Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Al-Farabi

Sang Aristoteles Kedua
Salah seorang pemikir besar Islam terkenal di jamannya hingga sekarang adalah Al-Farabi. Ia mempunyai nama lengkap Abu Nasr Muhammad Ibn al-Farakh al-Farabi, yang juga dikenal sebagai Mualim Thani (guru kedua) dari Timur. Dia lahir tahun 870 di Farab, sebuah kota di Turki Tengah yang kini tak ada lagi. Kota ini dikenal sebagai tempat kelahiran sejumlah intelektual dan filsuf berskala internasional dari dunia Islam.
Ia mengikuti pendidikan dasar dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Farab. Kemudian ia melanjutkan belajarnya di Bukhara. Sedangkan pendidikan tingginya ia tempuh di Banghdad. Seperti diketahui kemudian hari, Baghdad adalah pusat ilmu pengetahuan dunia masa lampau. Di kota ini, al-Farabi pertama kalinya belajar bahasa Arab dan Yunani. Al-Farabi ternyata memiliki hasrat yang besar untuk mempelajari alam semesta dan manusia. Hal itu kemudian menariknya untuk mempelajari filsafat kuno terutama filsafat Plato dan Aristoteles.
Ia menyerap komponen yang ada pada filsafat platonik dan Aristotelian. Yang kemudian ia gabungkan dengan pengetahuan mengenai Quran serta ilmu lainnya. Selama di Baghdad ia mempelajari filsafat Aristoteles dan logika di bawah bimbingan filsuf terkenal, Abu Bishr Matta ibn Yunus. Ia belajar tata bahasa Arab di bawah bimbingan ahli tata bahasa dan linguistik, Abu Bakr ibn Saraj. Ia pun mendapatkan ilmu dari berbagai sarjana besar dalam bidang aritmatika, fisika, kimia, medis, astronomi, dan musik. Baghdad memang menjadi tempat paling lama baginya untuk belajar dan berkarya.
Sebelumnya, ia telah berkeliling ke belahan dunia dari Iran, Mesir, hingga India. Meski demikian ia dikenal sebagai orang yang tak melupakan akarnya. Terbukti, ia tak pernah menanggalkan pakaian khas Turki maupun nama panggilannya, Farabi at-Turki. Al-Farabi tinggal di Baghdad selama lebih dari 40 tahun (901-942). Selama itu ia banyak belajar tentang logika dan filsafat Aristoteles. Dan, hasil karyanya dalam bidang filsafat juga lahir di kota ini. Ia pun banyak menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani (ia dikenal sebagai filsuf Islam pertama yang memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Islam).
Menurut Majid Fakhry, seorang filsuf, al-Farabi dapat dikelompokkan ke dalam neoplatonis. Ia mencoba mensitesiskan antara pemikiran Plato dan Aristoteles. Dalam catatan sejarah, kata Majid, untuk memahami pemikiran kedua filsfuf Yunani tersebut al-Farabi sampai membaca karya kedua orang tersebut, On the Soul sebanyak 200 kali dan Physics sebanyak 40 kali. Hingga akhirnya, Al-Farabi mampu mendemonstrasikan dasar persinggungan antara Aristoteles dan Plato dalam sejumlah hal, seperti penciptaan dunia, kekelan ruh, serta siksaan dan pahala di akhirat kelak.
Konsep Farabi mengenai alam, Tuhan, kenabian, esensi, dan eksistensi tak dapat dipisahkan antara keduanya. Mengenai proses penciptaan alam, ia memahami penciptaan alam melalui proses pemancaran (emanasi) dari Tuhan sejak zaman azali. Menurutnya, Tuhan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Al-Farabi mengungkapkan bahwa Tuhan itu esa karena itu yang keluar dari-Nya juga harus satu wujud. Sedangkan mengenai kenabian ia mengungkapkan bahwa kenabian adalah sesuatu yang diperoleh nabi yang tidak melalui upaya mereka. Jiwa para nabi telah siap menerima ajaran-ajaran Tuhan.
Berbeda dengan filsuf, mereka harus terlebih dahulu membersihkan diri dan melatih berpikir. Tak hanya mampu memahami pemikiran Plato maupun Arsitoteles, ia pun kemudian mampu menuangkan pemikiran filsafat ke dalam sebuah buku yaitu Fusus al-Hikam, yang masih menjadi buku teks filsafat> Buku ini menjadi bahan acuan studi di sejumlah negara dan masih diajarkan di sejumlah institusi di negara Timur. Selain itu ada juga Kitab al-Ihsa al ‘Ulum menjabarkan mengenai klasifikasi dan prinsip dasar sains dalam cara yang unik dan cerdas.
Maka tak heran jika kemudian pemikiran al-Farabi banyak memberikan pengaruh kepada para pemikir sesudahnya. Di antaranya adalah Ibn Sina yang terpengaruh dengan pemikiran metafisik Al-Farabi, yang mengadopsi pemikiran Aristoteles. Kemudian Yahya ibn ‘Adi, Abu Sulayman al-Sijistani, Abu’l-Hasan Muhammad ibn Yusuf al-‘Amiri dan Abu Hayyan al-Tawhidi. Yahya ibn A’di yang merupakan penganut Kristen kala itu belajar di Baghdad di bawah bimbingan langsung Al-Farabi. Ia banyak menyerap ilmu dari al-Farabi khususnya mengenai logika dan filsafat.
Yahya kemudian memiliki murid yang bernama Al-Sijistani. Ia kemudian mengembangkan pemikiran dari keduanya baik Farabi maupun Yahya. Dalam pemikiran politik dan sosiologi ia menelurkan karya terkenal dengan tajuk Ara Ahl al-Madina al-Fadila (Model Kota). Dalam karyanya itu, al-Farabi menggambarkan bahwa negara yang ideal bagi Muslim adalah negara yang memiliki kemampuan untuk menyediakan berbagai kebutuhan warganya. Selain membantu mereka untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Menurutnya, pemimpin yang ideal bagi negara muslim mestinya raja yang memiliki pengetahuan tentang filsafat seperti konsep yang dipaparkan Plato dalam karyanya, Republika.
Dengan kata lain, seorang pemimpin haruslah mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, menguasai sains, filsafat, dan ilmu agama. Al-Farabi juga dikenal sebagai pakar musik. Selain ia mampu mengembangkan teori musik dengan ditemukannya not musik yang dituangkan dalam karyanya yang sangat terkenal, yaitu Kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik). Tak hanya berteori, ia pun menemukan sejumlah alat musik dan mahir memainkannya. Pada saat memainkan alat musik, ia mampu membuat orang di sekitarnya tertawa, bersedih, juga tertidur.
Mengenai musik ini, ada cerita menarik antara dirinya dengan penguasa Syria, Amir Safy ad-Dawlah. Sang Amir bertanya kepada al-Farabi apakah ia senang mendengarkan musik. Ketika al-Farabi mengiyakan maka Amir tersebut memanggil pemusik-pemusik terbaiknya untuk memainkan musik di hadapan mereka berdua. Pada saat pemusik istana tersebut memainkan musik, al-Farabi menemukan kesalahan dan diungkapkannya kepada sang Amir. Lalu Amir Safy ad-Dawla meminta al-Farabi untuk memainkan sendiri alat musiknya. Pada saat ia memainkannya orang-orang yang hadir di tempat itu tertawa. Kemudian ia mengubah komposisi musiknya, semua orang yang mendengarnya menangis.
Lalu ia pun menggubah kompisisi musiknya kembali, semua yang mendengarkannya tertidur. Setelah 40 tahun lebih berada di Baghdad, al-Farabi meninggalkan kota tersebut dan tinggal di Turkistan. Selama di Turkistan, ia sempat membuahkan karya terkenal yaitu at-Talim ath-Thani. Al-Farabi kemudian menuju ke Syria lalu ke Mesir. Namun kemudian ia kembali ke Syria dan bermukim di Allepo. Pada 945 Amir Sayf ad-Dawla, penguasa di Syria, tak lagi memegang kekuasaan. Ia meninggalkan kekuasaannya di Syria kemudian ia bermukim di Allepo. Kala itu al-Farabi yang telah bermukim di Allepo mengetahui bahwa sang Amir berada di kota itu pula.
Maka ia menyambanginya. Ia masih ingat pada masa sebelumnya ia sangat dekat dengan sang Amir. Lima tahun kemudian, yaitu pada 950 M, Amir Sayf ad-dawla melakukan ekspedisi ke Damaskus dan mengajak Al-Farabi dalam ekspedisi tersebut. Meski telah mencapai tujuan namun karena usia al-Farabi yang telah mencapai 100 tahun, kondisi kesehatannya melemah dan tak dapat bertahan. Ia pun kemudian meninggal dunia di Damaskus pada 970 M. Amir Sayf ad-Dawla kemudian membawa jenazahnya dan menguburkannya di Damaskus. Ia dimakamkan di pemakaman Bab as-Saghir yang terletak di dekat makam Muawiyah, yang merupakan pendiri dinasti Ummayah.

20 Juni 2009 - Posted by | Artikel, Catatan Perjalanan, Sejarah ISlam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: