Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Sebuah Kisah dan Ibroh dari Jamaluddin Al Afghani

Ada sebuah kekuatan vulkanik unik pada abad ke 19. Sebuah kekuatan ini bernama Jamaluddin Al Afgani, kakuatan unik yang akhirnya menyebarkan pandangan Modernisasi Islam ke hampir seluruh dunia, kita akan mencoba membicarakan Manusia yang tempat kelahiranya diperebutkan oleh orang Afganistan dan Iran, dan hingga kini, saya tak pernah benar-benar tahu dimana dia berasal.

Ia lahir saat bangunan terakhir dari kedigdayaan Islam yang sempat menjadi Adi Kuasa mulai runtuh, ia besar dengan menyaksikan umat islam yang melepas jubah kemajuan dan keagungannya, kemudian berganti dengan jubah kebodohan dan kemunduran intelektual yang dramatis, saat itu, satu demi satu wilayah kekuasaan islam di ambil dengan tempo yang sangat singkat oleh Negara-negara penjajah dari eropa, Inggris, Perancis, belanda, Spanyol, dan Portugis. Jamaludian banyak menyaksikan busuknya korupsi para penguasa Muslim yang menjadi dictator dan budak penjajah Eropa.

Jamaluddin pergi ke India ketika berusia delapan belas tahun. Sentimen anti Inggris tengah memuncak saat itu, dan Jamaluddin mungkin telah bertemu beberapa muslim yang yang menyusun siasat anti inggris. Dia kebetulan berada di Makkah untuk ber haji ketika akhirnya pemberontakan di India pecah, tapi dia kembali saat tentara Inggris melakukan pembalasan, dan Dia menyaksikan pembalasan mengejutkan tersebut. Singkatnya disinilah kemungkinan Jamaluddin mematangkan pandangannya tentang kolonialisme Eropa, ia membencinya.

Kemudian Ia pergi ke….

  1. Afghanistan. Disana ia mendapatkan kepercayaan dari Raja (yang merupakan musuh Inggris) untuk menjadi guru bagi sang pangeran Afghanistan, Pangeran Azam Khan. Ia mendidik sang pangeran dengan harapan bahwa sang pangeran kelak akan menyebarkan gagasannya yang telah matang tentang perlunya reformasi dan modernisasi Islam sebagai cara untuk memulihkan kekuasaan dan kebanggaan muslim yang telah tercabik, sayangnya, Azam hanya menggantikan Ayahnya sebentar saja. Salah satu sepupunya dengan cepat menggulingkan Ia dengan dukungan musuh ayah dan gurunya, Inggris. Mungkin Inggris tak rela jika akhirnya Azam menjadi raja yang akan menyebarkan pandangan dan visi dari mushnya tersebut. Singkatnya, Azam dibuang ke Iran, dan dia meninggal di pengasinganya. Dan Jamaluddin pun terpaksa harus melarikan diri dari Afghan, dia pergi ke….
  1. Asia Kecil (Turki). Disana dia mulai menyampaikan pidato-pidato di Universitas Konstantinopel. Dia menyatakan bahwa umat islam perlu belajar tentang semua ilmu pengetahuan modern, bukan hanya ilmu-ilmu agama saja, namun ia juga menyampaikan bahwa umat islam harus mendidik anak-anak mereka secara lebih tegas dalam nilai-nilai, tradisi, dan sejarah islam. Ia menyampaikan modernisasi, namun bukan berarti westernisasi. Umat islam, menurutnya, harus bisa mencari bahan modernisasi yang khas islam di dalam islam itu sendiri, kembali maju dengan ketajaman intelektualitasnya, kembali Berjaya dengan islam yang menjadi lebih tanggap pada perubahan zaman dan segera bersuci dari segala kejumudan.

Pesan ini terdengar sedemikian menarik di sana, pesan ini meresap kesegala golongan, baik rakyat jelata, golongan intelektual, maupun golongan kelas atas. Dan dengan sekejap, Jamaluddin memiliki kedudukan tinggi  di Turki Usmani dan menjalani hidupnya sebagai juru bicara Islam yang terhormat dan berkompensasi tinggi. Kemudian ia mulai mengajarkan bahwa orang harus memiliki kekebasan untuk mengkaji Al-Qur’an dan menerapkannya untuk diri mereka sendiri, meskipun tanpa “bimbingan” kolot dari para ulama saat itu, yang menurut Jamaluddin merupakan tersangka utama atas kemunduran intelektual peradaban islam. Ya…tentu saja ini membuat Ulama mapan yang kuat beralih melawannya dan mereka mendesak orang tersebut diusir. Maka pada 1871 dia dipindah ke…

  1. Mesir, tempat dia mulai mengajar kelas-kelas dan memberikan kuliah di Universitas tertua di dunia, Al Azhar yang telah masyhur. Kembali, ia terus menyuarakan dan menjelaskan visinya tentang modernisasi islam. Dengin visi yang sama, bangkitnya Islam yang telah tercabik koyak oleh tangan-tangan fanatisme buta dan kejumudan, juga penghancuran oleh kolonialisme dan orientalis-orientalis barat yang mengaburkan cahaya islam yang mencerdaskan.

Akan tetapi, mesir saat itu bukanlah lagi dipimpin Raja macam Sholahuddin Al Ayubi, akan tetapi mesir saat itu dipimpin oleh seorang Raja dari dinasti Mehmet Ali yang telah membusuk menjadi penguasa Zalim yang berkongkalikong dengan kepentingan Inggris dan perancis, dan dasar Jamaluddin, ia tak berhenti. Ia kembali mengkritik habis korupsi dikalangan orang kaya dan berkuasa. Dia mengatakan bahwa penguasa Negara harusnya hidup dengan sederhana di tengah-tengah masyarakat sebagaimana pemimpin islam dimasa awal. Dia juga menyuarakan tentang demokrasi parlementer. Namun, sekali lagi dia berkeras, bahwa demokrasi yang dia maksud bukan berarti westernisasi. Ia adalah salah satu solusi untuk mengatasi kebusukan pemimpin-pemimpin muslim yang berkuasa di banyak Negara saat itu. Dia menemukan sebuah konsep dasar bagi demokrasi gaya islam dalam dua konsep sebagai pondasinya: syura’ dan Ijma’.

Ide tentang demokrasi ini kemudian membuat raja Mesir menjadi gugup, dan cercaan Jamaluddin tentang dekadensi kelas atas membuat tersinggung semua orang dengan tingkat pendapatan tertentu. Pada 1879, Jamaluddin di usir dari Mesir, dan ia pun berbalik menuju…

  1. India, Disana, telah tumbuh sebuah gerakan yang disebut Aligarh yang “liberal”, sebuah gerakan yang didirikan dan dipimpin oleh seseorang yang bernama Sir Sayyid Ahmad, gerakan ini akhirnya berkembang menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan oleh semua pihak. Tapi Jamaluddin melihat bahwa Sir Ahmad adalah seorang anjing  kecilpenjilat piaraan Inggris. Dia mengatakannya dalam satu-satunya buku utuh yang pernah ditulisnya. Bantahan terhadap Kaum Materialis. Inggris berang, dan ketika meletus pemberontakan di Mesir, Jamaluddin pun akhirnya di masukan kedalam penjara selama beberapa bulan.  Ia dilepas kembali ketika akhirnya pemberontakan mereda, tapi ia kembali di usir, dan karenanya pada tahun 1882 dia pergi ke ….
  1. 5.        Paris-Perancis, Di negerinya Napoleon ini dia banyak menulis artikel untuk berbagai publikasi dalam bahsa yang dikuasainya, Inggris, Arab, urdu, Persia, dan Perancis, bahasa-bahasa yang bukan hanya sekedar dikuasainya, namun juga mampu digunakannya secara artikulatif dan fasih. Dalam artikel-artikelnya ia mengembangkan ide bahwa Islam adalah inti agama yang rasional dan bahwa islam telah mempelopori revolusi ilmiah dunia. Dia selanjutnya bersikeras bahwa ke “kaku” an kaum ulama dan despot muslim telah menghambat kemajuan ilmu pengetahuan di dunia islam, ia juga mangatakan bahwa para rohaniawan dan despot agama yang lain, termasuk Kristen dan Yahuditelah melakukan hal yang sama. Tulisan yang sangat berani waktu itu. Hingga akhirnya banyak ulama di Negara muslim banyak melarang peredaran dari artikel ini dan membuat artikel ini beredar melalui jalur “bawah tanah”, dan salah seorang ulama  Indonesia yang banyak membaca artikel-artikel ini adalah KH. Achmad Dahlan yang kemudian mendirikan organisai Muhammadiyah di Indonesia.

 

Kembali ke Perancis, saat itu di Perancis, ada seorang filsuf bernama Ernest Renan, yang banyak mengatakan berbagai hal yang menyakitkan untuk di dengar, ia mengatakan bahwa umat islam secara inheren tak dapat berfikir ilmiah, orang China adalah “ras” dengan ketangkasan manual luar biasa tapi tidak memiliki rasa hormat, bahwa yahudi itu “tidak lengkap”, bahwa “negro” paling bahagia mengolah tanah. Namun menyenangkan Eropa karena dia mengatakan bahwa orang Eropa adalah penguasa dan ksatria secara alamiah, dan bahwa jika setiap orang melakukan apa yang menjadi tujuan mereka “dibuat” maka seluruh dunia akan menjadi baik. Renan mengatakan ini dalam ”La Reforme Intellectuelle et Morale” (Paris: Calmann-Levy 1929). Sebuah tulisan yang banyak mengundang perdebatan, dan tak seorangpun mampu mematahkan argument dari Renan kecuali seorang bernama Jamaluddin Al Afghani, mereka berdebat dalam perdebatan yang terkenal di Sorbone.

Dan oleh itu, semakin tenarlah Jamaluddin, dan kemudian setelah ketenaran dan kapasitasnya semakin diakui di Perancis. Ia dan muridnya yang bernama Muhammad Abduh memulai membuat sebuah jurnal penting yang bernama Al-Urwah Al Wutsqa (Ikatan Terkuat). Namun sayangnya Jurnal ini hanya terbit sebanyak 18 edisi sebelum akhirnya Jamaluddin dan Abduh kehabisan sumberdaya untuk terus menerbitkanya. Tapi dalam 18 edisi itu Jamaluddin berhasil menanamkan inti dari kredo yang kemudian disebut sebagai Pan Islamisme. Dia menyatakan bahwa semua yang tampak sebagai perjuangan local antara muslim dan Negara-negara eropa atas berbagai masalah khusus  seperti: antara Iran dan Rusia mengenai Azerbaijan. Antar Utsmani dan Rusia Soal Krimea, Antara Inggris dan Mesir mengenai pinjaman Bank, antara Perancis dan Aljazair soal penjualan biji-bijian, antara Inggris dan India, dan Afghanistan soal perbatasan, dll. Merupakan satu perjuangan besar antara hanya dua entitas Global; Islam dan Barat. Dia adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini sebagai kategori historis yang berdampingan dan tentusaja bertentangan. Sebuah kesimpulan mengejutkan yang menyatukan pandangan dunia Islam tentang cita-cita tegaknya kembali daulah islamiyah.

Suatu waktu selama periode ini, tampaknya Jamaluddin juga mengunjungi

  1. Amerika Serikat, Tetapi hanya sedikit yang diketahui tentang kegiatan-kegiatannya disana, dan tentunya beberapa kali keluar masuk….
  1. London-Inggris,  Tempat dimana ia berdebat habis dengan Rudolph Churchill, ayah dari Winston Churchill, dan dengan para pemimpin Inggris lainya tentang kebijakan Inggris di Mesir. Dia juga melakukan perjalanan ke Jerman, serta menghabiskan beberapa waktu di saint Petersburg, Rusia. Setelah jurnalnya ditutup, tak ada lagi urusan yang menahannya di Eropa, maka diapun pindah ke….
  1. Uzbekistan, Di sana, dia membujuk otoritas Tras Rusia untuk membiarkanya menerbitkan dan menyebarluaskan Al-Qur’an kepada Umat islam dibawah kekuasaan tsar, dan menerjemahkan, menerbitkan, serta menyebarluaskan leteratur islam lainya  yang telah tersedia di Asia tengah selama beberapa decade. Usahanya membangkitkan kebangkitan Islam di Uzbekistan.Disini Jamaluddin mengembangkan sebuah ide tentang Negara-negara muslim perlu menggunakan persaingan Eropa untuk mendirikan zona independen bagi diri mereka sendiri. Sebuah strategi yang akhirnya di adopsi Soekarno dan beberapa pemimpin Negara dunia ketiga untuk mendirikan gerakan “Non Blok” pada abad ke dua puluh. Kemudian pada 1884 dia pindah ke…
  1. Iran, tempat ia mereformasi peradilan sebuah hal yang membuatnya harus berhadapan dengan para ulama setempat, keadaan menjadi panas, dan ketika keadaan sudah tak dapat ditanganinya lagi ia lari kembali ke asia Tengah dengan terburu-buru. Namun pada 1888 raja Iran, Nasiruddin mengundangnya kembali untuk menjadi perdana menteri Iran, karena Nasiruddin berseteru dengan ulama setempat untuk memperebutkan kekuasaan. Jamaluddin memenuhi undangan Nasiruddin, namun menolak menjabat sebagai perdana menteri, ia hanya menjadi penasihat Raja. Namuan kali ini, alih-alih menyerang ulama, Jamaluddin justru menyerang Nasrudding yang menjual ”konsesi” ekonomi kepada kekuatan kolonialis. Contoh paling menonjol tentang hal ini adalahkonsesi tembakau tanpa lelang yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan Inggris, yang memberi kepada pihak berkepentingan di Inggris kendali atas setiap aspek produksi dan penjualan tembakau di Iran. Jamaluddin menyerukan Boikot terhadap tembakau, sebuah strategi yang di adopsi oleh Mahatma Ghandi (yang terkenal menyerukan India untuk memboikot kapas dari inggris dan memilih untuk memintal kapas mereka sendiri). Pidato Jamaluddin mendorong demonstrasi di iran untuk memprotes Raja, yang pasti menyesal telah mengundang Jamaluddin ke negaranya itu. Lebih jauh dari itu, Jamaluddin bahkan berbicara dengan salah satu Ayyatollah Iran untuk mengatakan bahwa konsesi tembakau tidak Islami. Sang raja kehabisan kesabaran, Jamaluddin di buang ke….
  1. Istambul-Turki, Dimana kaisar Utsmasni Sultan Hamid memberinya rumah dan uang saku. Sultan berfikir ide Pan-Islamis Jamaluddin tentu akan memberikannya semacam deviden politik tertentu yang menguntungkanya sebagai satu-satunya yang menggunakan symbol khilafah di dunia islam yang mulai porak-poranda. Apakah Jamaluddin diam? Tidak, dia melanjutkan mengajar, menulis, dan memberikan pidato. Intelektual dan para aktivis datang kepadanya dari setiap penjuru dunia untuk belajar. Pembaharu besar itu mengatakan kepada mereka yang berdatangan itu, bahwa ijtihad, adalah prinsip utama islam: tapi, ijtihad, harus berangkat dari prinsip-prinsip pertama yang berakar pada Al-Qur’an dan Hadist. Setiap muslim memiliki hak atas interpretasinya terhadap kitab suci dan wahyu, tetapi umat islam sebagai komunitas harus melatih  diri mereka sendiri untuk memahami prinsip-prinsip pertama yang tertanam di dalam wahyu itu. Kesalahan besar umat islam, alas an kelemahan meraka, kata Jamaluddin, adalah karena mereka berpaling dari ilmu pengetahuan barat, sembari merangku; pendidikan dan adat-istiadat barat yang bebas. Yang seharusnya umat islam lakukan justru sebaliknya: mereka harus merangkul sains barat tetapi menutup gerbang mereka bagi adat-istiadat social system pindidikan Barat.

Pada tahun 1895, sayangnya, seorang mahasiswa Iran membunuh Raja Nasruddin. Pemerintah Iran segera menyalahkan Jamaluddin dan meminta Turki untuk mengekstradisinya ke Iran untuk dihukum. Sebuah langkah ceroboh, walau memang mungkin saja berniat baik, namun keberhasilan berjuang bukan hanya peroalan tekad, namun juga lebih condong ke arah strategi.

Sultan Hamid menolak untuk mengirim Jamaluddin ke Iran, namun Ia menempatkan Jamaluddin dalam tahanan rumah. Jamaluddin kemudian meninggal di dalam tahanan rumah karena kanker mulut yang tidak mendapat penanganan medis yang seharusnya, karena ia tahanan yang tidak diperbolehkan berobat keluar negeri untuk mendapatkan penanganan yang lebih memadai. Pada tahun itu pula Jamaluddin meninggal dunia dan kemudian dimakamkan di Asia kecil, kelak, jasadnya akan dipindahkan ke Afghanistan untuk dimakamkan kembali. Terlepas dari negeri mana ia berasal, yang jelas jasadnya terbaring di Afghanistan: makamnya terletak tepat di jantung Universitas Kabul.

Sungguh menarik untuk diingat bahwa Jamaluddin tidak memiliki gelar atau jabatan kepemimpinan apapun secara resmi selama hidupnya. Dia tidak menjalankan Negara. Dia tidak memiliki posisi resmi dalam pemerintahan. Dia tidak memiliki tentara. Dia tidak mendirikan partai politik. Dia tidak memimpin gerakan. Tidak ada bawahan. Tidak ada atasan. Bahkan dia tidak meninggalkan banyak buku, atau bahkan satu buku yang memuat intisari filsafat politik yang koheren, tidak ada das Capital islamis. Pria ini murni pengusik pikiran, pengacau, dan pemberontak, itulah dia, sang inspirator.

Namun jangan Tanya tentang dampak bagi dunia yang ia lahirkan. Melalui murid-muridnya yang terinspiras olehnya Jamaluddin banyak sekali memberikan sebuah gambaran baru tentang dunia, sebut saja Muhammad abduh. Adalah seorang yang kemudian menjadi Top leader Universitas Al Azhar di Mesir. Abduh inilah yang kemudian mengelaborasi dan mensistematiskan gagasan Jamaluddin yang modernis atau pembaharu.

ZAghul, mendirikan partai Wafd di Mesir. Gerakan “mahdi” muncul di Sudan, Iran, boikot tembakau yang diilhaminya mendorong gerakan konstitusionalis pada abad ke 20. Jamaluddin mengilhami intelektual Afghan bernama Tarzi, yang kemudian mengikuti jejak Jamaluddin untuk mengajari Pangeran Amanullah, pewaris Afghannistan. Tarsi membentuk sang pangeran untuk menjadi raja yang modernis yang kemudian memenangkan kemerdekaan penuh dari Inggris dan menyatakan Afghanistan sebagai bangsa yang berdaulat hanya 22 tahun setelah kematian Jamaluddin.

Di Indonesia ada Muhammadiyah yang lahir juga karena pendirinya Achmad Dahlan terinspirasi pemikiran Jamaluddin, sebuah organisasi islam terbesar kedua di Indonesia yang juga terus membawa ide Jamaluddin, pembaharuan islam, itulah sebabnya muhammadiyah banyak melahirkan sekolah dan institusi pendidikan lainya di Indonesia.

Kemudian, murid-murid  Jamaluddin pun memiliki murid-murid pula. Kredo dan pesan berubah saat disampaikan turun-temurun. Beberapa aliranya tumbuh menjadi lebih politis secara radikal, beberapa lebih nasionalis, beberapa lebih developmentatis (terobsesi dengan pengembangan industry dan teknologi di Negara muslim dengan berbagai cara). Murid Abduh, teolog Suriah, Rosyid Ridho, mengelaborasi cara-cara bagi islam untuk berfungsi dasar bagi suatu Negara keturunan intelektual Jamaluddin yang lain adalah Hassan Al Banna, yang kemudian mendirikan gerakan islam transnasional terbesar di dunia, Ikhwanul Muslimin (Persaudaran Muslimin); yang banyak member pengaruh kepada dunia hingga saat ini.

Sulit rasanya membayangkan hanya seorang Jamaluddin mampu membuat perubahan sedemikian monumental dalam sejarah dunia, ia beroperasi seperti Nabi, dalam suatu cara. Intensitas kharismatiknya terus saja menyebarkan percikan nyala api kemanapun dia pergi.

Namun tetap saja, bahkan seorang manusia sebesar dan se’heboh’ Jamaluddin memerlukan tangan lain untuk terus menyebarkan ajaranya, karena usianya tak pernah cukup untuk dapat mewujudkan visinya yang besar. Dan begitulah tabiat kerja membangun peradaban. Selalu membutuhkan kerja yang turun temurun. Semoga kita mau dan mampu untuk meneruskanya…

24 Juni 2011 - Posted by | Artikel, Catatan Perjalanan, Sejarah ISlam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: