Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Globalisasi, Intelektual Profetik dan Rekayasa Sosial

Oleh: Zaki Permanalogo KAMMI Warna

 

 

Sesungguhnya, adakah keterkaitan antara tiga variabel di atas? Antara intelektual profetik, rekayasa sosial dan globalisasi? Apakah ketiganya saling mempengaruhi, ataukah ada hubungan tarik menarik? Lalu bagaimana peran intelektual profetik—baca: mahasiswa—dalam melakukan rekayasa sosial di tengah hantu globalisasi yang menakutkan bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia?

Sebelumnya, kita harus menganalisis lebih dalam tentang apa yang disebut globalisasi. Ancaman seserius apakah yang terkandung dalam kata ini? Juga bagaimana konstruksi globalisasi dalam bidang ekonomi, sosio-kultural, politik?

Hantu Globalisasi

Globalisasi, kata ini sering didengung-dengungkan, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam dunia ekonomi, kata globalisasi tersebut tercantum makna hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara di seluruh dunia dapat bergerak bebas dalam perdagangan. Tidak boleh ada lagi proteksi, ataupun monopoli. Dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Globalisasi sesunguhnya adalah tahap akhir dari kapitalisme yang sudah mengakar sedemikian kuat dalam tradisi masyarakat dunia. Sejak digulirkannya dalam borjuasi tempo doeloe.

Yusuf Qaradhawy menganalisis bahwa globalisasi, yang kini telah bergulir, diciptakan dan dipromosikan oleh Amerika. Di Timur dan Barat, semua orang memperbincagkan segala hal yang berasal dari Amerika, baik berupa produk teknologi maupun pemikira. Globalisasi adalah imperialisme lama dengan wajah baru. Ia direkayasa demi kepentingan negara-negara kuat melawan negara-negara lemah[1].

Hegemoni Amerika dalam dunia hiburan dan pembentukan budaya global, dapat dikatakan sebagai satu bentuk “American Cultural Imperialism”. Industri film Amerika dan berbagai stasiun TV-nya mendominasi pembentukan budaya global. Dan dibalik itu semua adalah mempromosikan kepentingan-kepentingan Amerika dengan mengekspor modernitas dan mempropagandakan konsumerisme.

Globalisasi adalah satu masyarakat post-kapitalis yang mendorong kapitalisme dengan mempromosikan sejumlah karakteristik dari kapitalisme. Sebagaimana dikatakan Holton: “Americanization thesis is that it is capitalism rather than Americanization that is becoming globalized.”

Itulah yang sebenarnya sedang menimpa umat manusia di seluruh pelosok dunia, Sebuah proses imperialisme budaya yang dilakukan budaya Barat, yang akhirnya juga tidak lepas dari kepentingan (interests) dari negara-negara kuat. Dalam bukunya, Ideologies of Globalization: Contending visions of a New World Order, Mark Rupert menulis satu bab berjudul “The Hegemonic Project of Liberal Globalization”. Ia mencatat, bahwa globalisasi adalah proyek politik dari kekuatan sosial dominan dan akan selalu problematis dan mendapat tentangan: “There is no reason to believe that liberal globalization is ineluctable… it has been the political project of an identifiable constellation of dominant social forces and it has been, and continues to be, politically problematic and contestable.”

Berbagai kajian tentang fenomena globalisasi telah banyak diungkapkan. Namun, kuatnya arus konsumerisme, hedonisme, dan ‘narkotikisme’ yang dijejalkan kepada masyarakat dunia melalui berbagai acara-acara hiburan, memang sulit dibendung. Sihir-sihir dunia showbiz begitu menawan dan menyapu akal sehat. Manusia terus dijejali cara berpikir pragmatis dan hedonis, untuk melahap apa saja, menikmati hidup, tanpa peduli apakah cara yang dilakukannya menghancurkan nilai-nilai akhlak dan agama. Jika liberalisasi di bidang moral sudah berlangsung, maka sebagian kalangan akan mencoba-coba mencari legitimasi dari agama, sebagaimana dalam kasus homoseksual di Barat.[2]

Ilmu Sosial Profetik

Istilah ini, harus kita ambil dalam konteks historisnya. Pertama kali didengungkan oleh Kuntowijoyo dengan gagasan Ilmu Sosial Profetik-nya. Pak Kunto sendiri baru melontarkan gagasan ISP-nya melalui sebuah artikel beruntun dalam Harian Republika pada tanggal 7-9 Agustus 1997, dengan judul “Menuju Ilmu Sosial Profetik”. Tapi, embrio dari wacana ISP yang digagas Pak Kunto ini sebenarnya pernah mencuat lama sekali dalam buku magnum opus-nya, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991). Yang menarik dalam gagasan Pak Kunto adalah beliau memandang bahwa sesungguhnya substansi ajaran universal agama (profetika—sebagai adjective dari agama) bisa menjadi ilmiah dan dipakai sebagai pisau analisa dan paradigma keilmuan apabila memulainya melalui proses “obyektivikasi” berserta ilmu-ilmu modern lainnya. Dalam profetika terjadi “melampaui teologi” (beyond theological) dan bernuansa transformatif dalam ranah keilmuan yang obyektif, tidak lagi bernuansa normatif, melulu persoalan teologis. Penamaan dengan “ilmu sosial” akan lebih efektif dibandingkan dengan “teologi sosial”. Makanya, Pak Kunto tidak sepakat dengan penamaan “Teologi Islam Transformatif”. Ia berbeda pendapat dengan Dawam Rahardjo dan Moeslim Abdurrahman.

Apa sih yang digagas Pak Kunto melalui ISP-nya? Beliau memandang bahwa paradigma yang dipakai dalam ilmu-ilmu sosial selama ini tidak efektif karena tidak ada muatan transformatif keilmuannya. Sebuah ilmu (sosial) hanya bersikap diam dan observatif ketika diperhadapkan dengan realitas obyek penelitiannya.  Prinsip-prinsip yang dibangun dalam paradigma Ilmu Sosial Profetik berangkat dari penterjemahan secara ilmiah terhadap bunyi sebuah teks ayat Al-Qur’an, yang berbunyi: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron, 3 : 110). Ada beberapa term filosofis yang terkandung pada ayat ini, yaitu “masyarakat utama” (khairu ummah), “kesadaran sejarah” (ukhrijat linnas), “liberasi” (amr ma’ruf), “emansipasi” (nahy munkar), dan “transendensi” (al-iman billah). Adalah “keberanian” Pak Kunto yang telah mampu menterjemahkan proposisi pada makna teks ayat disesuaikan dengan konteks keilmiahan.

Perlu dicatat, tujuan ISP adalah ingin membangun sebuah komunitas atau masyarakat yang ideal atau utama (khairu ummah)—mirip dengan “Negara Utama”-nya Al-Farabi (al-Madinah al-Fadhilah).  Untuk mencapai tujuan itu diperlukan kerja aktif tangan-tangan manusia, atau istilahnya perlu “kesadaran aktif sejarah” umat manusia. Manusia telah diberikan kekuatan dan kemauan untuk melangkah ke arah yang lebih baik dengan kesadaran individual dan kolektifnya dalam membentuk sebuah komunitas ideal. Manusia diturunkan ke muka bumi (ukhrijat linnas) adalah demi keterlibatan aktif mereka untuk melakukan perubahan sosial dan membentuk peradaban yang menjadi miliknya.

Berangkat dari pemikiran siapakah pemikiran Pak Kunto dalam ISP ini?  Beliau mengklaim bahwa asal-usul pikiran tentang Ilmu Sosial Profetik dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Muhammad Iqbal dan Roger Geraudy. Yang ingin diambil oleh beliau dari kedua pemikir itu adalah sisi “realitas kenabian” (prophetic reality) yang telah menjadi bagian penting dalam proses kesejarahan umat manusia. Muhammad Iqbal, dengan mengutip ucapan Abdul Quddus, seorang sufi besar Islam dari Ganggoh, mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah memberikan “kesadaran kreatif” (creative consciousness) dalam menciptakan suatu dunia ide baru (Islam) dalam menghadapi kekuatan-kekuatan sejarah. Berbeda dengan kalangan sufi umumnya yang lebih mengandung dimensi mistis, sedang kemunculan Nabi di muka bumi telah memasukkan unsur-unsur kenabian yang menancap dalam akar kehidupan duniawi. Artinya, realitas “perjuangan” Nabi lebih membumi dan masuk pada kancah zaman dan pergolakan sejarah manusia.[3]

Roger Geraudy menyatakan bawah di tengah hancurnya peradaban umat manusia di mana filsafat Barat memiliki banyak kelemahan maka kita sebaiknya menghidupkan kembali warisan Islam yang telah ada. Yang diambil adalah “filsafat kenabian” (filsafat profetika) dari Islam. Kenapa? Karena, yang menjadi pertanyaan sentral dalam filsafat Islam adalah: bagaimana wahyu (kenabian) itu mungkin? Yaitu, bagaimana keterlibatan aktif sejarah kenabian dalam proses penyampaian wahyu itu telah mampu mengubah sejarah masyarakat menjadi positif. Geraudy mengklaim bahwa bangunan filsafat itu telah dilakukan oleh para filosof Muslim sejak dari Al-Farabi sampai dengan Mulla Shadra, dengan puncaknya pada Ibn ‘Arabi.[4]

Gagasan ISP Kuntowijoyo tersebut terlihat berangkat dari “ide”, yaitu bagaimana ada sisi memungkinkan bagi pemikiran tentang kenabian itu bisa digunakan dalam melihat realitas. Tentu saja, hal ini meniadakan prinsip ilmu sosial yang bebas nilai. Ilmu sosial, dengan paradigma profetis, harus melakukan pembebasan seperti apa yang pernah dilakukan oleh para Nabi. Jika kita perhatikan, sejarah Nabi-nabi itu memiliki kadar kedalamaan ilmiah yang tinggi, yaitu bagaimana cara kerja pikir dan sikap mereka dalam memahami realitas. Para Nabi melakukan “pembebasan sosial” (liberating) di mana ketidakadilan dan penindasan begitu menghantui kehidupan masyarakat. Mereka tetap berangkat dari substansi ajaran agama (transedensi) yang itu harus “diaktivasi” dalam realitas kesejarahan manusia.

Ada tiga unsur yang menjadi bagian dari kerangka kerja ilmiah dalam memahami realitas, yaitu liberasi, emansipasi, dan transendensi. Ketiga unsur itu harus digerakkan dalam aktivisme sejarah. Tapi, gagasan mengenai sosiologi profetik yang akan dikaji dalam tulisan ini baru beranjak dari upaya mengembangkan ilmu sosiologi yang multi-disiplin, tidak menafikan adanya kepentingan “nilai” (prophetic as a value), dan berkewajiban untuk melakukan pembebasan dan perubahan sosial.[5]

Terlahir untuk Membebaskan

Menurut Edward Said dan Ali Syari’ati, untuk mengukur apakah seseorang itu masuk kategori intelektual atau bukan dengan mudah dapat dilihat pada peran dan kesadarannya untuk menyampaikan sebuah kebenaran[6]. Tujuan intelektualitas menurut Edward Said adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Ia hendaknya tidak menerima sebuah kebenaran sebagai sebuah kepastian yang tidak perlu dikritisi dan ditafsir ulang.

Dalam konteks intelektual muslim, ada pendapat yang kurang lebih sama dalam menyoroti peran Intelektual Muslim oleh Muslim Abdurrahman dengan istilah Ulama Organik[7]. Sorotan sejenis juga dilontarkan oleh Kuntowijoyo[8] Kuntowijoyo menyatakan bahwa Intelektual Islam (cendekiawan) harus menjalani misi profetik (kenabian) seorang Muhammad SAW yang walaupun telah mi’raj beliau masih mau untuk turun ke bumi, memikirkan ummatnya.

Dalam pengertian lain, sebuah pencapaian derajat kemanusiaan dalam bentuk karunia menghadap “wajah” Allah, seorang Muhammad SAW masih memikirkan kebobrokan ummatnya dan turun ke bumi melakukan revolusi dalam realita kemanusiaan. Sehingga seorang intelektual setelah mencapai derajat ulil albab yang seakan “tahu banyak hal” bertanggungjawab merealisasikan konsep-konsep yang dia tahu dalam realita kemanusiaan. Disinilah kemudian timbul persoalan tentang bentuk pemihakan seperti apa yang harus dilakukan seorang Cendekiwan atau Intelektual atau lebih khusus (dan lebih pasti) oleh seorang Ulil Albab ?

Kuntowijoyo[9] menyatakan bersama penegakkan tauhid harus ada pemihakan terhadap dua golongan, yaitu mustadh’afien dan dhu’afa wal masakin. Dalam konsepsi tersebut, mustadh’afien adalah orang lemah (an-Nisa’: 75) [10] atau orang yang tertindas (teraniaya) dari sisi sosial-politik (struktural). Sedangkan konsep dhu’afa wal masakin adalah konsep orang lemah yang tertindas dari sisi ekonomi. Pada uraiannya Kuntowijoyo membedakan konsep pemihakan “Islami” ini  dengan konsep pemihakan Marxis. Dimana seseorang yang tertindas dalam konsep Islam bukanlah harus orang yang miskin, namun orang kaya bisa menjadi orang yang teraniaya bila hartanya dirampok, misalnya. Disinilah Islam tidak mengajarkan model Robin Hood untuk melakukan pemerataan.

Dalam titik ini, konsep pemihakan Islami akan diametral dengan pemihakan terhadap kaum proletar dalam tradisi Marxisme. Kaum marxis memandang gejala sosial secara generalis. Miskin adalah proletar, kaya adalah borjuis. Maka perombakan sistem secara radikal—dengan revolusi dan tumbal darah rakyat—adalah sebuah kemestian perjuangan.

Konsep Intelektual Profetik KAMMI

Makna intelektual profetis adalah adalah kaum intelektual yang memiliki misi kenabian. Ilmu yang diperolehnya ditransformasikan dalam realitas sosial dengan spirit ilahiah. Dalam konteks ini, terjadi kolaborasi dunia “langit” dan dunia “bumi.” Langit adalah simbol spiritual, sedangkan bumi simbol keduniaan, kefanaan.

Perjalanan sejarah KAMMI menuntut harakah thulabiyah ini memodifikasi arah geraknya dan memberi titik tekan pada gerakan intelektual—tentunya dengan konsepsi yang jelas dan baku. Dalam Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI yang dirumuskan pada Muktamar IV Samarinda, dirumuskan:

  1. a. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal.
  2. b. Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal
  3. c. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik. [GBHO KAMMI Bab VI Pasal 7 Ayat 2]

Iman sebagai landasan gerak dan pengendali jelajah akal. Dan humanisme universal adalah prinsip yang wajib dipegang. Di sini kita tidak sedang membayangkan intelektual sebagaimana Ulil Abshar yang menuai vonis mati dari para ulama, kita juga tidak sedang membayangkan Mu’tazilah yang dalam sejarah memberlakukan al-mihnah kepada Imam Ahmad dan ulama lain.

Gerakan Mahasiswa dan Globalisasi

Dalam konteks global, dunia internasional pun ikut mempengaruhi sikap GM terlebih menyikapi Barat yang, pertama, memproduksi terorisme sebagai industri multinasionalnya yang berhasil mencitrakan Islam negatif dan menggiring opini publik untuk memusuhi dunia Islam secara politik, hukum, HAM, budaya, sosial, ekonomi, militer hingga epistemologi keilmuan. Kedua, peran globalisasi di berbagai aspeknya yang mengakibatkan generasi bangsa ini hidup di bawah bayang-bayang budaya Barat, untuk kemudian menghancurkan karakter asli negeri zamrud khatulistiwa ini yang fondasinya telah dibangun para Ulama. Ketiga, perkembangan dua ideologi besar dunia (kapitalisme dan sosialisme atau kiri dan kanan) tidak lagi cocok diterapkan di Indonesia. Ideologi materialistik tersebut terkikis dengan menguatnya idealogi yang lebih spiritual dan komprehensif. Di Asia Tenggara mungkin masih dikembangkan terutama sosialisme, padahal di Amerika sendiri formasi ideologi tersebut sudah sulit dipertahankan sekalipun dengan warna baru, new left.

Sebagai gerakan yang mencanangkan dirinya menjadi komunitas pemuda internasional, KAMMI perlu mempertimbangkan delapan Megatrend Asia yang dirumuskan John Naisbitt (1997) atau Renaisance Asia-nya Anwar Ibrahim (1995) atau Clash of Civillization-nya Huntington (1993). Walau data-data itu jauh berbeda pasca kehancuran WTC 11 September 2001 lalu, tapi dalam konteks gerakan mahasiswa kecendrungan global satu dasawarsa lalu bukan berarti tidak mengakar lagi. Namun justru itu aras kekuatan yang dipantau berbasis riset tersebut menandakan bahwa hal itu merupakan arus kekuatan yang tidak sekedar menjadi data yang harus diperhatikan dan diantisipasi melainkan juga—bagi GM dapat—menjadi program untuk menciptakan budaya tanding agar GM menyetting dirinya dalam setting global[11].

Rekayasa Perubahan Sosial

Menghadapi fenomena globalisasi tersebut, perlu dilakukan sebuah tindakan, yaitu rekayasa perubahan sosial. Didefinisikan sebagai sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat. Perubahan sosial adalah perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi sebelumnya terhadap aspek-aspek dari struktur sosial. Perubahan sosial setidaknya dapat terkait pada beberapa hal sebagai berikut:

a     Perkembangan teknologi

a     Konflik sosial (antar ras, agama dan kelas—sebagaimana tesis Marx)

a     Kebutuhan adaptasi dengan sistem sosial (misal: birokrasi efektif sebagai respon terhadap lingkungan kompetitif.)

a     Pengaruh dari idealisme dan ideologi pada aktivitas sosial (sebagaimana tesis Weber: etika Protestan dan semangat kapitalisme).

Selain itu, dalam disiplin sosiologi, terdapat dua pandangan tentang perubahan (change), yaitu:

  • Pandangan materialistik, yang meyakini bahwa tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi atau benda. Marx menyatakan bahwa kincir angin menimbulkan masyarakat feodal; mesin uap menciptakan masyarakat kapitalis-industri. Atau mungkin kita bisa mengatakan bahwa internet akan menimbulkan masyarakat informasi, dst.
  • Pandangan idealistik, yang menekankan peranan ide, ideologi[12] atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Dalam pandangan ini, misalnya, Islam sebagai sebuah ideologi dan struktur nilai akan mampu mencipta manusia dan masyarakat ideal.

Bentuk dan Teori Perubahan Sosial

Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial: evolusi, revolusi dan reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang memakan waktu lama. Proses perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di tingkat elite saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit penguasa. Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim penguasa pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.

Perubahan model ini, biasanya, kurang populer di Dunia Ketiga (the Third World), yang mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau terkenal untuk evolusi, karena semua ditentukan dalam kendali penguasa. Elite penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam perumusan persoalan yang ada, dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.

Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di kalangan gerakan sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai prasyarat dari proses yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang dilakukan. Hasil dari cara ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada perubahan politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.

Revolusi Islam[13] sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah pernah diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini (1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser (1952) dan beberapa negara Arab lainnya, baik memenuhi standar teori Barat maupun tidak.

Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang gradual dan parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Reformasi merupakan bentuk kompromi antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal yang dianggap menyimpang), telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak zaman Renaissance abad ke-15 Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther King, yang menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas Hobbes tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga pemikiran demokrasi modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas pemimpin untuk menjalankan demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan ditangan rakyat, namun juga desakralisasi pemimpin yang dibatasi aturan konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki hak atas mandat pemimpinnya.[14]

Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku korup dan manipulatif, sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti dari rakyat untuk melakukan perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan dengan Up-rising in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan penggulingan $oeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi yang berdampak pada penyelenggaraan negara.

Strategi Perubahan Sosial Islam

Jika bentuk dan teori perubahan sosial sudah kita ketahui, maka dalam konteks ini, konsep perubahan sosial menurut Islam seperti apa? Atau, perubahan sosial masyarakat yang islami seperti apa? Evolusi, revolusi ataukah reformasi? Sesungguhnya, hal yang paling utama dan harus dipikirkan adalah apakah proses perubahan itu berada dalam bingkai nilai-nilai Islam.

Ini berarti, cepat atau lambat bukan sebuah soal dalam cara pandang Islam. Dengan meletakkan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia (mardhâtillah), Islam telah dilengkapi dengan standar moral yang tertinggi. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi perkembangan moral dan etik manusia dalam komunitas kolektifnya. Secara garis besar, tahapan perubahan sosial masyarakat Islam adalah sebagai berikut:

  1. mewujudkan pribadi muslim yang diridhai Allah (bina’ al-fardli al-muslim), yaitu pribadi muslim yang paripurna, yang penuh moralitas iman, Islam, taqwa dan ihsan. [al-Baqarah: 177]
  2. mewujudkan rumah tangga dan keluarga Islami (bina’ al-usrah al-islamiyah) yang diridhai Allah, yaitu rumah tangga yang sakinah diliputi mawaddah serta rahmah anugerah ilahi. [ar-Ruum: 21]
  3. mewujudkan masyarakat dan lingkungan islami (bina’ al-ijtima’i al-islamiyyah) yang marhamah, yaitu lingkungan yang kondusif dan layak menerima berkah Allah karena warganya yang beriman dan bertaqwa. [al-A’raf: 96]
  4. mewujudkan negara (bina’ daulat al-islamiyyah) yang diridhai Allah yaitu baldat yang thayyibah dan diliputi maghfirah Allah. [Saba’: 15]
  5. mewujudkan peradaban dunia yang diridhai Allah dengan kepemimpinan Islam atas alam (ustadziyat al-‘alam), yaitu dunia yang hasanah dan berkesinambungan dengan akhirat yang hasanah. [al-Baqarah: 201]

Anasir Perjuangan KAMMI

Sebagai sebuah organ gerakan mahasiswa, KAMMI menempatkan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Islam—sebagai sebuah jama’ah besar di muka bumi dengan ikatan aqidah sebagai kunci. Karena itu, strategi perubahan sosial yang direncanakan KAMMI tidak akan berbeda jauh dengan strategi di atas sebagai kerangka besar. Selanjutnya, dalam tingkatan praksis, KAMMI telah melakukan pembacaan komprehensif berkaitan dengan anasir perjuangan KAMMI[15]

Agar dakwah dapat tumbuh secara berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada orientasi yang benar, mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya, maka KAMMI menyusun dirinya atas unsur-unsur sebagai berikut:

  1. qo’idah ijtima’iyah (basis sosial), yaitu lapisan masyarakat yang simpati dan mendukung perjuangan KAMMI yang meliputi masyarakat umum, mahasiswa, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh, dan lain sebagainya.
  2. qo’idah harokiyah (basis operasional), yaitu lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
  3. qo’idah fikriyah (basis konsep), yaitu kader pemimpin, yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.
  4. qo’idah siyasiyah (basis kebijakan), yaitu kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.

Keempat unsur tersebut merupakan piramida yang seimbang, harmonis dan kokoh, yang menjamin keberlangsungan gerakan KAMMI.

Khatimah

Perubahan sosial adalah sebuah proses panjang. Penyiapan struktur dan rekonstruksi kultural masyarakat memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang tidak sedikit. Posisi KAMMI dalam masyarakat sebagai garda depan perubahan menuntut adanya akselerasi kaderisasi. Ke depan, kader—yang dibesarkan oleh—KAMMI, akan menduduki posisi penting dalam struktur masyarakat. Mereka akan menjadi pioneer dalam proses perubahan masyarakat.

Di wilayah inilah, KAMMI menggebrak dengan Gerakan Intelektual Profetik yaitu gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.[16] Intelektual profetik adalah proses membangun kesadaran, membentuk paradigma dan menggerakkan secara massif dan organik. []

Rekayasa Sosial Seperti Apa Yang Akan Dilakukan oleh KAMMI ? Mari jawab bersama.


[1] Dr. Yusuf Qardhawi, Umat Islam Menyongsong Abad ke-21(Solo: Era Intermedia)

[2] Adian Husaini, “Sihir Idol” CAP ke-67 dalam situs http://www.hidayatullah.com, Senin, 30 Agustus 2004.

[3] Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, terj. Goenawan Muhammad dkk, (Tintamas: Djakarta, 1966), hlm. 123.

[4] Roger Geraudy, Janji-janji Islam, terj. HM. Rasyidi, (Bulan Bintang: Jakarta, 1984), cet. II, hlm. 109-34.

[5] Happy Susanto, “Menggagas “Sosiologi Profetik” : Sebuah Catatan Awal”, dalam Jurnal Pemikiran Islam International Institute of Islamic Thought Indonesia, Vol.1, No. 2, Juni 2003.

[6] Ahmad Fuad Fanani, “Membangun Tradisi Intelektualitas Mahasiswa”, dalam Majalah Pelopor IMM Korkom UAD edisi 5 tahun I April 2003.

[7] Muslim Abdurrohman, Islam sebagai Kritik Sosial, (Jakarta: Erlangga, 2003).

[8] Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, (Yogyakarta: Salahuddin Press, 1994).

[9] Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996).

[10] Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

[11] Rijalul Imam, KAMMI di Era Reformasi Jilid II, un-published paper.

[12] Ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Lihat dalam Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius, 1992).

[13] Secara bahasa, terdapat dua kata dalam bahasa Arab untuk merujukkan dengan kata revolusi. Pertama, adalah al-tsaurah yang dimaknai sebagai “rangsangan, dorongan, provokasi dan gelora”. Kedua, al-inqilab yang berarti “terbalik, kembali dan jungkir balik”. Jika digabungkan maka, secara istilah, revolusi (al-tsaurah) dimaknai dengan “peristiwa sosial yang dahsyat, menggelorakan perasaan, menjungkirbalikkan tatanan nilai dan lembaga sosial.” Lihat dalam Jalaludin Rahmat, Rekayasa Sosial (Bandung: Rosda Karya).

[14] Yuddy Chrisnandi, Gerakan Mahasiswa: Mengembalikan Ruh Perjuangan Reformasi, makalah yang disampaikan pada “Rembug Mahasiswa & Pemuda se-Indonesia” di Bandung, 12 Februari 2001.

[15] Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI 2004-2006, Pasal 8.

[16] Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI 2004-2006, Bab VI Pasal 7 Ayat 2 Butir c.

19 Juni 2009 - Posted by | Artikel

8 Komentar »

  1. wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

    Komentar oleh ivenxadytia | 17 Juli 2009 | Balas

    • wah makasih ya…sama-sama, semoga sukse juga buat kamu…

      Komentar oleh Zaki Permana | 27 Juli 2009 | Balas

  2. good….aku senang dengan wacana Profetik….kayaknya yang mencetuskan adalah alumni HMI…..tu ya kan? yaitu mas Kuntowijoyo dari UGM Yogyakarta,,,,he

    Komentar oleh musthofa al-Dakhil | 28 Desember 2010 | Balas

    • itu wacana lama…yang membawa Muhammad 15 abad silam, aku, kamu, mereka, hanyalah sekedar yang menyusun sistematika serta menambah rumitnya kata-kata baru yang langitan itu…^_^

      Komentar oleh Zaki Permana | 30 Desember 2010 | Balas

  3. mantap..klu bisa konsep rekayasa sosialnya di fokuskan.

    Komentar oleh laode abdul mu'min | 20 Januari 2011 | Balas

    • Insya Allah…mohon do’anya….

      Komentar oleh Zaki Permana | 18 April 2011 | Balas

  4. salam, profetik kuk di bicarakan anak PKS..

    Komentar oleh soni | 11 Juli 2011 | Balas

    • hahahaha…….

      Komentar oleh Zaki Permana | 11 Juli 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: