Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Mari Prioritaskan yang Utama

Oleh: Zaki Permana

Zaman ini kondang dengan sebutannya sebagai zaman penghabisan. Tak mengherankan memang, Sebab mayoritas dari berbagai pertanda datangnya assa’ah atau kiamat telah marak bermunculan satu persatu dipelupuk mata kita semua, hanya tinggal beberapa hal lagi saja yang belum. Diantaranya yaitu kemunculan Al-Mahdi, Dajjal, dan Isa putra Maryam sang perawan suci.

Salah satu ciri akan segera berakhirnya zaman ini adalah ditandai dengan berkurangnya kalangan ‘ulama, ilmuan, kaum intelektual, para cerdik cendikia yang kesohor Sebab keunggulan daya jangkau nalar yang merekai punyai dalam bidang agama berganti dengan kalangan kaum bodoh yang selalu saja kebanyakan bicara. Ya, di zaman ini marak betul rasanya penceramah yang bermunculan disana-sini, namun minim sekali rasanya kita menyaksikan para cerdik cendikia yang tajam daya pikirnya, serta luas wawasan keislamannya. Karena terlalu banyak yang berbicara inilah kemudian umat zaman ini menghadapi masa kebingungan.

Salah satu Sebab kebingungan yang merajalela ini adalah kesalahan dalam menentukan beberapa prioritas perhatian. Yang seharusnya menjadi prioritas utama kita malah mengakhirkannya. Yang seharusnya kita dahulukan, malah seringkali kita sepelekan. Zaman ini memang lahir dari rahim penghuninya sendiri.

Yang menyedihkan adalah, kesalahan menentukan prioritas ini begitu mudah ditemui diseluruh penjuru bumi. Sebut saja serapa banyak orang tua yang merasa bangga dengan kecemerlangan prestasi akademis anak-anaknya disekolah, Sementara mereka acuh saja ketika mendapati anaknya bahkan tak dapat mengucapkan bacaan shalat dengan benar. Padahal sholatlah yang akan di perhitungkan pertama kali dalam yaumul hisab. Sedang prestasi sekolah (seandainya bermanfaat untuk kehidupan) paling banter hanya bermanfaat sekitar 50 tahun saja.

Sama dalam fiqh. Banyak saudara kita kaum muslimin yang salah kaprah dalam mempelajari dan menerapkan fiqh dalam kehidupan. Seringkali yang lebih utama dinomor sembilankan, berganti dengan perkara remeh temeh yang dikedepankan. Maksud hati ingin mencari pahala dengan mengamalkan sunnah nabi, namun malah dosa dan madhorot yang ditimbulkan jauhlah lebih besar karena sunnah lain yang lebih penting tak diterapkan.

Oleh Sebab itu para ulama menyampaikan bahwa hendaknya, dalam hal fiqh pun kita mengenal prioritas agar kita mengerti benar mana yang harus kita dahulukan dan kita akhirkan, mana yang harus disegerakan, dan mana yang harus ditinggalkan.

Misalnya saja dalam bidang ibadah. Tentu kita seharusnya lebih mengutamakan yang Fardhu dari pada yang sunnah, dan kita sudah paham benar hal ini, namun coba kita perhatikan beberapa saudara seagama kita, betapa banyak sebagian dari kita yang menyibukan dirinya dalam sunnah dan melupakan yang fardhu. Ada orang yang shalat malamnya sedemikian rajin, namun ketika siang hari pelitnya pun sangat luar biasa. Shalat malam adalah sunnah, sedang menjauhi sifat pelit adalah wajib hukumnya.

Ada lagi saudara kita yang sibuk memanjangkan jenggot, namun tetangganya seringkali merasa tidak nyaman dengan perilakunya. Padahal Kata nabi, “barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. Menjaga tali silaturahmi adalah perkara wajib hukumnya, sedangkan jenggot adalah sunnah. Maka manakah yang harusnya kita utamakan?

Dalam perkara hak juga banyak kekeliruan. Memang sebagai kaum beriman kita harus mengutamakan Allah SWT diatas segalanya. Namun dalam hal hak berbeda. Justru hak Terhadap manusia haruslah diutamakan ketimbang hak-hak Allah SWT atas manusia. Sebab para ‘ulama berpendapat bahwa, “sesungguhnya hak-hak dengan Allah SWT dibangun diatas toleransi, namun hak-hak dengan manusia dibangun diatas dasar kepastian (ketat)”. Betapa banyak sebagian kita yang lebih memilih naik haji ketimbang melunasi hutangnya? Padahal orang syahid saja bisa terhalang masuk syurga jika hutangnya tak segera dilunasi (HR. Muslim).

Buat apa kita berpenampilan islami namun sering kali menyakiti perasaan saudara kita seiman yang lain. Buat apa kita berkali naik haji, sedang tetangga sebelah rumah kita kelaparan, buat apa kita terus mengaji qur’an hingga khatam berkali-kali jika lingkungan kita rusak moralitasnya. Sesungguhnya islam diturunkan bukan untuk memasukan satu-dua orang dari kita kesurga. Namun untuk menjadi rahmat bagi semesta.

Maka menjadilah rahmat, dan janganlah menjadi mudharat. Menjadilah nikmat dan jangan pernah mencoba menjadi laknat. Dan Terhadap mereka yang masih keliru dalam menerapkan prioritas marilah kita saling mengingatkan. Tentu dengan bahasa yang santun, Sebab kata ulama fiqh dalam ushul fiqh, lebih utama menghindari mudharat ketimbang mencari manfaat.

Wallahua’lam.

29 September 2011 - Posted by | Artikel, Catatan Perjalanan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: