Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

SENANDUNG GADIS DESA

5530970-lg

Gadis desa itu berjalan teratur di pematang, kakinya lincah bermain percik air yang berloncatan dan hinggap di batang kemuning padi yang kian berrisi kian tertunduk tawadhu, dalam damai sawah itu ia bersenandung tentang alam dan bebintang keindahan di langit yang redup dalam kerudung senja. Matanya yang indah namun lelah mencari-cari dengan bahagia ternaknya yang sedari tadi berenang dalam kubangan yang tak jauh dari tempat ia berada. Kemudian diambilnya batangan bambu, senjata tongkat ajaib yang menandakan siapa sang majikan dan siapa yang bukan, diayunkannya lembut tongkat itu kelangit basah bekas hujan barusan sebagai tanda waktu pulang telah datang kepada ternak sumber penghidupannya, bagai tentara yang selalu patuh terhadap perintah komandan tanpa protes ternaknya mengikuti perintah untuk pulang dan masuk kandang, agar ternaknya aman dari terkaman dan agar esoknya dapat dengan mudah dijual untuk membeli beras yang selalu menanjak harganya. Hatinya riang, kakinya lincah, tak ada beban Negara, tak ada niatan korupsi.

Gadis desa itu berjalan lincah kedalam rumahnya untuk menyegarkan badan yang sudah tidak sedap lagi baunya karena diguyur terik sedari siang, diambilnya air dibasuhnya wajah dan tubuh yang ia sadari merupakan sebuah titipan dan akan menuntut pertanggungjawaban pada si empunya kelak. Selesai, diambilnya kembali liquid sejuk dari sumur, diangkat dan dimasukkan dalam padasan tua warisan eyang kakung yang telah meninggal di tikam peluru saat berkata Allahu akbar dalam barisan aksi di kota dahulu. Wajah, tangan, kepala, dan kaki semuanya riang dalam tasbihnya kepada yang Esa atas wudhu pemberian sang tuan kepada mereka yang lugu dan patuh. Diambilnya sajadah kemudian dimulailah ritual fisik dan batin harian yang telah menjadi kebiasaan sang gadis desa. terselamilah benua-benua asing namun akrab yang menghadirkan sosok kholik dalam tiap lafadz doa yang ia lantunkan dari bibir lembut merah muda di wajahanya yang mulai di aliri air bening tanda nikmat nya perjumpaan lima kali sehari antara dirinya dengan kekasih tertinggi.

Gadis desa itu berjalan riang menyapa orangtuannya dengan sangat manis, menambah indah wajahnya yang dibelai sinar teplok milik keluarga yang hampir habis minyak mahalnya, diciumi lengan penuh kasih ibunya sebagai tanda cinta dan hormat anak berbakti, di pijat lembut lengan legam ayahnya yang perkasa, sebagai tanda kepatuhan mendalam anak lugu terhadap lelaki idolanya tersebut. hingga cicak dan dinding itu pun terpaksa berbincang iri menatap kemesraan gadis desa dan orang tuanya tersebut.

Gadis desa itu berjalan dengan riang untuk beristirahat dari penat Dunia yang semakin lama semakin membuat orang sederhana Seperti dirinya  selalu sesak napas menahan derita yang sengaja diciptakan penguasa untuk menyingkirkan kelasnya dari peredaran bumi ramah ini. Ada takut sebelum lelapnya, ada doa dalam kesadaran terakhirnya, semogga ia dapat kembali membuka mata dalam dekap hari esok yang semoga cerah dan tanpa pelestarian penindasan. Gadis desa terlelap dalam mimpi akan pangeran yang membuat negerinya aman dan sejahtera, lalu ia berjanji dalam mimpi bahwa kepatuhan dan hormat mendalamnya akan pula diberikan pada pangeran yang sanggup menyelamatkan negerinya dari amuk wabah penjajahan financial Negara-negara kaya.

Gadis desa itu membuka lentik bulu matanya dengan anggun saat senandung pemanggil hamba untuk bersembahyang bersahut dari desa sebelah, diambilnya wudhu, di ambilnya ketaatan mutlak pada Tuhannya, dipasangnya wajah hamba hakiki dalam cintanya kepada Robb pencipta kehidupan dan keserasian. Allahu akbar..bisiknya lirih kepada alam yang sedari tadi menyaksikan anggun sang gadis desa berdiri menghadap barat, dalam hati sang alam ia berjanji akan menjadi saksi yang baik atas diri sang gadis desa.

Gadis desa itu berjalan menaiki bukit dengan dendang al-Fajr yang menjadi faforitnya. Ditatapnya kota besar dibawahnya, dipandangnya angkuh tembok-tembok milik buto-buto gendut mata keranjang disana, di lihatnya kepul-kepul kelabu indah yang membuat anak cucunya kehilangan kesehatan, dan membuat bumi ramah ini menangis di serang batuk yang nanti akan membunuhnya. Sabarlah ibu bumi, Semoga nanti pangeranku akan membetulkan yang rusak dan menyambung apa yang patah.

Gadis desa itu bersabar dalam suraunya menanti sang pengeran untuk datang dan meminang keadilan untuk datang, ia kembali bersenandung..wa maa adro kamal aqobah, dan tahukah kamu jalan yang sukar itu? Fakkuroqobah, (yaitu) melepaskan perbudakan..au ith’aamun fii yaumin dzii masghobah, atau memberi makan di hari terjadi kelaparan..yatiiman dzaa maqrobah, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat..au miskiinan dzaa matrobah, atau orang miskin yang sangat fakir..tsumma kaana minal ladziina aamanu watawashoubis shobri wa tawa shoubil marhamah, kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang..

Gadis desa itu merenung..dalam surau dan negerinya sang pangeran tak datang, dilihatnya cermin, ditatapnya sosok manis dalam cermin, berkatalah bibir dan hatinya kepada sosok itu..sayang..pangeran kita tak datang..aku tidak melihat orang lain..maka biarlah aku yang akan menempuh jalan yang sukar itu..gadis desa itu menangis sejenak..kemudian berfikir apa yang bisa ia lakukan.

Gadis desa itu melangkah keluar rumahnya dengan riang, di tangannya telah tergenggam pasir untuk di satukan dalam kesinergisan gerakan membangun bangsa, karena memang tak berguna satu orang alim jika hanya mengenal dinding dan sudut surau…

Yogyakarta, malam sebelum musyawarah tertinggi komisariatku tercinta

19 Juni 2009 - Posted by | Puisi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: