Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Nuansa Pagi (obrolan tentang Homoseksual dan Psikologi)

Oleh: Zaki Permana

Pagi itu sebagaimana yang biasa kami lakukan, aku dan istriku bercengkrama mesra di tempat tidur sederhana kami yang nyaman. Kami banyak bercerita tentang hampir semua hal yang ada didunia sambil kadang cekikian mentertawakan kebodohan kami, menangisi kehebohan nesatapa dunia, atau saling adu cemberut saat memang langit sedang mendung. Sebuah rutinitas biasa bagi keluarga biasa sebelum akhirnya memulai aktifitas luar rumah yang juga biasa-biasa saja.

Pagi itu, yang tumben di temani juga dengan segelas es kopi kesukaan ku, istriku memulai ceritanya.

“kemarin si Tuti cerita, kalo di kampusnya pernah kedatangan oleh kaum homoseksual. Mereka mempresentasikan kehidupan kaum marginal macam mereka yang sering mendapat diskriminasi dari kelompok social yang lebih mayoritas” mulai istriku yang duduk bersila disebelahku dan dan memangku sebuah bantal. Aku diam sambil menyeruput penuh nikmat kopi edisi khusus pagi ini.

“jadi kata Tuti itu, mereka dibagi menjadi beberapa grup diskusi untuk membahas persoalan homoseksual di tengah masyarakat dengan memperhatikan pengantar yang telah dipresentasikan para ‘dosen tamu’ di kelas mereka ”

Aku diam, berfikir, ‘kalau begitu pasti pihak penyelanggaranya adalah kampus, atau paling tidak dosen mata kuliah tersebut.’ Batin ku. Oh iya, aku lupa bercerita bahwa Tuti yang dimaksud istriku adalah salah seorang saudara kami, seorang mahasiswi semester 3 kami yang kuliah di salah satu universitas Negeri di Yogyakarta.

“Nah hasil dari diskusi itu, hanya kelompoknya Tuti yang mebuat kesimpulan bahwa ‘gay maupun lesbian adalah sebuah kesalahan, walau memang mereka membiarkan”

Istriku mengubah posisi duduk  kemudian bersandar pada dinding di belakangnya. “kalo menurut abi gimana?” belum aku jawab istriku sudah bicara lagi, nampaknya sudah punya pendapatnya sendiri istriku ini.

“Ini pasti ada upaya penggiringan opini mahasiswa biar berpaham neoliberal di kampus si Tuti. Lha buktinya, ‘dosen tamu’  mereka itu pasti diundang oleh kampus, atau paling tidak pihak kampus pasti menyetujui materi yang akan disampaikan di kelas, iya kan?”.

“terus..?” kata ku sambil meyaksikan wajah istriku yang makin cantik saja saat berubah serius terhadap suatu hal. Ia berhenti sejenak, menghela napas dalam-dalam. Untuk kemudian tancap gas lagi.

“kalo gini namanya penyesatan Bi, masak yang diundang hanya dari satu pihak saja, kalau begitu kan Presentasinya ga objektif. Padahal harusnya, kalo mau adil ya undang antara yang pro dan kontra agar para mahasiswa bisa menganalisanya sendiri…ya tho Bi?”

Aku paham bahwa istriku sedang memohon legitimasi rasional dari ku, aku menunduk dan memperhatikan es kopi pagi ku yang di sisi luar gelasnya mulai ber embun seolah-olah ia sedang memamerkan kesegaran.

“ihh Abi ini, diajak ngobrol malah ngeliatin gelas. Emang aku kalah cantik sama gelas itu”

Ah, terpaksa tertawa aku jadinya.

“ehm…” sok berwibawa aku hendak memulai. Istriku mendekat dengan intensitas perhatiannya yang membesar.

“logis juga argument mu…” .titik. Hanya itu yang ku sampaikan.

“ah….Abi……masak gitu doank tanggapanya. Ga seru!” rajuk istriku. Dan aku kaget, ternyata bibir istriku bisa semaju itu.

“kalo aku jadi Tuti, yang pertama kali ku lakukan adalah protes sama si dosen” kata ku “kok bisa?” timpal istriku tak sabar. “emang Abi mau protes apa?” sambungnya dengan masih tetap tak sabar.

“ya, kalau saja mas di posisi Tuti, mas akan ngomong sama si dosen dan si kelompok Homo bahwa yang mereka lakukan dikelas saat itu jelas merupakan pelecehan terhadap psikologi, dan seluruh mahasiswa psikologi di kelas itu.”

“karena ke-tidak imbangan” Tanya istriku.

“bisa jadi iya, tapi bisa jadi juga lebih dari itu.” Jawab ku.

Hening sebentar

“kamu tahu psikologi itu apa?” tanyaku kemudian pada istriku.

“jelas donk. aku kan juga mahasiswa psikologi!” jawabnya.

“sebenarnya mas ga begitu ngerti sih, karena mas ga pernah tahu teorinya.”

“tapi menurut mas, psikologi ada karena sebuah kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Dia muncul untuk menjadi jawaban dari misteri yang muncul dihadapan manusia. Sama ilmu-ilmu yang lain.” Kata ku memulai merangkai retorika dan gagasan.

“Ilmu yang kemudian melahirkan banyak teknologi di berbagai bidang adalah rangkaian jawaban dari sejuta masalah dan misteri di dunia ini… Misalnya Handphone. Ia lahir dari paduan ilmu dan kebutuhan manusia, Handphone lahir dari Ilmu dan permasalahan”.

“Menurutku inilah fungsinya ilmu, menjawab kebutuhan manusia.” Aku diam sebentar, membiarkan istriku mencernanya.

“demikian juga dengan psikologi. Ia adalah ilmu yang membuat manusia mengerti tentang kejiwaan. Dan kamu kira mengapa kita perlu mempelajari ilmu jiwa?” kata ku untuk sekedar mempercantik retorika.

“kenapa?” jawab ibu anak ku itu.

“menurutku mempelajari ilmu psikologi, selain untuk memahami masalah kejiwaan pada manusia, baik individu maupun kelompok, adalah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menyertainya juga, atau bisa juga untuk menghindari, meminimalisir dampak permasalahan kejiwaan pada perilaku manusia.”

“masa’ kita belajar hanya untuk mengerti saja, padahal ilmu itu menuntut aplikasi. Ilmu itu membutuhkan amal.”

Istriku mengangguk tanda setuju.

“jadi, karena psikologi itu adalah ilmu, mari kita sikapi ia secara sifatnya yang asli tersebut.  Sebagai ilmu”

“oke, terus kaitanya dengan masalah presentasi di kelasnya Tuti apa?” Tanya istriku.

Aku bangkit dari tempat tidur, kemudian turun dan berjalan menuju meja di dalam kamar dan mulai merapikan beberapa berkas yang semalam sudah kupersiapkan untuk ku bawa ke tempat ku bekerja. Pagi hari agak longgar bagi kami, karena tempat ku bekerja mengharuskan aku datang jam 10 pagi dan pulang jam 3 sore, sementara istriku berperan dirumah sebagai garda terdepan pendidikan bagi anak ku.

“Begini, sebelum kita lanjutkan perbincangan tentang presentasi di kelas si Tutik, sekarang mas mau Tanya sama ade dulu.”

“Menurutmu Abnormal itu apa?”

“hmm…ya tidak normal, kebalikan dari normal, atau…hmmm…ini…ya tidak normal…hehehe apa ya?” jawab istriku sambil cengar-cengir.

Aku tertawa, kemudian berfikir juga.

“ya, abnormal itu berarti tidak normal, nah sekarang normal itu apa?”

“ihhhh Tanya-nya kok gitu-gitu…normal itu ya…hmm….normal! sama dengan kebanyakan orang.” Jawab istriku, kulirik dia sebentar, telunjuknya teracung keatas dan kuperhatikan bibirnya mengucap ‘normal’ tanpa suara sambil memainkan bola mata indahnya yang menatap langit-langit kami yang berwarna putih polos. Duhh cantiknya istriku saat bingung kata batin ku tersenyum.

ding dong…ya normal itu bisa jadi diartikan sama dengan kebanyakan orang. Atau rata-rata orang. itulah sebabnya segala macam fasilitas umum yang normal dari infrastruktur negara sampai kurikulum pendidikan harus mengacu kepada kebutuhan atau kebiasaan rata-rata manusia, kebanyakan manusia, atau mengacu pada normal-nya seperti…kamu setuju sama mas?” dia mengangguk. Aku senang.

“Iya donk masa’ Koran harian umum diterbitkan dalam bahasa braile, dan hehe…tentu bakalan bingung kali ya kalau Pemerintah membuat peraturan Negara berdasarkan kebutuhan orang yang kena schizophrenia…hehehe…bisa-bisa ada peraturan ke kampus atau ke kantor pakai seragam rumah sakit jiwa…” kata istriku sambil terkekeh geli.

“haha..ya…Bukankah Ilmu kesehatan ada untuk menyelesaikan permasalahan ke-tidak normal-an kesehatan? Misalnya begini, normalnya mata itu berwarna putih dan segar, namun ternyata di beberapa kasus terdapat warna merah pada mata dan terasa gatal, maka jelas kalau warna merah dan gatal tersebut adalah wujud ke-tidak normal-an mata, oleh karenanya penyimpangan tersebut perlu di normalkan kembali dengan terapi dan jika perlu obat.” Sambung ku kemudian.

“sakit mata, disembuhkan, gitu kan maksudnya…” kata istriku menyederhanakan.

“ya kurang lebih begitu.” Kata ku senyum-senyum.

“sama dengan kejiwaan, bentuk dari penyimpangan kejiwaan haruslah disikapi secara ilmu kejiwaan juga, bukan berdasarkan empati, atau dari sudut pandang hak dan kewajiban.”

“sebab jika semua hal dipandang dari sudut pandang empati dan hak asasi akan repot jadinya.” Aku diam sebentar, mengamati wajah istriku yang terlihat mencerna.

“begini, sampai kapanpun, yang namanya Operasi itu pasti kejam, ada daging di sayat, kulit dirobek, dan darah yang mengalir…..tidak semua orang sanggup melakukannya. Misalnya ada seorang anak perempuan hamil yang pinggulnya kecil dan terlampau lemah untuk mengejan ketika hendak melahirkan, apakah mungkin sang suami dengan rasa empati-nya berkata, ‘jangan di operasi Caesar dok, kasian…’ kan tentu tidak, iya tho?”

“sang suami yang baik dan khawatir pasti akan berkata: ‘dok tolong lakukan hal terbaik untuk istri dan anak saya….”

“he’eh” kata istriku tampak semakin bersemangat mendengarkan kuliah dadakan ini.

“demikian juga dengan kejiwaan, homoseksual, baik Gay atau lesbian, harus disikapi dari sudut pandang psikologis, karena itu permasalahan kejiwaan yang perlu dan bisa disembuhkan, jangan hanya dilihat  dari sudut pandang hak dan kewajiban atau pun empati.”

“itu adalah wujud ketidak normalan, dan karenanya harus ada upaya penormalan…bukankah untuk itu kalian mempelajari ilmu psikologi, yakni untuk menormalkan perkara kejiwaan yang tidak normal dan menyimpang” terangku kemudian.

“nah buatku, adalah pelecehan terhadap ilmu psikologi yang kailian pelajari, jika di dalam pelajaran mengkaji ilmu psikologi tersebut, kalian justru seolah-olah dipaksa harus memandang masalah psikologi yang sedemikian itu adalah normal”.

“kok me-normal-kan?” sela istriku

“coba bayangin, kalian mahasiswa psikologi, sedang membahas fenomena psikologi, tapi justru mengesampingkan aspek bahasan psikologis-nya, dan hanya meninjaunya dari sudut pandang hak-kewajiban atau empati….Padahal itu jelas-jelas ketidak normalan atau penyimpangan kejiwaan. Kecuali jika yang di presentasikan atau didiskusikan Tutik dan kawan-kawannya itu soal bagaimana treathmet yang tepat untuk Menormalkan para kaum homoseksual….nah itu baru masuk….lha wong kalian belajar psikologi untuk menormalkan yang tidak normal dalam kejiwaan, eh lha kok malah ada ketidak normalan kalian malah disuruh melihatnya dari sudut pandang hak dan kewajiban.” Kata ku panjahg lebar dengan semangat yang meletup-letup.

Istriku diam, mencerna dan kemudian berkata. “aku setuju mas, memang seharusnya perlu ada treathment khusus untuk menyelesaikan ketidak normalan tersebut, treathment yang benar-benar sesuai, treathment yang benar-benar dibutuhkan para pelaku homoseksual. Agar tidak ada diskriminasi dan pengucilan terhadap pelakunya, namun justru upaya perbaikan yang berorientasi pada sembuhnya penyakit kejiwaan kaum homoseksual. Agar pelaku homoseksual tersebut bisa hidup normal sesuai dengan kodratnya sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna.”

“wah pinter juga kamu, ga nyangka….”

“eh sembarangan, istrimu ini ya pinter donk. Lha wong aku juga mahasiswa psikologi….kok” katanya sambil manyun…

”kecuali jika memang kendalanya bukan di psikis, tapi di fisik. Maka jelas penanganan medis perlu dilakukan juga. Kan ada tuh orang yang kelainan kromosom, secara kejiwaan memang perempuan, tapi badannya laki-laki….nah itu treathmen nya beda lagi….dah ya aku mau mandi dulu dah agak siang nih” kata ku.

“lho kok sudah si mas, kan aku masih mau diskusi lagi….” Katanya manja.

“tuh liat jamnya, sudah jam 9, aku juga belum ade bikinkan sarapan kan?…sudah sana bikinkan dulu, nanti ada hak yang tidak tertunaikan dengan normal lho…hehehe” selorohku sambil mendaratkan cium sayang ku di pipinya. Wah moment mencium sekilas selalu saja berarti buatku, sebab ronanya selalu saja muncul sehabis aku mencimnya sekilas seperti pagi ini. Membuat aku semakin klepek-klepek saja……

“ya udah, sana mandi…Abi mau sarapan apa?” katanya sambil tersenyum memandangku penuh cinta

“hmmm…kalo Mie instan boleh ga?” ups salah sebut…batin ku…benar saja kan, wajah manisnya kini berubah garang selayaknya musuh para Ultraman di Jepang.

“Gak boleh…Mie terus, yang lebih sehat kan banyak….” Katanya. Kulihat tarinya sudah memanjang.

“ya kalo gab oleh, terserah ade aja, yang penting ade yang buat, sebab kalo ade yang buat pasti enak…soalnya aku makan dengan perasaan bangga punya istri seperti kamu…” fyuh….si musuh Ultraman pergi sudah, bergani wajah ibu anak ku yang manis lagi…”aku mandi dulu ya chay…”

Dan aku pun pergi mandi sambil tersenyum….

4 Juli 2011 - Posted by | Catatan Perjalanan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: