuskan oleh gerakan mahasiswa sendiri demi keterjagaan orientasi, idealisme, independensi, dan cita-cita gerakan mahasiswa. Dan –menurut hemat penulis- bukan  menjadi ketabuan jika gerakan mahasiswa kemudian juga berusaha membantu pemerintah untuk memberikan hak rakyat dengan turut mengakses beberapa sumber-sumber dana yang dapat menjadi kunci-kunci perbaikan kesejahteraan rakyat, karena memang nampaknya menunaikan hak rakyat secara benar dan tepat sasaran merupakan hal besar buat pemerintah yang sangat sulit dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa: seperti kemiskinan misalnya. Karena gerakan mahasiswa adalah mitra rakyat, yang tergabung secara integral dalam tubuh rakyat.

Hanya saja memang sekali lagi wilayah semacam ini menjadi wilayah yang cukup riskan, karena diduga keras akan cukup bergesekan dengan wilayah idealisme gerakan, sehingga mahasiswa harus terus-terusan menjaga dirinya agar tidak terbawa arus sebagai mana beberapa aktivis mahasiswa angkatan tahun 1966 dahulu.

Hal ini perlu dilakukan karena jika—misalnya—ada sekian jumlah dana yang akan disalurkan untuk program-program pemberdayaan masyarakat dan mahasiswa sebagai elemen dengan idealisme tertinggi yang ada di negara ini tidak terlibat di dalamnya maka bukan sebuah hal aneh lagi  jika akhirnya muncul kekhawatiran bahwa dalam prosesnya terjadi penyimpangan-penyimpangan dan kebocoran yang mengakibatkan ketidakoptimalan program-program tersebut sebagaimana yang sering dan selalu terjadi pada program-program terdahulu. Ibarat ada sebuah parang yang dimaksudkan untuk kebaikan masyarakat namun dipegang oleh orang yang salah, maka yang terjadi justru sebaliknya, mudharat di mana-mana.

Perlu diingat, dengan mulai meraba wilayah tersebut bagi gerakan mahasiswa, bukan berarti gerakan mahasiswa kemudian menjadi gerakan yang lupa untuk selalu mencerdaskan masyarakat menuntut haknya, jangan sampai yang ada dalam benak rakyat, bahwa berteriak menuntut diturunkannya harga BBM adalah sebuah perilaku meminta-minta yang dilakukan rakyat terhadap pemerintah, melainkan usaha untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara, karena mensejahterakan rakyat adalah memang menjadi kewajiban untuk pemerintah dan disejahterakan adalah hak rakyat, sehingga jelaslah bahwa pemerintah yang sekarang ini belum menjadi pemerintah yang sebagaimana mestinya karena harus terus diingatkan akan tugas-tugasnya.

Dari sinilah  sangat rasional jika gerakan mahasiswa perlu memegang kendali di wilayah keterlibatannya dalam kesejahteraan rakyat, bukan hanya dalam wilayah elitisme gerak yang jauh dan tidak menyentuh rakyat secara langsung. Jika demikian maka gerakan transformatif juga akan menjadi ciri gerakan mahasiswa yang melekat dimata rakyat, disamping sebagai gerakan intelektual. Gerakan yang selalu memiliki dua mata pisau dalam setiap geraknya, mengingatkan pemerintah untuk berorientasi pada kesejahteraan rakyat dalam proses pengambilan kebijakannya dan mitra masyarakat untuk selalu sadar terhadap hak-haknya. Karena hanya dengan demikian gerakan mahasiswa menjadi gerakan yang tidak kerdil. Gerakan mahasiswa mesti terlibat dalam proses penyelamatan negeri ini, karena berharap pada pemerintah yang ada sekarang ini saja, bagai pungguk merindukan bulan.

19 Juni 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: