Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

PAGAR RUMAH

Oleh: Zaki Permana

Pagar rumah, heh…itu merupakan hal baru bagi keluarga kami. Sebab selama ini kami selalu mengganggapnya bukan bagian dari realita kehidupan yang akan kami dapati.

Keluarga kami begitu miskin dan tersudut dari pergaulan lingkungan kami yang cenderung ‘berada’. Aku ingat suatu ketika saat hari kemerdekaan hampir tiba, sebagaimana biasa, para lelaki kampungku bekerja bakti untuk membersihkan lingkungan menyambut hai kemerdekaan yang akan segera diperingati itu. Aku ingat dengan jelas bahwa salah seorang tetanggaku mengatakan, “sebelah sana (arah rumahku maksudnya) tidak perlu dibersihkan, Sebab mereka bukan bagian dari lingkungan kita.”

Sakit hati aku mendengarnya, dan meski kejadian itu sudah lama berselang masih saja lukanya tetap berbekas dalam di hati ku. Bisa jadi sebenarnya aku telah memaafkan seseorang yang mengatakannya, bisa jadi itu hanya penafsiranku yang salah, namun tetap saja aku tak melupakannya. Dan Selanjutnya, keluarga kami pindah dari lingkungan ‘elit’ itu menuju ke lingkungan yang dianggap oleh ayah ku sebagai lingkungan yang lebih setara. Betapa aku muak dengan semua perasaan sombong manusia.

Lahir sebagai seorang anak pertama dari pasangan yang bahkan selama hampir 25 tahun menikah  belum juga dapat untuk membeli sepeda motor sendiri membuatku Kadang harus rela bertarung dengan perasaan marah Sebab terhina, baik dari keluarga sendiri atau sekedar tetangga. Keadaan ini membuatku tumbuh dengan tidak nyaman dan pemalu. Aku lebih suka mengurung diri salam kamarku saat di rumah, atau pergi keluar dengan teman-teman yang tak pernah dan tak akan meributkan dan memandang sinis pada kehidupan sederhana kami. Sebab itu sangat menyakitkan buatku.

Dalam kondisi yang serba kekurangan ini aku selalu teringat usaha ibu yang luar biasa, betapa kemudian aku menyayangi wanita tangguh itu. Pernah suatu ketika siang sangat terik dan aku baru saja pulang dari sekolah menengah pertama ku dengan bersepeda. Kehausan dan kelaparan membuatku langsung tergeletak di ruang tengah yang merangkap sebagai ruang makan, ruang keluarga, dan ruang sebagainya dikarenakan kecilnya rumah kami. Karena menyaksikan aku yang berkeringat dan kepayahan sepulang sekolah, ibu ku kemudian berkata bahwa ia akan keluar sebentar untuk satu keperluan, aku tidak tahu apa keperluanya saat itu. Tapi belakangan aku mengetahui bahwa ternyata ibu keluar untuk memetik buah mangga yang ada dihalaman rumah kami, dua buah jumlahnya, karena memang belum berubah banyak, kemudian berjalan ke beberapa tetangga untuk menjualnya, barangkali ia berharap dapat menukar buah itu dengan sepiring nasi agar terganjal laparku. Sementara dirinya, aku yakin masih saja lapar. Sama seperti keburukan yang menerimaku tadi, kejadian ini pun tak dapat terhapuskan dalam memoriku. Hingga kini.

Bagi kami, hidup di Perumahan berarti harus siap dengan segala macam persinggungan manusia yang kerap. Karena rumah berdempet dan saling berdekatan diantara semua tetangga. Wajar sebenarnya, namun yang terasa menyesakan adalah kenyataan bahwa di lingkungan kami bisa jadi kamilah objek zakat dan objek sedekah paling mumpuni diantara penghuni lain, dan Karenanya lah kami harus lebih sering mengendurkan kancing baju kami demi melonggarkan napas dan berharap dada berubah lebih lapang menyimak disparitas yang ditambah dengan, seringkali, diskriminasi.

Perumahaan kami berada di sebuah kaki bukit di kota kabupaten yang kurang begitu akrab dengan teknologi dan segala hasil kemajuan zaman, Pekalongan. Berbeda dengan Kota Madya Pekalongan yang selalu menjadi pusat kota, daerah ku, Kabupaten Pekalongan selalu saja mengalami berbagai ketertinggalan yang berarti. Begitu pula dengan daerahku tinggal. Perumahan kami dihuni oleh mayoritas Pegawai Negeri Sipil, PNS, yang kemudian oleh orang macam kami, yang ber ayah pekerja serabutan, menganggap mereka sebagai penduduk kasta tinggi, mungkin mereka juga berfikir seperti itu, walau jelas tidak semua tentunya.

Sebagai mana perumahan yang berdempet dan saling berhadapan, maka pagar rumah sudah menjadi semacam keharusan yang wajib ada dan menghiasi hampir seluruh rumah di perumahan kami. Aku ingat masa itu, hanya sebagian kecil rumah saja yang tidak berpagar, dan rumah ku termasuk salah satu didalamnya. Sedang rumah tak berpagar lainya biasanya adalah rumah tak berpenghuni atau rumah telah lapuk dan belum laku.

Bagi ku, sungguh sangat tidak menarik hidup dengan model seperti yang dijalani oleh beberapa tetanggaku, selalu bersaing dengan tetangga lainya dalam segala hal. Terlebih soal berbagai benda baru yang diperoleh mereka. Tentang kulkas, TV, springbed, mobil dan lain sebagainya. Sungguh bagiku itu semua tidak menarik, bukan karena barang tersebut terlampau jauh dari jangkauan ku. Namun karena aku benar-benar menganggap bahwa barang semacam itu tidaklah penting dan akan sangat ganjil jika berbangga dengan barang-barang ‘ringan’ semacam itu.

Saking bersaingnya, aku ingat tingkah beberapa tetangga yang memajang kulkas baru mereka selama beberapa minggu di ruang tamu, hah. Aku terkekeh jika mengingatinya, kulkas diruang tamu, jelaslah pasti otak yang punya rumah mungkin saja berada di dapur. Suatu ketika ibuku dipanggil secara darurat oleh seorang tetangga, dan karena panggilan darurat, ibu pun akhirnya setengah berlari menghampirinya, aku mengikutinya, penasaran barangkali ada yang dapat ku bantu, sang tetangga menggandeng ibu masuk kedalam rumahnya yang baru saja selesai di pugar. Kemudian dengan bangga ia mengajak ibu ku bercerita tentang beberapa hal yang sangat tidak penting di hadapan satu set computer ber processor intel Pentium 3 miliknya yang baru, aku SMU waktu itu, dan jelas bahwa si tetanggaku itu sedang berusaha memamerkan komputernya…haha, aku tertawa jika mengingatnya.

Itulah soal tetanggaku yang unik, dan banyak lagi tingkah lucu lainya, nantilah suatu saat akan aku ceritakan. Aku tidak berkata bahwa keluarga kami adalah keluarga yang tidak unik, Sebab setiap kita tentulah lahir dengan sekian banyak keunikannya masing-masing. Bagi ku, sebenarnya aku juga terserang keinginan untuk sama dengan tetanggaku dan mayoritas rumah lain di komplek perumahan ini, namun keinginan ku hanyalah tentang pagar rumah. Ya, pagar rumah, bukan yang lain, aku sangat ingin mempunyai pagar rumah sebagaimana semua teman ku di komplek. Aku sering sekali memimpikan bahwa suatu saat aku memiliki pagar cantik yang akan membatasi halaman rumah kami yang memiliki lebar sekitar 2,5 meter dari jalan gang perumahan kami. Aku sangat ingin sekali.

Entah penyebabnya apa, namun salah satu yang terus membangkitkan keinginan ku untuk memiliki pagar adalah ayam, kucing dan segala piaraan lain para tetanggaku yang Kadang dengan semena-mena membuang kotoran tanpa permisi dihalaman ku. Aku jengkel benar saat menjumpai beberapa tembelek, entah dari ayam atau kucing yang asik-asik saja menatap balik kepada ku dari halaman rumah kami. Terlebih lagi jika musim penguhan tiba, maka ayam yang berkeliaran dengan senang hati akan segera berteduh di teras rumah kami, dan selalu saja, jika ayam yang berteduh itu ada 5 ekor maka kotorannya sudah dapat dipastikan pasti berjumlah 6-8. Apakah teras kami begitu serupa dengan toilet.

Sebenarnya bukan tak pernah ibu menegur tetanggaku yang membiarkan ayam-ayamnya asik bermain di halaman ku, yang celakanya merupakan satu-satunya area bermain bagi ayam, bayangkan saja, perumahan kami penuh dengan jalan dan perempatan dengan sedikit fasilitas bermain dan ruang hijau. Kemudian semua rumah tetangga-tetangga ku berpaga, maka kemudian secara otomatis, halaman tercinta kami menjadi ajang bermain sekaligus ajang kakus para hewan yang agak tak terurus itu. Sebal rasanya. Ibu pernah berkata pada salah satu tetangga kami, “jeng, mbok ayamnya dibilangin, kalau mau nembelek jangan di halaman rumah ku…suruh kesungai atau ke kebun lain….” Sambil bercanda tentunya. Kemudian sang empunya ayam berkata, ”lha gimana ya mbak, lha wong ayamnya itu sudah ku tuliskan pesan di masing-masing kandangnya, agar mereka jangan keluar kandang….eh tapi masih keluar kandang juga” ibu terkekeh, dan berkata “makanya yang disekolahin jangan majikannya aja, ayamnya juga, biar bisa baca…” mereka terkekeh, aku, yang tanpa sengaja mengetahui diskusi sore itu, dongkol setengah mati. Biarlah…

Demikianlah, pagar rumah nampaknya telah menjadi impian sunyiku bertahun lamanya, hingga kini, hingga kemudian aku menikah dan menjauh dari rumah untuk memulai kehidupan ku sendiri bersama istri dan satu anakku, yang sialnya kami juga menempati rumah kontrakan yang tak berpagar. Tapi tenang saja, tahun depan aku sudah bertekad untuk pindah kerumah lain yang berpagar. Pagar rumah selalu saja membawa kenanganku akan silam dulu waktu aku masih sangat muda. Aku mengenangnya, dan kebanyakan selalu tersenyum membayang nasib pagar rumah impian.

Kini, aku sedang pulang kampung dan mengecat pagar rumah ku dengan warna hijau yang kupesan pada ayah kemarin, dan aku kembali mengenang masa dimana pagar merupakan benda idamanku. Ya, rumahku kini sudah berpagar, bahkan bercat hijau, semoga saja tak dikira masjid.

Kami memagari rumah kami saat aku menggelar walimah pernikahanku dulu, saat itu aku dan ayah saling iuran untuk memperbaiki rumah kami dan memberikannya pagar. Bahagia betul rasanya memiliki pagar rumah, hingga Kadang aku dengan sombong menatap pada ayam-ayam yang tengah sedih Sebab kehilangan area bermainnya, sambil berkata dalam hati “cari tempat lain sana, jangan di teroteriku”. Menyenangkan mengingati masa itu. Ayahku? Dia menjelma menjadi sosok paling aneh yang Nampak seolah habis kesurupan setan senyum. Senyum saja kerjanya. Dalam hati, aku tahu bahwa dia bahagia.

Kini, sambil mengecat pagar yang telah berusia sama dengan putra ku, 2 tahun, aku berbincang pada ayahku betapa efek pagar dapat merubah status social keluarga ku dilingkungan tersebut. dulu, rumah kami tampak paling berdebu dan cenderung kumuh berhias tembelek yang meski sudah dibersihkan berulang-ulang masih saja menyempatkan diri untuk singgah, dikarenakan ketiadaan pagar.

Sebenarnya aku sedih dengan hal ini, betapa kehidupan manusia yang singkat ini terasa begitu gersang Sebab berbagai status social yang seolah membatasi keakraban dan hubungan silaturahmi manusia, aku sedih Sebab aristokrasi yang terkenal sebagai budaya kaum ku, kaum jawa, ternyata juga tak mau hilang meski zaman sudah terus berganti, meski Hitler sudah tak punya Nazi lagi,  nampaknya budaya tersebut masih kental saja nampaknya.

Budaya inilah yang menjadikan aku terpaksa harus ingat dengan perkataan tetangga ku soal status sosial kami yang berbeda, budaya menyebalkan ini pulalah yang membuat masa kecilku menjadi agak menyedihkan untuk diingat, betapa tidak, aku, sebagai anak dari keluarga tak punya, selalu mendapat giliran nomer kesekian dan perlakuan berbeda dari tetangga, bahkan saudaraku, yang lebih berada. Menyakitkan rasanya.

Kini, kami telah memiliki pagar rumah, dan memang status ekonomi kami telah membaik, aku bahkan lebih baik lagi, Alhamdulillah. Namun kenangan akan masa sulit masih saja muncul menyakitkan. Dan jika teringat hal tersebut, aku jadi teringat dengan ungkapan manusia yang bahkan bukan seorang muslim, shekesphere, hancurnya sesuatu yang begitu besar pasti menimbulkan kerusakan yang lebih besar lagi, dunia harus melepaskan singa-singa kejalan, dan masyarakat manusia masuk kedalam kandang. Maksud ku aku tahu memang dunia ini payah, namun aku selalu takut membayangkan bahwa ternyata dunia ini, bisa lebih payah lagi.

Aku benar-benar berharap bahwa kelak, manusia akan dilihat bukan dari pagar rumah, kulkas, TV, Mobil dan segala macamnya yang akan segera rusak. Namun cukup diperhatikan sebagai manusia juga, makhluk yang sama dengan yang memandangnya, yang memiliki serangkaian hak sebagaimana si pemandang. Yang juga menuntut untuk dilunasi hak-haknya.

Sehingga kasih akan menggantikan sinis, sehingga cibir akan berganti ucapan penuh motivasi dan toleransi, sehingga kampungku akan menjadi lebih nyaman.

Sorenya, saat aku sedang melapisi cat pertama pagi tadi, ada seorang tetangga menyapaku, “nah kan jadi kelihatan rapi rumahnya” kata orang sebelah rumah ku, aku tersenyum dan berkata ramah “iya bu…”

Pagar rumah.

25 Agustus 2011 - Posted by | Catatan Perjalanan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: