Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Zuhud, Kaya Raya dan Islam

Oleh: Zaki Permana Permana

Bmakankurma.jpganyak kalangan umat muslimin yang mengatakan bahwa menjadi miskin adalah pilihan hidupnya, dikarenakan keinginan kuat untuk hidup dengan zuhud (sederhana), apakah hal ini salah? Oh tentu tidak, sikap hidup adalah hal yang wajar dan sah, jadi wajar saja jika ada segolongan umat yang merasa lebih nyaman hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan. Wajar karena itu adalah hak asasi masing-masing individu.

Hanya saja yang sangat disayangkan adalah banyak diantara kaum muslimin menganggap hal ini adalah bagian dari sunnah Rosulullah SAW, padahal Rosulullah SAWullah sendiri tidak pernah mengatakan ‘wahai umatku, menjadi pilihlah kemiskinan sebagai jalan hidup kalian’. Kecuali miskin dosa dan miskin maksiat, namun dalam hal ini kita sedang membicarakan miskin harta.

Allah menurunkan syariat zakat, infaq, shodaqoh, dll bukanlah untuk membuat harta seseorang menjadi habis, akan tetapi kita dapat mengambil hikmah yang luar biasa dalam disana, yakni rasa saling peduli dan menjadi rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta. Hikmah syariat ini adalah untuk menghapuskan kemiskinan, memperpendek kesenjangan sosial diantara manusia, agar tidak ada lagi sebuatan si kaya dan simiskin, agar tidak ada lagi orang-orang yang kelaparan di muka bumi, agar rahmat merasuk kedalam pintu bilik-bilik setiap manusia.

Coba kita perhatikan kehidupan para sahabat Rosulullah SAW di era penuh keajaiban 1500 tahun yang lalu, sebut saja misalnya Umar bin Khottob, yang nabi pernah berkata, “seandainya ada Nabi setelahku pastilah dia Umar” seorang sahabat yang sudah dijanjikan oleh Allah akan menghuni syurga, seorang sahabat yang sangat ditakuti oleh syaitan dan disegani oleh seluruh malaikat yang ada di bumi dan di langit.

Umar bin Khattab ra ketika meninggal dunia beliau mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ +/-160 juta rupiah (total Rp 11,2 Triliun), dan pendapatan perbulan dari properti tersebut adalah 70.000 x 40 jt = 2,8 triliun atau 233 Miliar perbulan. Belum lagi dengan Ustman bi Affan, yang seluruh penghuni langit pun malu terhadapnya. Usman bin Affan ra memiliki simpanan uang = 151 ribu dinar ditambah lagi 1000 dirham. 1 dinar adalah 100 gram emas, anda hitung sendiri saja jika sekarang ini dirupiahkan, belum lagi Usman memiliki properti yang luar biasa luasnya, yakni dari pegunungan Aris hingga Khaibar dan beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (240 M).

Masih belum cukupkah kita menyaksikan kekayaan para sahabat utama tersebut, baik, sebut saja Zubair bi Al Awam ra, beliau memiliki kekayaan 50 ribu dinar, 100 ekor kuda perang, dan 1000 orang budak. Amr bin Al Ash ra 300 ribu dinar. Dan yang aling spektakuler adalah Abdurrahman bin Auf, kekayaan beliau hanya didefinisikan dengan, melebihi seluruh kekayaan sahabat. Subhanallah

Kekayaan mereka tidak menghalangi mereka dari syurga, kekayaan mereka justru membuat mereka semakin bertaqwa, kemudian bagaimana dengan Rosulullah SAWullah SAW, kita tentunya masih ingat dengan jelas bahwa seperlima harta rampasan perang adalah hak Rosulullah SAWullah SAW, padahal umat islam ketika Rosulullah SAW masih hidup dan dalam periode Madinah selalu berperang, baik dikarenakan penyerangan oleh kaum kafir ataupun karena ekspansi-ekspansi dakwah. Dan kekalahan yang diterima umat islam jauh lebih sedikit ketimbang kemenangannya. Belum lagi ketika Rosulullah SAW masih muda, sejak muda beliau suudah melakukan perdagangan internasional, dari Makkah ke Syam. Dan ketika menikah dengan Khadijah ra beliau memberikan mas kawin yang sangat besar jumlahnya yakni 1000 ekor unta, jika saat ini harga unta adalah 1jt per ekor maka mas kawin Rosulullah SAW waktu itu paling tidak 1M. belum lagi pesta perkawinannya, padahal waktu itu Rosulullah SAW berumur 25 tahun, bukankah itu contoh pemuda yang luar biasa.

Ada sebuah perbedaan antara kekayaan dan kezuhudan, zuhud adalah pilihan hidup yang diambil para sahabat dan Rosulullah SAW. Sebenarnya ara sahabat bisa saja untuk hidup berkalang mewah, namun mereka justru menyukai kehidupan yang sangat sederhana, artinya kesederhanaan yang mereka jalani bukan karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi kaya, namun dikarenakan mereka memilih kehidupan tersebut, mereka lebih menyukai menderkan kekayaan meraka yang melimpah dijalan Allah SWT.

Seorang muslim haruslah menjadi kaya, karena hanya dengannya kebangkitan umat akan semakin cepat, harta kaum muslimin harus pula berada ditangan, bukan di hati mereka, dan hanya dengan itu kemakmuran akan tercapai.

Kita benar-benar merindukan masa-masa tersebut, masa dimana semua orang sibuk untuk saling memberi dan berbagi, masa dimana semua orang lebih menyukai ketika saudaranya tersenyum dan lebih sedih ketika saudaranya menderita kekuranga.

Untuk itulah harta dalam islam, yakni sebagai sarana memakmurkan alam semesta bukan hanya untuk mengamankan perut dan kesenangan si empunya. Karenanya seorang muslim haruslah memiliki kekayaan melimpah yang akan membuatnya semakin dekat dengan Tuhannya dengan cara membelanjakannya di jalan Tuhan, fii sabilillah.

Oleh itu wahai kaum muslimin, kuatkanlah semangat jihad kalian dalam memperkaya diri, kemudian berbagilah dengan sesama.

Wallahua’lam

20 Juni 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: