Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Reformasi birokrasi sebagai solusi mendesak bangsa

Oleh: Zaki Permana

Masih jelas teringat ketika gegap gempita para mahasiswa yang tergabung dalam satu gerakan untuk mengusung suatu isue strategis Reformasi turunkan Soeharto, saat akhirnya jendral besar yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia ini menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik pada bulan Mei 1998, begitu haru, dan begitu dramatis.

Tumbangnya rezim Soeharto seolah menampilkan harapan akan wajah indonesia baru yang jauh lebih baik dan lebih merdeka, Orang-orang mulai untuk berani berbicara tentang kemerdekaan, keadilan, dan kesejahteraan yang seharusnya sudah ada di Negeri kaya ini sejak lama, rakyat sudah mulai menggugat dijalankannya demokrasi secara benar, dan bahkan rakyat sudah berani untuk menghilangkan kata “pak” di depan nama Soeharto. Saat itu mahasiswa dan rakyat Indonesia optimis bahwa Indonesia akan segera menemui kejayaannya.

Akan tetapi setelah presiden-presiden baru muncul satu-persatu bergantian memimpin negeri ini, fakta kedzoliman justru semakin bertambah, kemiskinan justru meningkat, bahkan Megawati Soekarno Putri yang ketika Orde Baru berkuasa selalu di ‘dzolimi’ penguasapun tidak banyak melakukan sesuatu untuk mengusut kasus pelanggaran HAM oleh Soeharto di masa lalu bahkan terhadap diri dan partainya sendiri. Indonesia semakin terpuruk bukan hanya di mata Internasional akan tetapi Indonesia juga telah turun wibawanya di mata rakyatnya sendiri. Rakyat menjadi apatis terhadap pemerintah, GolPut, atau Golongan putih merebak dimana-mana dan bahkan di beberapa daerah jumlah GolPut selalu memenangi jumlah pemilih dalam Pemilu. Masyarakat mungkin telah banyak yang paham akan hak-hak mereka sebagai warga negara, akan tetapi  apatisme itu selalu muncul saat pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap rakyatnya sendiri, terhadap pendukungnya sendiri. Rakyat telah teralu banyak di kecewakan sehingga kini rakyat telah berada satu tingkat di atas kemerahan.

Kasus-kasus BLBI yang sudah sejak lama muncul hingga kini tidak juga menemui jalan terangnya, Freeport, Blok Cepu, Newmont, Exxon Mobile, pembalakan hutan, perampokan harga diri bangsa oleh negara kecil di utara Indonesia, hingga kini tidak juga menemui jalan penyelesaiannya, rakyat tetap saja kelaparan dan jauh dari kata sejahtera walaupun kini telah memiliki menteri yang merupakan orang terkaya di Indonesia, yang berkonsentrasi di wilayah kesejahteraan rakyat. Kedaulatan Indonesia hancur, kalau dulu kita masih mempunyai kedaulatan pangan maka sekarang segalanya hancur tak bersisa, minyak yang seharusnya dapat dengan mudah menutup hutang-hutang luar negeri Indonesia, kini juga telah dikuasai asing, pemerintah lebih suka menaikan harga BBM dari pada mengurus hak-hak Indonesia yang dikangkangi bangsa lain, entah bagaimana nasib bangsa Indonesia kedepan.

Dari itu sekarang muncul pertanyaan, kenapa hal tersebut bisa terjadi di negeri ini, apakah karena mental bangsa ini sudah rusak semuanya, ataukah karena masyarakat Indonesia itu semuanya bodoh sehingga dapat dengan mudah di tipu oleh bangsa besar dan bahkan bangsa kecil di utara indonesia. Tidak, sesungguhnya masih banyak orang indonesia yang dapat menjadi pemimpin sejati yang cinta rakyat dan negeri ini, bukan hanya satu akan tetapi jutaan manusia-manusia indonesia masih banyak yang mencintai negeri ini, dan masih banyak juga orang Indonesia yang pintar dan berskala Internasional yang masih peduli terhadap nasib bangsanya. Dan  sesungguhnya Allah bukanlah Tuhan yang diskriminatif, tidak ada Ras yang lebih unggul dibanding Ras lain di hadapan Allah, sehingga tidak ada istilah ras Orang Indonesia lebih rendah atau lebih tinggi di banding Ras manusia barat, di semua ras ada yang cerdas dan ada pula yang tidak, ada yang unggul dan ada pula yang tidak, semua merata, semua sama, karenanya manusia Indonesia bukanlah manusia yang bodoh-bodoh sehingga selalu bersedia dengan ikhlas dibodohi, buktinya Akbar Tandjung yang sudah jelas-jelas menjadi tersangka kasus korupsi saja dapat dengan lihai meghindari jeratan hukum Indonesia. Intinya Indonesia tetap berpotensi menjadi negara besar, walau PSSI sekarang ini selalu saja kalah dari Juventus.

Bukan, permasalahan Indonesia bukanlah terletak di wilayah sumberdaya manusia dan sumberdaya alamnya, sebagai contoh, siapa yang yang menyangkal bahwa M Natsir adalah seorang muslim yang berpengaruh ditingkatan internasional, siapa pula yang menyangkal bahwa Soekarno telah menciptakan sebuah episentrum berfikir diwilayah asia-afrika, siapa pula yang menyangkal bahwa B.J Habibie adalah seorang yang paling cerdas dari lima orang tercerdas di dunia, ini merupakan bukti bahwa ras bangsa Indonesia bukanlah ras rendahan. Kemudian sumberdaya alam indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya, segalanya ada, mulai dari rempah-rempah hingga uranium Indonesia memilikinya dalam jumlah yang besar. Minyak bumi Idonesia setara dengan cadangan minyak Arab Saudi dan bahkan kualitasnya jauh lebih bagus dari hasil produks  Arab Saudi. Timah, tembaga, dan barang tambang yang lain begitu melimpah di Indonesia dan ini merupakan bukti bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang harusnya menjadi negara besar yang berdaulat dan makmur. Karena Indonesia memiliki modal yang jauh lebih besar di banding dengan modal negeri lain.

Akan tetapi kenyataan yang terjadi sekarang adalah Indonesia tidak pernah beranjak dari keterpurukannya. Kenapa, karena Reformasi satu dekade silam selalu saja jalan ditempat. Reformasi tidak pernah benar-benar berjalan sebagai mana mestinya. Memang presiden Soeharto telah tumbang akan tetapi mereka yang menjadi mesin penggerak emperium soeharto masih saja tetap bercokol di pemerintah, ini adalah sebuah petaka karena jika mereka yang ada di pemerintahan, bukan hanya presidennya akan tetapi semuanya, masih saja di dominasi oleh mereka yang sebagian besar umurnya telah di abdikan untuk menjayakan rezim orde Baru maka bisa dipastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil dan kebiasaan-kebiasaan yang dijalankanpun tidak jauh berbeda dari masa kejayaan Soeharto. Ini adalah sebuah permasalahan yang sama dengan ketika kita telah mengganti minyak di kompor akan tetapi tidak mengganti sumbu-sumbu yang rusak dengan sumbu-sumbu yang baru, api tetap saja tidak mau menyala. Memenggal 1 bagian tumor yang menonjol tidak akan pernah meghilangkan tumor yang telah menyebar dengan luas, semuanya harus diangkat hingga keakarnya atau tumor itu akan tumbuh kembali dan menimbulkan kerusakan untuk tubuh.

Masalah bangsa ini bukan hanya ada pada presidennya, akan tetapi juga birokrasinya, karena birokrasi adalah mesin suatu bangsa, Soeharto bisa bertahan selama 32 tahun bukanlah hanya karena dia sendiri yang memainkan peran, akan tetapi itu juga merupakan rangkaian gabungan peran dari para kroninya di masa orde baru yang kini masih saja memberikan pengaruh signifikan untuk bangsa.

Artinya, iya memang reformasi politik dan hukum telah di gulirkan sejak satu dekade silam, akan tetapi jika yang kemudian menjalankan reformasi bukanlah orang-orang yang paham benar dengan cita-cita reformasi, dan beritikad baik untuk menjalankan demi satu niatan, mensejahterakan rakyat,  dan kaum yang telah menggulirkan isue reormasi tidak pernah tampil sebagai pemimpin reformasi, akibatnya mereka yang kemudian bercokol kuat di birokrasi adalah mereka yang orang-orang lama, orang-orang dengan kebijakan-kebijakan lama, dan orang-orang dengan kelakuan-kelakuan yang sama.

Karena itu reformasi bukanlah sekedar mengganti siapa kepalanya saja, akan tetapi reformasi adalah merubah rangkaian formasi yang saling berkaitan satu sama lain. profesor termuda di Universitas Indonesia (UI) saat ini, Prof. Dr. Eko Prasodjo berkata “Reformasi birokrasi ini sangat penting karena bagaimana pun baiknya reformasi politik dan hukum, namun apabila reformasi birokrasi tidak dilakukan, maka keputusan-keputusan politik dan hukum tidak akan berjalan dengan baik,” Oleh itu reformasi birokrasi merupakan sebuah keniscayaan untuk menghadirkan Indonesia yang lebih baik. Karena KKN bukan hanya ulah per-individu, akan tepapi telah menjadi sebuah jaringan kejahatan berjamaah yang mengaitkan satu orang dengan yang lainnya. Karena mesin yang rusak jika tidak segera diperbaiki maka akan menghambat laju kendaraannya. Maka walaupun reformasi politik dan reformasi hukum telah terjadi, jika birokrasinya telah rusak dan inkompeten maka tetap sama menghasilkan kinerja buruk yang justru semakin menyengsarakan rakyat.

Sudah saatnya Indonesia mencontoh Korea Selatan yang pada era 80-an melakukan reformasi birokrasi, yang kini telah menampakkan hasilnya walau pembangunan Indonesia dan Korsel cenderung sama jangka waktunya. Sudah saatnya Indonesia melepas segala atribut-atribut usang yang sudah jelas karatnya dengan atribut baru yang masih berkilau, karena Indonesia masih memiliki cadangan orang-orang baik dan peduli terhadap bangsanya dengan melimpah.

19 Juni 2009 - Posted by | Artikel

1 Komentar »

  1. terima kasih infonya

    Komentar oleh Stop Dreaming | 6 Juli 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: