Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Cinta Pertamax

Cinta, kata yang selalu terdengar indah bahkan untuk dilontarkan kepada orang yang hampir mati sekalipun. Kata aneh ini sering sekali terdengar, atau di perdengarkan oleh kita. kata yang sedemikian populer entah bagi dewasa atau bagi manula. semua mengerti, semua merasa paham pada kata antik yang satu ini.

Kata yang sedemikian ampuh untuk menjadikan kehidupan berwarna: jingga, marun, atau bahkan kelabu usang sebagaimana rembulan yang di tonton dari jarak 5 meter. Kata ini sedemikian berpengaruh buat kehidupan. karena bahkan semua hal di dunia yang kita kenal adalah sebuah bukti kecil dari kebesaran cinta sang Maha Pecinta yang agung. Allah SWT.

Cinta boleh saja dan mudah untuk melekat dimanapun, di pria, wanita, bayi, bahkan untuk sekedar kursi tua yang telah menjadi barang nostalgia. Ya, apapun dimanapun dan saat apapun, kita dapat dengan mudah menemui alasan untuk mencinta berserak di pelupuk mata yang memang mudah tergoda bling-bling keindahannya.”Flip” tiba-tiba cinta muncul.

Tapi apa jadinya jika cinta kita adalah cinta yang terpaksa dijejak kan ke dalam hati. Di dorong masuk oleh tentara-tentara media yang pongah memilihi diksi memikat sebagai algojonya. “Cintailah, sayangilah,kita harus mencintai…” Dan serupanya…srukk masuk begitu saja kedalam hati yang sebenarnya masih kita kunci pintunya dari dalam. Masuk dengan paksa tanpa terpikir berucap Assalamu’alaikum terlebih dahulu. Anehnya masuk dengan cara ini seringkali tak pernah kita sadari, hingga tiba-tiba pintu hati kita telah jebol begitu saja. Maka tinggalah kita merana dan merasa sangat bodoh.

Biasanya, cinta yang demikian itu tak akan tumbuh. Tunggu, bahkan sekedar untuk berhasil ditanam saja biasanya gagal, sebab cinta adalah produk Tuhan yang tak mungkin kita ciptakan dengan tangan fana kita. Ia muncul sebegitu saja dengan kerlap-kerlipnya yang tiba-tiba tanpa didorong-dorong, tanpa dijejak-jekan. Ia hanya muncul dengan sendirinya, perlahan mengalir lalu menghanyutkan kita karna sebuah alasan. dan yang mengalaminya pasti langsung mengelus kalbu hingga ia tertunduk dan mulai mengais puisi sebagai ekspresi yang kemudian muncul.

Itulah cinta yang benar, bukan cinta yang dipaksakan.

Seperti hujan malam itu, karna cinta aku menuruti kemauan istri yang haus hiburan untuk sekedar berkeliling melihat malam. Ya karna cinta, bukan karna takut akan cemberutnya yang serupa memedi kurang sajen. Murni. Layaknya bensin yang mulai mengering dari sepeda motor kreditan tiga ratus lima belas ribu perbulan ku.

Beberapa menit lalu. Dalam kerugup jas hujan yang tak cukup mahir melindungi kami berdua, istriku melingkarkan jemarinya di pinggang ku sambil membisiki kata, I love You. Aku senyum mendengarnya. tentu senang karena merasa dicintai. Kemudian kujawab kata cintanya dengan. “Kita butuh bensin sayang”. Ah…enak betul pacaran kami. Bisik hatiku, dan mungkin istriku juga.

Lampu kuning sebelah kanan kunyalakan, motor berbelok perlahan, masuk arena pertamina yang insya Allah sudah meningkatkan kualitas, kemudian berhenti di antrian kedua untuk bahan bakar pertamak yang di suruh oleh pom bensin untuk dicintai.

Aku tersenyum. Meng-iyakan spanduk biru muda yang dipasang dengan agak asal di pojok depan. “Cintai Kendaraan Anda, Cintai Pertamak”.

Aku mengantri, ku standarkan motor, ku buka jok belakang, kuangkat dan ku puntir tutup bensin, diam mengantri sambil memikirkan alasan untuk cinta pertamak.

“Berapa mas?” Tanya penjaga pom, “full mas”…”Eh berapa sekarang 1 liternya?” Kataku lancar saja. “Rp 7.450,- mas” jawabnya datar. sementara aku diam berdiri, tak lupa membiru. Mahal amat. Protes batinku, kemudian otak bekerja, berfikir tak cukup uang kalau begitu, kesimpulannya mengalir memerintah mulutku untuk berucap.”Premium aja deh mas”

Ah. Rasanya benar-benar patah hati, pertamak dan spanduk biru muda di depan pojok ku tadi menghianatiku, ternyata ia tak benar-benar mencintaiku. Buktinya, pertamak sama skali tak mengerti aku. Huh. Kubuang cinta didadaku.

Tunggu, rasanya aku ingat bahwa ternyata si biang keladi dari cinta itu adalah si spanduk biru muda di pojok depan tadi. Ia yang terus-menerus dengan sabar meng-ada-kan cinta untuk pertamak. Dia yang mengatakannya, ya dia. Tak lupa aku.

Bertambah sasaran jengkelku kali itu. bukan hanya pertamak, namun juga pada spanduk biru muda yang ditempel sembarang saja dipojok depan sana. “huh kalau saja dia tak terus membujuk”. batinku yang langsung di sambut dengan protes dari nurani “astagfirullah…kok jadi berandai-andai begini”. aku berdiri jengkel sambil menunggu si bapak mengisikan bensin ke dalam motor ku. sedang istriku berdiri diam agak jauh dari posisiku, memandangi spanduk biru muda itu. Lalu baru aku sadar bahwa, telah hilang setumpuk alasanku untuk mencintai pertamak.

Ah sial. Kalau tak sesuai untuk ku begini bagaimana bisa aku mencintainya. Walau ku tahu ia lebih baik, namun jika ia gagal memahami dan tak sanggup beresonansi dengan hati dan dompetku. Bagaimana bisa aku mencintainya. Ah dasar sial si spanduk biru muda di pojok depan tadi. (ia kembali jadi sasaran kambing hitam kekesalanku)

Setelah sampai rumah, istriku kembali menunjukan cinta. Dibikinnya secangkir hangat minuman warna merah muda yang manis itu. Ku teguk saja langsung. Enak. Dan sesuai untuk ku.

Cinta adalah perkara saling. Bukan sepihak. Bukan satu pihak saja yang harus berkorban, namun setiap steak holderharus berpeluh untuk memupuk cinta. Karna hanya dengan itu cinta meng-abadi.

Contohnya saja cinta ku pada pertamak. Aku tulus mencintainya. Aku membicarakanya. Aku meng…nya, aku meng…nya, aku meng…nya. Namun ia tak pernah sedikitpun membalasku. Malah semakin hari semakin jual mahal ia dihadapanku. Aku, akhirnya membuang cinta padanya, tak peduli lagi, bahkan pada spanduk biru muda dipojok depan tadi yang terus menempelkan kata, cintailah pertamak. Huh. Memang kufikiri. Aku sudah putus.

Cinta yang tak saling, hanya muncul sekejap, kemudian hilang.

Sebelum tidur aku mengatakan pada istriku yang cintanya selalu gratis untuk ku. “Yank, mengapa kita terus dipaksa mencintai oleh negeri ini? Padahal harga barang yang diminta dicintai itu, seringkali tak terjangkau untuk penghuni kebanyakan negeri ini. Bahkan kita diminta mencintai barang-barang yang kadar kualitasnya selalu -maksimal- seperenam dari barang sejenis bikinan cina?” Keluhku. “bukankah cinta adalah interaksi saling? Jadi kalau itu-itu yang diiklankan ingin benar mendapat cinta kita ya paling tidak harus mengerti kita. Betulkan?” Kataku sambil menatap istriku yang menatap ke lembar novel bacaannya.

“Aneh orang-orang ‘gede’ negeri ini yang memaksa kita mencinta tapi (bahkan) tak bisa memberikan kita alasan kuat untuk mencintai” kataku kemudian.”sebenernya, siap saja kita menjadi cinta dengan apa-apa yang disarankan orang ‘gede-gede’ itu, hanya saja tolonglah jangan cuman nyuruh-nyuruh cinta saja, tapi beri kami alasan kuat agar kami bisa secara otomatis mencintai…kan begitu, kamu setuju dengan ku yank?” kataku sambil menata bantal.

Istriku meletakan novelnya, dan berkata “sini ku peluk kau suamiku, cintai saja aku, biar tak ada spanduk biru muda yang gembar-gembor, tapi ku garansi kau, bahwa cintaku akan tetap ada untuk mu”.

Aku tenang. Dan berdo’a sebelum tidur. Semoga besok spanduk biru muda di pojok depan tadi bersedia mengganti kata-katanya menjadi. “Cintai Pertamak, yang Harganya sudah turun”. Kemudian dalam tidur ku kulum senyum. Amin.

30 Juli 2011 - Posted by | Catatan Perjalanan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: