Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Mari Mancari Hikmah Qur’an, dan menjadi manusia pilihan Tuhan

Oleh: Zaki Permana

Kadang Pertanyaan tentang tujuan suatu peristiwa adalah Pertanyaan yang paling sukar untuk dicari jawabnya. Sebab bisa jadi hanya Tuhan lah yang tahu pasti. Sedang kita, sang penerima suatu peristiwa atau suatu hal tersebut, hanyalah berusaha sebaik mungkin mengira-ira apa makna hakiki yang tersembunyi dibaliknya. Tentu dengan sekian banyak panduan dan tanda-tanda yang mungkin telah diberikan-Nya.

al qur'an

Oleh karena kita tidak pernah dengan pasti mengetahui tujuan orisinal illahiah suatu peristiwa, maka sering kali saat sang peristiwa datang, bencana misalnya, kita berdiri dalam podium dengan beribu tafsir mengalir dari setiap kepala yang menyaksikan, mendengar, dan mungkin mengalaminya.

Bencana fenomenal tsunami Aceh beberapa tahun silam misalnya, para Nasionalis yang merindukan selesainya konflik GAM-ABRI bisa saja menganggap bahwa itu adalah langkah illahiah untuk segera menyelesaikan konflik saudara tersebut. Atau mungkin bagi seorang pemerintah, yang harus selalu cenderung berfikiran positif dalam bencana dan segalanya, akan menganggap bahwa hal tersebut sebagai ujian yang akan membuat bangsa ini naik peringkat dalam ketangguhan. Dan bisa jadi bagi para mafia penanam ganja disana akan berfikir, “oh barangkali Tuhan sedang menghukum ku yang selalu mencari penghasilan dari barang haram ini”. Kemudian ia taubat dan beralih menjadi pedagang sapi di pulau lain..hmm…bisa jadi.

Maka membicarakan tujuan suatu peristiwa atau hal lain yang diciptakan Tuhan, cukuplah menjadi duga dan jangan seolah menjelma aksioma yang sudah jelas kebenaranya. Dan tidaklah perlu debat panjang dibuka. Titik. Tujuan hanya jelas saat memang Tuhan sendiri yang memberitahukan kita sebelumnya, sebut saja misalnya, ayat yang mengatakan tujuan penciptaan manusia dan jin oleh Tuhan dan Al-Qur’an, “dan tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah KU”. Oke, secara mudah kita akan langsung mengerti tujuan keberadaan kita karena, Tuhanlah yang memberi tahunya.

Semua tujuan dari peristiwa, hanyalah yang menciptakan peristiwa tersebut yang benar-benar mengerti. Dan kita, yang bergabung dalam lingkaran penerima peristiwa ini, mari berlomba menganalisa dan mengambil hikmahnya.

Kemudian soal hikmah, bisa jadi ini adalah Pertanyaan paling mudah yang bisa kita cari dari segala jenis penciptaan Tuhan di semesta raya. Sebab yang kita butuhkan bukanlah kepandaian analisa, atau daya pikir tajam ber IQ lebih dari seratus sekian. Mengambil hikmah dari segala jenis peristiwa hanya dibutuhkan sedikit kelapangan dada dan kebijaksanaan. Karenanya semua kita pastilah dapat mengambil hikmah dari segala sesuatu.

Kehebatan dari hikmah yang lain adalah, ia bisa datang dari segenap juta manusia yang memiliki tafsiran berbeda akan satu hal yang sama, dan pasti, selalu, hikmah tak pernah menyebabkan permusuhan atau perbedaan pendapat yang merusak. Karena tabiat hikmah hanya berpusat dalam kebijaksanaan hati, ia lahir dari kebijaksanaan, dan hanya akan melahirkan kebijaksanaan yang lebih.

Pantas saja, Karena pesona inilah, Tuhan seringkali mengatakan carilah informasi, lihatlah lebih dekat, amati, dan ambilah hikmah yang ada. Karena ia benar-benar dapat membuat kita yang selalu kurang ini menjadi sedikit lebih sempurna.

al qur'an 2

Umpama saja, Socrates yang kesohor itu, tak akan mungkin menjadi sedemikian mengemuka jika ia tak banyak merenung untuk mencuri hikmah yang luput dari perhatian sekian manusia lainya. Ia tak repot dengan tujuan suatu penciptaan, namun ia dalam merenungi dalam-dalam makna sebuah penciptaan. Dan seorang ibu akan dengan mudah menangis mengenang jasa budi orang tuanya saat ia benar-benar mengambil hikmah dari mengasuh anaknya. Hebat bukan.

Kemudian tentang Al-Qur’an, sebagaimana kitab suci agama lain di bumi, ia adalah kitab yang bukan hanya dapat dibaca oleh orang beragama islam saja, siapapun dapat membacanya, terlebih dengan maraknya Al-Qur’an yang berupa bahasa terjemahannya. Siapapun kita akan dapat dengan mudah mempelajarinya. Dan karena sifatnya yang sedemikian terbuka inilah, maka siapapun berhak untuk menyelidiki lebih dalam tentang kitab yang turun pada Nabi Muhammad ini.

Dan sudah menjadi tabiat umum nampaknya bila hasil penyelidikan selalu saja rantai Pertanyaan yang selalu muncul hingga puas dahaga keingintahuan sang penyelidik. Maka kemudian, wajar jika banyak sekali Pertanyaan tentang kitab yang paling banyak di baca dan dihapal diseluruh dunia ini.

Dari sekian banyak Pertanyaan, yang paling lucu bagi saya pribadi adalah pertanyaan tentang tujuan, “apa sih tujuan Allah SWT tidak menyusun Al-Qur’an ini dengan kodifikasi bab-bab sebagaimana buku lain?” bagi saya, hanya ada satu jawaban pasti, “Tanya saja langsung pada yang membuatnya. Allah SWT” selesai. Sebab sebagaimana yang sudah tertulis diatas, perkara tujuan bukanlah perkara kita, ia adalah murni perkara yang membuatnya, yang menciptakannya. Dan Muhammad serta para sahabatnya, mereka bukanlah pencipta Al-Qur’an, Muhammad hanya mem-forward-nya, sedang para sahabat mencatat dan membukukannya. Sebagaimana para penerbit buku dewasa ini hanya mencetak dan menyebarkannya. Tak lebih.

Sebagaimana tabiat asli dari hikmah, yang lahir dari kelapangan hati dan kebijaksanaan diri. Mengambil hikmah dari kitab yang selama belasan abad, sejak pertama kali diturunkan, tak pernah berubah kontennya ini, harus lah dengan kebijaksanaan dan kelapangan hati. Dan jika sudah mulai menimba Hikmah Al-Qur’an, maka terbelalaklah kita betapa hikmah yang kita temukan maha luas batasannya, sangat luar biasa banyak jumlahnya, dan sangat indah mempesona bentuknya. Coba saja cari jika tidak percaya.

Terhadap para pegkritiknya, para orientalis, Al-Qur’an justru sering menjawab tuding dan prasangka dengan ilmu pengetahuan manusia modern sendiri, baik tentang bahasa yang digunakan, susunan kalimat yang dipakai, atau istilah yang seringkali muncul. Sebab para orientalis biasanya mendewakan rasio, dan hal paling mudah bagi para pendewa rasio untuk menerima suatu kebenaran adalah dengan menjawabnya dengan logika ilmu pengetahuan yang empiric dan ilmiah.

Terhadap para manusia mabuk Tuhan. Yang merasa tidak membutuhkan Al-Qur’an. Para manusia yang rindu-nya kepada Tuhan bisa jadi keterlaluan, sehingga merasa diri hanya perlu merasai Tuhan tanpa perlu melaksanakan perintahnya, Al-Qur’an mengingatkan dengan kisah-kisah manusia yang menjadi kekasih-Nya tanpa perlu menjadi mabuk Tuhan dan meninggalkan segala bentuk keduniaan menjadi sesuatu yang sufistik dan mistis.

Kepada para pembelanya yang beriman, Allah SWT tersenyum dalam Al-Qur’an sambil berkata, “Fadkhuli fii ‘ibady. Wad khuli jannaty” Maka masuklah kedalam golongan-KU. Dan masuklah kedalam syurga-KU” indah dan sangat romantis bukan. Kepada para pembelanya, berlaksa surat cinta beredar didalamnya.

Dan kepada para pendustanya, Al-Qur’an hanya singkat berkata: “Falannazii dakum illa ‘adzaba..” maka rasakanlah! Maka tidak ada yang akan kami tambahkan kepadamu, kecuali azab.

Bagi para ilmuan, ia adalah kumpulan informasi awal Tuhan tentang keajaiban semesta dan kehidupan. Bagi para sejarawan, ia adalah jendela luar biasa terang untuk menengok masa lampau dan menggambar masa depan. Bagi para hakim ia adalah panduan akan model keadilan. Bagi segenap manusia, ia adalah tuntunan menapak hidup. Bagi sesiapapun kita, hikmah Al-Qur’an selalu saja berlompatan tak kenal limitasi nominal.

Selanjutnya, perkara paling magis dari Al-Qur’an ini adalah, membaca dan mentadaburinya demi hikmah, adalah langkah tercepat menuju penyempurnaan diri seorang manusia. Maka apalah ia, kecuali keajaiban.

Pantas saja ayat yang pertama kali diturunkan dalam Al-Qur’an berbunyi. “Bacalah, dengan nama Tuhan-Mu yang menciptakan”.

25 Agustus 2011 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: