Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Informasi, Itulah kita….

Ternyata benar. Hal paling penting dalam kehidupan manusia bisa jadi adalah Informasi. Inilah yang mebuat malaikat sujud dihadapan adam, karena ilmu sang adam yang jauh melampaui malaikat. Adam mampu menyebutkan semua benda yang ditunjukan padanya saat itu, sedang malaikat tidak. Karena memang Adam telah di beri informasinya oleh Allah SWT.

Masih tentang Adam, ia tak  akan menjadi murung jika ia tak menyaksikan makhluk syurga lainya yang berpasangan. Ia menjadi murung karena tahu bahwa ternyata hanya Ia yang sendirian dalam jenisnya, Ia menjadi murung karena tahu bahwa yang lain berpasangan namun Ia tidak, dan akhirnya Hawa diciptakan. Ia menjadi murung karena ia mengetahui sesuatu.

Kemudian Adam di lempar dari Syurga oleh sang pemilik syurga pun berawal sebuah informasi. Informasi tentang sebuah faedah buah yang dilarang Allah untuk disentuh. Inilah bahayannya informasi yang salah. Syaitan membisikan kepada Adam sebuah informasi salah penuh nuansa hasutan hingga akhirnya Adam salah bertindak dengan melanggar perintah Allah. Karena Informasi yang salah, akhirnya manusia ada di bumi.

Itulah mengapa ayat pertama berbunyi, iqro’ , bacalah…carilah informasi wahai manusia, bacalah, entah itu tulisan, alam, keagungan Tuhan, atau bahkan sekedar raut wajah. Bacalah, dan kau pun akan mengerti. Bacalah, galilah terus informasi, dan menjadi tahulah. Karena hanya dengan menjadi tahu, kau mengerti, dan dengannya kau akan menjadi beriman dan kemudian memegang pintunya syurga.

Informasi, inilah bahan yang membentuk rasa dan emosi, ini pulalah bahan racikan untuk membentuk sebuah opini dalam benak, inilah satu-satunya bahan agar kesimpulan bisa lahir dan mewujud. Inilah informasi.

Seorang manusia memang memiliki otak cemerlang yang jauh melampaui otak makhluk lain, namun ia hanyalah sebuah perangkat yang akan semakin aktif  berkembang seiring dengan bertambahnya informasi yang dimasukan kedalamnya. Pun demikian dengan hati, ia hanya bisa mencerna suatu hal untuk melahirkan duka atau tawa, hanya dan hanya jika ia memiliki bekalan bahan informasi yang cukup. Hati kita tak akan bisa tertawa jika informasi yang masuk adalah tentang duka, demikian pula sebaliknya.

Oleh itu, berhati-hatilah kita terhadap informasi. Karena ia begitu penting untuk menentukan kemana langkah akan kita ayun, atau bahkan kemana hati kita akan berpihak.

Namun, dikarenakan pentingnya informasi ini bagi kita, maka salah lah jika otak dan hati  kita tutupi dari informasi yang mungkin masih ada diluar. Salah, paling tidak bagi ku, salah… karena – ini anehnya otak kita – semakin banyak informasi yang kita terima, justru semakin mapan otak kita memahami sesuatu. Aneh bukan, ia tak pernah overload. Maka masukanlah informasi sebanyak-banyaknya, kemudian cerna dan saringlah ia. Itulah cara paling mungkin untuk kita, manusia.

Ada yang menarik dari sebuah kejadian beratus tahun silam di eropa dan timur tengah sana, di eropa sana pada abad pertengahan lahirlah seorang ilmuan cemerlang bernama Isaac Newton, ia adalah seseorang dengan hasil penemuan terbanyak sedunia. Seolah hidupnya hanya dilakukan untuk mencari dan akhirnya menemukan. Diantara yang ditemukan oleh Newton adalah, tentang sifat gelombang cahaya dan kemudian spektrumnya. Simple saja yang ia lakukan, ia menemukan informasi, ia merenungi, mengeksplorasi, meneliti, dan menemukan. Kemudian jadilah kemajuan.

Namun disinilah misteri menariknya, karena sekitar 600 tahun sebelum Newton bicara tentang temuan hebatnya tersebut, ada seorang muslim yang telah bicara tentang hal serupa itu. Ia adalah Ibnu Al Haytam, si penemu spectrum yang telah meninggal pada tahun 1039. Ada jeda yang tak kepalang tanggung, 600 tahun. Maka pertanyaan adalah, apa selama 600 tahun tak lahir lagi jenius lain? Ataukah rahim para muslimah di timur tengah sana telah kehabisan energy untuk kembali mengandung dan melahirkan Haytam baru?

Tentu tidak, Allah selalu menciptakan manusia unggul, jenius selalu saja lahir dengan intensitas yang rapat di seluruh dunia, lihat saja di Palestina saat ini, mereka –ribuan disana – yang bahkan sekolah dasar saja belum selesai, telah hafal diluar kepala kitab suci Al-Qur’an, dan ini sama serupa dengan belahan Negara yang lain, Jutaan manusia setiap tahunya selalu menjadi penghapal Al-Qur’an. Mereka ini cerdas bukan, mampu menghapal di luar kepala kata-kata tersusun setebal 500 lebih halaman. Tak mungkin mereka tak cerdas. Sama dengan Haytam. Namun mengapa beda?

Mistery paling menarik bagi saya adalah bukan pada bagian penemuannya atau siapa yang menemukannya. Melainkan kenyataan bahwa di barat (Eropa), mereka mempertahankan, mereka mengumpulkan, dan mereka memperkuat satu sama lain sampai mereka membawakan satu cara baru yang lengkap dan koheren dalam memandang dan mendekati dunia, pandangan ilmiah yang memungkinkan ledakan kemajuan technology Barat saat ini. Maka, mengapa ini terjadi di Barat tetapi di Timur tidak?

Timur tengah masa lampau telah lebih dahulu mendapatkan informasinya, Ghozali jauh sebelum Thomas Aquinas telah lebih dahulu bicara tentang filsafat dengan aristotelesnya, demikian pula ilmuan yang lain.Timur Tengah telah jauh lebih dahulu mendapatkan segala kebutuhan informasi untuk maju. Namun kemudian mereka membuangnya. Ya masyarakat adikuasa yang maju saat itu, membuang informasi bak berlian tersebut dengan semena-mena. Mereka tidak menghargai kasih Tuhan yang agung berupa informasi tak tertandingi di zaman itu dan menggantinya dengan pertarungan perebutan kekuasaan dalam tubuh mereka sendiri. Mereka tak menghargai informasi.

Ya, bagiku itulah penjelasan paling masuk akal mengapa ada disparitas dalam yang menyebabkan Eropa berkembang dan Timur tengah tenggelam. Karena kaum muslim saat itu meraih penemuan-penemuan ilmiah besar mereka persis ketika tatanan social mereka mulai runtuh, sedang barat meraih penemuan-penemuan ilmiah yang besar persis ketika tatanan soasialnya yang sejak lama hancur mulai pulih dan dalam kebangkitan reformasi keagamaan yang mematahkan cengkraman dogma gereja atas fikiran manusia, memberdayakan indovidu untuk berspekulasi dengan bebas.

Tatanan social hancur maka informasi sedikit demi sedikit menguap. Tatan social bangkit, maka bangkit pula penghargaan atas informasi-informasi yang muncul. Ironis memang. Hingga kadang saya membayangkan, bagai mana seandainya selama 600 tahun jeda tersebut, manusia terus menghargai yang telah ada dengan menjaga dan mengambangkannya. Akan jadi seperti apa dunia saat ini.

Informasi, menjadi penentu kemana arah dunia berjalan, informasi pulalah yang menjadi penentu masa depan. Muhammad sang Utusan di utus untuk menyampaikan informasi-informasi yang menggembirakan dan Informasi-informasi yang membuat kita berusaha menjadi semakin baik. Ya, Ia Diutus oleh Allah untuk menyampaikan informasi, dan mengingatkan manusia tentang informasi-informasi yang telah turun.

Bahkan Allah dalam Qur’an Al Karim pun menginformasikan kepada seluruh manusia tentang siapa diri-Nya…”Akulah TuhanMu yang Maha Tinggi…”. Ia Memberitahukan kepada kita bahwa Dialah sebenarnya Tuhan.

Kemudian kita diperintahnya untuk menyebarkan segala macam informasi kebaikan kemanapun juga, katanya ”fabasyir ‘ibadiy” sampaikanlah berita itu kepada Hamba-hambaKU…dan tentang pusat segala informasi (AL-Qur’an) Muhammad juga berkata “Khoirukum, manta’allamal Qur’an, wa ‘Allamahu..” yang paling baik diantara kalian, adalah yang mempelajari Qur’an dan Mengajarkanya…yang menggali informasi dan menyebarkan informasi kebaikan.

Inilah sejatinya tugas kita, penyampai….namun jangan salah…penyampai…bukan pemasti berubahnya sikap dan perilaku setelah datangnya informasi…karena Laisa ‘alaika hudaa hum, walakinallahayahdi man yasyaa’” bukan urusan kalian memberi petunjuk kepada mereka, melainkan urusan Allah memberi petunjuk kepada mereka yang dikehendakiNYA…

Galilah hal terpenting dalam kehidupan sedalam-dalamnya…dan teruslah menggali, kemudian sembari menggali…sampaikanlah informasi yang telah ditemukan, walau hanya satu ayat.

Dan jadilah hidup!

24 Juni 2011 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: