Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Ghazwul Fikri (Invasi Pemikiran)

“Kita sebelum ini adalah serendah-rendah kaum, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita menuntut kehormatan dengan selainnya, Allah pasti kembali merendahkan kita…”
(Umar bin Khattab al-Faruq)

Semenjak dihentikannya perang fisik berupa invasi militer di seluruh dunia, kolonialisme baru menggunakan berbagai saluran selain fisik, seperti ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), budaya (tsaqafah) dan terutama adalah pemikiran (fikrah). Seluruhnya menjadi sarana invasi bagi Barat—sebagai simbol kolonial dan imperialis—ke dunia Islam. Sejalan dengan itu, usaha Barat untuk melakukan invasi pemikiran—sebagai sarana fundamental konstruksi budaya masyarakat—ke dalam dunia Islam tidak akan pernah berhenti. Untuk itu, kita harus mengenal tahapan dan strategi mereka dalam melakukan Ghazwul Fikri ini.

Pengertian Ghazwul Fikri
Secara bahasa, ghazwah adalah serangan, serbuan atau invasi. Fikri berarti pemikiran atau pemahaman. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang).

Qital Ghazwah
Saling mengetahui siapa lawannya Sepihak, yang lain tidak menyadari kalau sedang diserang.
Banyak korban jiwa Relatif tidak ada
Membutuhkan dana yang besar Relatif membutuhkan dana sedikit
Hasilnya belum tentu ada. Hasilnya nyata terlihat dan berhasil
Efeknya terbatas. Efeknya dalam dan luas

Secara istilah, Ghazwul Fikri berarti penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tidak islami.

Sasaran Ghazwul Fikri
Setidaknya ada tiga sasaran dalam Ghazwul Fikri ini,
1. Menjauhkan umat Islam dari agama (dien)nya. “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu berbuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu, tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (al-Isra’[17]: 73). “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (al-Maidah [5]: 49)
2. Berusaha memasukkan yang sudah kosong Islamnya ke dalam agama kafir. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)” (al-Baqarah [2]: 217. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah [2]: 120).
3. Memadamkan cahaya Allah. “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang kafir benci” (al-Shaff [61]: 8)

Metode Ghazwul Fikri
1. Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas. Paling tidak menggunakan tiga tahapan:
a. Tasykik, yaitu proses pendangkalan atau membuat ragu-ragu dari kaum muslimin terhadap agamanya.
b. Tasywih, yaitu pencemaran dan pelecehan. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk.
c. Tadhlil (penyesatan), yaitu upaya orang kafir menyesatkan umat mulai dari cara halus sampai cara yang kasar.
d. Taghrib (pembaratan/westernisasi), yaitu gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin agar mau menerima seluruh pemikiran dan perilaku Barat.
2. Menyerang Islam dari dalam, setidaknya tiga metode yang ditempuh:
a. Penyebaran faham sekulerisme, yaitu usaha memisahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
b. Penyebaran faham nasionalisme sempit, yang akan membunuh ukhuwah islamiyah yang merupakan azas kekuatan umat Islam.
c. Pengrusakan akhlaq para generasi muda Islam.

Hasil Ghazwul Fikri
Secara kasat mata, sebagaimana disinyalir oleh Allah dalam al-Quran, ghazwul fikri akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi umat Islam, diantaranya adalah:
1. Umat Islam menyimpang dari al-Quran dan Sunnah. “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.” (al-Furqon [25]: 30).
2. Minder dan rendah diri. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 139).
3. Ikut-ikutan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’ [17]: 36).
4. Terpecah belah. “…yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (al-Ruum [30]: 32)

22 November 2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: