Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Peperangan Muhammad Rosulullah SAW

Oleh: Zaki Permana

Jika Muhammad menerima wahyu ketika beliau berusia 40 tahun, maka beliau menjadi Nabi pada sekitaran tahun 611M hingga 612M, hal ini diukur dari banyaknya periwayat sirah, atau sejarah beliau yang mengatakan bahwa beliau lahir pada hari senin 9 Rabi’ul Awwal tahun gajah (waktu itu belum ada tahun hijriyah), atau bertepatan pada 20/22 April 571M. setelah itu, selama lebih kurang 13 tahun menjalani kehidupan kenabian di Makkah bersama umatnya yang masih sedikit, Muhammad mahsyur dengan peristiwa-peristiwa penindasan yang menimpa dirinya dan sahabat-sahabatnya dari para pembesar Quraisy dan kabilah lainya dikarenakan dakwah umat islam yang sangat ditentang oleh mereka.

Penindasan ini terus berlangsung dengan sangat tidak manusiawi, terlebih lagi Terhadap pemeluk islam yang bersal dari kalangan kelas bawah. Banyak dari mereka yang terpaksa harus meregang nyawa atau menghadai trauma berkepanjangan dikarenakan siksaan para pembesar-pembesar kabilah yang memang berkeudukan sebagai orang kaya raya di Makkah, Sebut saja Billal Bin Rabbah, seorang budak berkulit hitam dari Etiopia yang telah gembur benar tubuhnya menghadapi siksa pembesar Quraisy yang menjadi tuanya, Ummayah bin Kholaf. Sebuah batu yang berdiameter besar (yang konon untuk mengangkatnya dibutuhkan sekitar 2 atau 3 orang) diletakan pada dada Bilal yang telah di baringkan telentang dan terikat di tengah panasnya Gurun, yang ketika siang hari suhu udaranya bisa mencapai 43˚C tanpa minum dan makanan sembari dicambuki terus menerus, Bilal kemudian diselamatkan oleh salah seorang sahabat nabi yang menebusnya dengan tebusan yang besar untuk kemudian dimerdekakan. Sungguh beruntung sang Bilal, berbeda dengan keluarga Yassir, yang hingga harus meregang nyawa dengan mengenaskan disiksa majikannya.

masjid

Muhammad Rosulullah SAW sendiri pun setelah meninggalnya sang paman, yang merupakan pembesar Quraisy, akhirnya harus menghadapi upaya-upaya penindasan yang menyedihkan bahkan upaya pembunuhan. Pernah suatu ketika saat beliau sedang Shalat di Ka’bah, ia pernah akan dijatuhi batu besar diarah kepalanya, atau pernah suatu ketikaUmar bin Khattab yang masih belum beriman saat itu mondar-mandir mencari beliau dengan pedang terhunus untuk membunuhnya, hingga upaya pamungkas seluruh bani kabilah Makkah yag mengepung rumah beliau pada suatu malam dengan tujuan semua pengepung itu menancapkan ujung pedangnya pada diri Rosulullah SAW. Beruntung dari semua upaya pembunuhan tersebut Rosulullah SAW masih diselamatkan oleh Allah SWT sehingga makar yang dilakukan oleh kaum musyrikin makkah itu berujung pada kegagalan, bahkan dalam kasus Umar, hal tersebut justru menjadi pintu gerbang masuknya ia sebagai pengikut  Muhammad Rosulullah SAW, bergabung menjadi seorang Muslim yang taat, dan bahkan telah melegenda cerita kepahlawanannya di kemudian hari.

Suatu ketika pula, bahkan ketika Abu Tholib paman Nabi masih hidup, Kaum Quraisy melakukan sebuah upaya politik kejam luar biasa berupa pemboikotan total keluarga Nabi Bani Hasyim dan seluruh kaum Muslimin yang mengikuti beliau, sehingga seluruh kaum muslimin dan bahkan Nabi beserta keluarganya terhimpit pada kesulitan hidup yang luar biasa. Hal ini dapat dibayangkan secara mudah mengingati kondisi Makkah yang memang sangat kering dan tandus itu, mereka para kaum muslimin dan keluarganya tidak bisa melakukan perniagaan sebagaimana biasa sehingga mereka kemudian sangat kesulitan mendapatkan bahkan makanan keculi sangat sedikit sekali, bahkan diceritakan oleh salah seorang sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqqas, mengenai dampak pemboikotan tersebut sebagai berikut: ”Pada suatu malam aku keluar untuk buang air kecil. Tiba-tiba aku mendengar sesuatu kejatuhan air seniku. Setelah kulihat ternyata itu adalah sekepingkulit unta kering. Kulit itu kuambil lalu kucuci, bulunya ku bakar, kemudian kulit itu kurendam dan kurebus. Dengan kulit itu aku dapat megisi perut selama tiga hari”.

Wajar jika kemudian para kaum muslimin sangat mengingini pindahnya mereka untuk mengungsi kedaerah lain, Itulah sebabnya mereka di syariatkan kemudian untuk berhijrah atau berpindah dari Makkah ke habasyah (tempat Hijrah yang pertama), kemudian beberapa tahun kemudian mereka Hijrah lagi ke Yastrib  (yang kemudian berubah nama menjadi Madinah setelah dirubah oleh Rosulullah SAW) dan Rosulullah SAW menyusul kemudian.

Di Negeri Madinah inilah sebuah Negara islam dirintis, dibangun, dan kemudian berkembang hingga meluas menaungi 2/3 dunia selama lebih dari 800 tahun kemudian. Sebuah daerah miskin-heterogen itu disulap menjadi sebuah Negara yang kokoh, makmur, dan egaliter-toleran kepada setiap perbedaan yang ada, hal ini termaktub jelas dalam perjanjian damai yang berperan sebagai undang-undang dasar Negara dan disebut kemudian sebagai Piagam Madinah.

Di Madinah ini pulalah kegiatan militer Rosulullah SAW dan para sahabatnya dimulai, diawali dari ekspedisi-ekspedisi kecil yang kerap hingga diselingi oleh peperangan-peperangan besar yang berkecamuk sengit antara kaum muslimin dan para musuhnya, kaum kafir Quraisy dan juga Yahudi (yang semula sekutu namun karena mereka berkhinat dan juga turut memusuhi kaum muslimin akhirnya  merekadiperangi juga oleh Rosulullah SAW).

Rosulullah SAW meninggal di usia 63 tahun, dan menempati Madinah selama lebih kurang 11 Tahun. Dan selama 11 tahun inilah lebih kurang ada 40 ekspedisi militer dan beberapa kisah penjebakan yang dilakukan oleh beberapa musuh islam Terhadap sahabat-sahabat Nabi yang keluar dari Madinah tanpa Maksud mengadakan ekspedisi Militer.

Tidak semua dari ekspedisi itu di ikuti oleh Rosulullah SAW, adakalanya beliau ikut sebagai panglima perang di medan pertempuran, adakalanya pula ia mengutus wakilnya sebagai panglima dari para sahabat-sahabatnya yang dipercaya.

Pada awalnya ekspedisi militer yang dilakukan oleh Rosulullah SAW adalah ekspedisi pengintaian guna mempelajari dan mengetahui kondisi geografis daerah barunya, mengetahui detail jalan-jalannya Sebab kaum Quraisy adalah bangsa pedagang yang menggantungkan hidupnya untuk berdagang ke Syam, daerah utara jauh Madinah dan habasyah di Musim dingin, ekspedisi-ekspedisi ini juga dilakukan untuk mengetahui dan menimbang suku apa saja yang tinggal dengan beliau, mengukur sejauh mana resistensi dan keberterimaan suku-suku arab di sekitar Madinah Terhadap beliau, jika resisten seberapa besarkah kemungkinan bahaya yang mungkin saja ditimbulkan. Jika menerima seberapa besarkah penerimaannya, dapatkah mereka membuat perjanjian persekutuan untuk saling berkongsi ataukah malah masuk kedalam pemerintahan islam sebagai kesatuan dari kaum muslimin.

Ekspedisi awal ini terbukti sebagai ekspedisi yang sangat penting bagi kelangsungan dakwah Nabi di Negara barunya, Sebab, hanya selang beberapa saat semenjak ekspedisi-ekspedisi pengenalan dan persiapan dilakukan, mulailah kaum muslimin menghadapi fase baru ekspedisi, yakin ekspedisi defensive demi mempertahankan kesatuan Negara yang telah dibentuk. Dikatakan difensif Sebab, peperangan-peperangan yang terjadi Selanjutnya adalah terjadi disekitaran Makkah. Ini artinya, para musuh islamlah yang datang menyerang kedalam territory muslim untuk melancarkan makar-makar mereka. Memang ada perang di sekitaran kota Madinah yang dilakukan oleh kaum muslimin, sebagaimana perang untuk menghadapi kaum yahudi bani Quraidzoh dan beberapa yang lain, namun ini pula dilakukan dikarenakan mereka telah terlebih dahulu melangar perjanjian damai Piagam Madinah yang telah disepakati dan diam-diam berusaha melakukan upaya militer sistematis untuk memusnahkan kaum muslimin secara masal dari dalam.

Baru setelah ekspedisi difensif inilah Rosulullah SAW mulai melakukan ekspedisi-ekspedisi militer yang bersifat offensive atau menyerang ke daerah-daerah lawan untuk membebaskan kedzaliman disuatu Negeri sekaligus membawa rahmat yang elimpah ruah kedalamnya. Sebagaimana ekspedisi Fathu Makkah (penaklukan Makkah) dan ekspedisi perang Tabuk, yang bermaksud untuk membebaskan masyarakat sekitar Tabuk dari penjajahan bangsa Romawi yang menindas keras.

Yang perlu diingat adalah, tidak semua ekspedisi militer yang dilakukan oleh Rosulullah SAW selalu berakhir dengan kekerasan dan peperangan. Terkadang justru berujung pada perjanjian damai yang menguntungkan kedua belah pihak atau malah berujung pada kemenangan kaum muslimin yang bersih tanpa setetespun darah sebagaimana ekspedisi menjelang perjanjian Hudaibiyah dan ekspedisi penaklukan Makkah, dimana Nabi membawa 10.000 kaum muslimin dari Madinah yang semuanya menyarungkan pedang tanpa pernah menghunuskannya walau sebentar.

Adapun prinsip peperangan yang selalu diterapkan oleh beliau adalah:

  1. Pasukan kaum muslimin wajib menjadikan Allah SWT sebagai orientasi utama dalam setiap pertempuran.
  2. Pasukan kaum muslimin dilarang untuk memerangi mereka yang tidak memerangi kaum muslimin, tidak membahayakan kaum muslimin, dan tidak memberikan bantuan kepada kaum yang memusuhi kaum muslimin bahkan dalam kancah pertempuran sekalipun. (HR. Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas dalam hadist menjelang perang badr: ”…Barang siapa bertemu dengan Abul Bakhtary bin Hisyam, janganlah membunuhnya, barang siapa bertemu dengan Al Abbas bin Al Muththali janganlah membunuhnya. Sesungguhnya ia diajak pergi dengan paksa”).
  3. Pasukan Kaum Muslimin selalu diminta berdialog terlebih dahulu sekaligus berdakwah kepada musuh, karena memang Nabi lebih mencenderungi perjanjian damai ketimbang permusuhan dengan pedang. (wa ma kunna muadzdzibina hatta nab’atsa rasuula…Dan tidaklah kami meng’azab sebelum kami mengutus Rasul…Qs. Al Israa 15)
  4. Pasukan Muslim dilarang untuk membunuh para perempuan, manula, anak-anak, dan mereka yang tidak turut berperang memerangi kaum muslimin, sebaliknya kaum muslimin diperbolehkan membunuh siapa saja yang membantu pasukan musuh memerangi kaum muslimin.
  5. Pasukan kaum muslimin dilarang untuk merusak tanaman yang mereka lewati, atau yang terdapat dalam medan pertempuran atau daerah taklukan, kecuali jika pepohonan atau tanaman tersebut dapat membantu kemenangan kaum muslimin dalam peperangan secara signifikan sehingga harus dihancukan.
  6. Pasukan Kaum Muslimin juga dilarang untuk merusak bangunan sipil atau bangunan ibadah para ahlul kitab, Yahudi dan Nashrani.
  7. Pasukan kaum muslimin diwajibkan menyerahkan seluruh harta rampasan perang atau Ghanimah kepada Nabi untuk kemudian dibagi secara merata sesuai dengan fungsinya dalam perang. Dan untuk dibagikan kepada kaum miskin muslim yang membutuhkan.
  8. Pasukan kaum muslimin harus adil dalam berperang, sekalipun Terhadap musuh-musuhnya.
  9. Pasukan kaum muslimin dilarang keras untuk bertindak berlebihan dalam perang.
  10. Pasukan wajib menguburkan siapa saja yang meninggal dunia akibat peperangan dengan baik, dan tidak berlaku dzalim sekalipun Terhadap mayat-mayat musuh islam di medan perang.

Kode etik peperangan ini begitu agung dan mulia, terlebih lagi kode etik peperangan ini muncul di zaman dimana masyarakat pada umumnya waktu itu adalah masyarakat arab yang gemar dan bahkan ketagihan berperang dengan brutal dan kesadisan yang membuat ngeri siapapun. Lihat saja apa yang dilakukan oleh Hindun istri Abu Sufyan Terhadap jenazah Hamzah bin Abdul Muththolib dalam perang Uhud, ia membedah dan menincang-cincang jenazah yang telah tanpa nyawa itu demi kepuasan dan kegemasan hatinya Terhadap sosok Hamzah, lebih jauh dari itu, wanita Jahil yang belum masuk islam itu kemudian mengeluarkan hati Hamzah untuk kemudian dikunyah-kunyahnya. Sehingga Rosulullah SAW pun akhirnya bersedih dan menangis luka demi menyaksikan apa yang terjadi pada jenazah yang dikoyak-koyak secara biadab tersebut. Masyarakat Arab jahiliah saat itu, bahkan Terhadap mayat saja mereka tidak memiliki etika karena kebenciannya yang sangat besar, terlebih lagi Terhadap manusia yang hidup, pastilah akan ditimpakan penyiksaan yang membuat bulu kuduk merinding.

Periode sebelum memasuki zaman modern di bagian barat dunia pun sama. Lihat bagaimana kejamnya tragedy inquisition terjadi di belahan bumi Eropa. Pembunuhan-pembunuhan tanpa pengadilan terjadi marak disponsori gereja Katholik Terhadap siapa saja yang dikehendaki oleh gereja, dengan tuduhan kafir, homoseksual, tukang sihir, dan lain-lain. Pembantaian sadis mereka lakukan dengan cara-cara yang juga sungguh jauh dari peri kemanusiaan.

Pembakaran, penyaliban, penenggelaman, menyikat dengan sisir besi, meminumkan air panas, menggoreng manusia dalam minyak panas lumrah dilakukan manusia periode itu, baik di timur dan barat. Sebut saja cara eksekusi mati The Brazen Bull, yakin cara membunuh manusia dengan memasukan manusia kedalam panic dari kuningan yang berbentuk sapi. Kemudian memanaskannya dengan api hingga orang didalamnya matang. Sungguh cara pembunuhan yang didisain untuk menyiksa. Namun di dalam periode gelap semacam itu, islam justru hadir dengan etika perang yang sedemikian santun dan berwibawa. Sungguh sebuah kode etik aneh yang mulai.

Ekspedisi-ekspedisi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pengiriman pasukan ke Siful-Bahr, 1 Ramadhan 1H. Hamzah sebagai panglima membawa 30 orang pasukan menghadang Abu Jahl dan tentaranya yang berjumlah 300 orang. Tak jadi berperang Sebab di lerai oleh Majdy bin Amr Al-Juhanny yang meruoakan sekuu kedua belah pihak.
  2. Pengiriman pasukan ke Ragibh, 1 Syawal 1H. Ubaidah bin Al Harist bin Abdul Muththolib membawa 60 pasukan menghadapi Abu Sufyan dengan 200 pasukan. Pasukan hanya saling lempar anak panah dari jauh.
  3. Pengiriman pasukan ke Al-Kharrar. Dzul-Qo’idah 1H/ Mei 623M. Sa’ad bin Abi Waqqosh, pasukan musuh berhasil melarikan diri.
  4. Perang Abwa’, Shafar 2H/ Agustus 623M. Sa’ad bin Ubadah bersama 70 orang pasukan. Berujung pada perundingan damai Terhadap bani Dhamrah.
  5. Perang Buwath, Rabi’ul Awwal 2H/ September 623H. Rosulullah SAW bersama 200 orang sahabat menghadang Ummayah bin Kholaf yang membawa 100 orang, namun tidak terjadi apa-apa dalam ekspedisi ini.
  6. Perang Safawan. Rabiul Awwal 2H/ September 623M. Rosulullah SAW bersama 70 sahabat mengejar Kurs bin Jabir al Fihry yang merampok Madinah. Namun mereka berhasil lolos, perang ini juga disebut sebagai Perang Badr Ula.
  7. Perang Dzul-Usyairah, Jumadal-Ula dan Jumadal-Akhir 2H/ Nopember-Desember 623M. Rosulullah SAW bersama 150-200 pasukan mengejar khafilah Abu Sufyan. Namun Abu Sufyan berhasil lolos.
  8. Pengiriman pasukan ke Nakhlah, Rajab 2H/ Januari 624M. Abdullah bin Jahsy bersama 12 orang. Sebenarnya adalah tugas pengintaian, namun karena pasukan muslim bertemu dengan pasukan Quraisy maka terjadilah pertempuran, kemenangan berada di pihak Muslim.
  9. Perang Badr Kubra, Ramadhan 2H/ 624M. Rosulullah SAW bersama 315 orang sahabat dengan 2 Kuda Perang dan 70 ekor unta (1 unta dinaiki secara bergantian oleh 3 orang, Rosulullah SAW pun turut bergantian dengan para sahabatnya), tidak memiliki banyak alat perang termasuk baju besi, menghadapi 1300 pasukan Quraisy dengan 100 Kuda, enam ratus baju besi, dan unta yang cukup banyak (tidak diketahui persis jumlahnya, yang jelas dalam sehari mereka biasa memotong 9-10 ekor unta untuk makan, jika perjalan mereka menempuh waktu 1 minggu maka mereka telah menghabiskan 63-70 ekor unta hanya untuk makan pasukan) beserta pemimpin-pemimpinya di sebuah lembah bernama Badr yang terletak 144,5 km sebelah barat daya Madinah. Kemenangan berada di pihak muslim. Abu Jahal dan Umayyah bin Kholaf serta beberapa pembesar musyrikin makkah tewas di dalam perang ini, sisanya lari kocar-kacir kembali ke Makkah.
  10. Perang Bani Sulaim, Syawwal 2H. Rosulullah SAW bersama 200 penunggang unta mendatangi tempat Bani Sulaim di Al Kudr yang telah mengimpun kekuatan, namun sebelum terjadi peperangan mereka telah lari terlebih dahulu.
  11. Perang Bani Qainuqa’
  12. Perang as-Sawiq (tepung)
  13. Perang Dzi Ammar
  14. Perang Buihran
  15. Perang Uhud, Syawwal 3H, Rosulullah SAW bersama 700 sahabat (setelah Abdullah bin Ubay, gembong kaum munafik, mundur bersama 300 pasukannya) menghadang pasukan kaum musyrikin Makkah yang berangkat bersama 3000 pasukan. Dalam perang ini kaum muslimin mengalami kekalahan setelah sebelumnya berada di ambang kemenangan. Kekalahan ini dikarenakan pasukan kaum muslimin lalai dalam menjalankan perintah Rosulullah SAW sehingga merusak strategi. Dalam perang ini tercatat sebanyak 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Diantara meraka yang syahid adalah: Hamzah Bin Abdul Muththolib, Abdullah bin Amr bin Hasan, Amr bin Jamuh, Hanzalah, Abdullah bin Jahsy, Mush’ab bin Umair, dan lain sebagainya. Dalam peperangan ini Rosulullah SAW juga mengalami luka-luka namun cukup ringan.
  16. Tragedi ustusan ke kabilah Ar-Raji’
  17. Tragedi Bir-Ma’unnah
  18. Perang bani Nadhir
  19. Perang Najd
  20. Perang ke 2
  21. Perang Dumatul-Jandal
  22. Perang Ahzab (Pasukan sekutu)/ Khandaq (Parit), April 627 M, Nabi memimpin upaya perlindungan diri dari serangan pasukan sekutu (ahzab) yang berjumlah 10.000 pasukan lebih terdiri dari kaum Quraisy Makkah, Kaum Arab Badui dari bani Ghatafan, Kabilah kinanah, tihamah, dan Najd. Strategi yang digunakan dalam perang ini adalah strategi penggalian parit di perbatasan Madinah. Perang ini lebih menyerupai perang urat syaraf yang banyak menguras energy psikologis kaum muslimin karena perang ini terjadi disaat masa kritis kaum muslimin (musim paceklik dan musim dingin yang sangat), ditambah kecemasan yang besar karena serangan dari luar dan dalam kota Madinah sendiri. Perang ini dimenangkan oleh kaum muslimin, paling tidak karena ada 3 sebab, pertama, strategi parit. kedua, karena siasat Nu’aim bin Mas’ud. Ketiga karena pasukan sekutu diterjang angin topan.
  23. Perang Bani Layhan
  24. Perang Bani Mushthaliq (Perang al-Muraisi’)
  25. Pengiriman pasukan ke bani kalb, Sya’ban 6H. bertindak sebagai panglima Abdurrahman bin Auf. tidak terjadi pertempuran, bani kalb masuk islam seluruhnya.
  26. PAsukan Ali bin Abi Thalib bersama 200 prajurit berangkat ke bani sa’d bin Bakr, Sya’ban 6H. Ali menyerang meraka namun bani Sa’d melarikan diri.
  27. Pasukan Abu Bakar Ash Siddiq/ Zaid bin Haritsah ke Wadil Aula, Ramadhan 6H.
  28. Pasukan Kurz bin Jabir Al Fahry ke penduduk Urainah pada syawwal 6H.
  29. Ekspedisi Umrah ke Makkah pada 1 Dzul-Qa’idah 6H. Rosulullah SAW bersama 1500 orang sahabatnya berangkat ke Makkah dengan tujuan untuk menunaikan ibadah umrah, namun dihalangi oleh orang Quraisy. Dalam ekspedisi ini terjadi pula Bai’at Ridwan yang dilakukan Nabi bersama 1500 sahabatnya untuk mengambil sumpah setia mereka untuk bersedia menyerang Makkah karena mereka mendengar kabar bahwa utusan kaum muslimin Utsman bin Affan telah dianiaya dan di bunuh di Makkah. Kemudian ekspedisi ini berakhir dengan perjanjian genjatan senjata antara Muslim dan kafir Quraisy selama 10 tahun setelah kaum muslimin mendapat kabar bahwa Ustman tidaklah dibunuh, dan kaum muslimin baru diijinkan umrah pada tahun berikutnya dengan syarat tanpa membawa senjata kecuali sebelah pedang yang disarungkan (tidak dihunus), perjanjian ini kemudian dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah.
  30. Perang Dzu Qarad
  31. Perang Khaibar dan Wadil Qura, terjadi pada bulan Dzulhijjah/muharram, dalam pendapat lain terjadi pada tahun 7 H. dipimpin oleh rasulullah, kaum muslimin berangkat ke daerah Khaibar untuk memerangi bangsa yahudi, yang merupakan musuh dalam selimut dan bahaya laten. Yahudi inilah yang menjadi pemodal sekaligus pemrakarsa perang Ahzab. Ada 8 benteng yahudi di Khaibar yang berhasil ditaklukkan oleh kamum muslimin dengan pengepungan, peperangan dan berakhir dengan perundingan damai.
  32. Perang Dzatur Riqa
  33. Perang Mu’tah,  terjadi pada bulan Jumadil ‘Ula 8H. pasukan berjumlah 3000 orang ini dipimpin oleh Zaid Bin Haritsah, kemudian Ia gugur, setelah itu digantikan oleh Ja’far Bin Abi thalib , setelah Ia gugur maka tampuk kepemimpinan dipegang oleh Abdullah Bin Rawahah, dan setelah Ia juga gugur kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Khalid Bin Walid. Dalam perang ini kaum muslimin menghadapi 200.000 prajurit Romawi bersenjata lengkap. Khalid mengambil langkah yang cukup bijak, yakin mundur dari perang ini. Namun, pihak Romawi mengalami goncangan kerugian yang jauh lebih besar daripada kaum muslimin. Diantara hkikmah yang didapat dari perang ini adalah, terangkatnya wibawa kaum muslimin di mata bangsa Arab sehingga Bani Sulaim, Asgja, Ghafaran, Fazarah dan lainya (yang sebelumnya memusuhi islam), setelah ekspedidi militer tersebut berduyun-duyun masuk agama islam.
  34. Ekspedisi pasukan ke Salasil
  35. Ekspedisi pasukan ke Khadirah
  36. Fathu Makkah/ Penaklukan Makkah, pada Fathu makkah Rasulullah membawa 10.000 sahabatnya untuk mendatangi Makkah. Ini adalah peneklukan terindah yang pernag tercatat dalam sejarah. Tak ada pertumpahan darah dalam penaklukan ini, dan bahkan setelahnya kaum Quraisy justru berbondong-bondong ber bai’at (melakukan janji setia) kepada Nabi dan kemudian menjadi Muslim yang taat. Peristiwa ini pun dicatat sebagai Revolusi sosial-budaya yang signifikan, dimana Ka’bah dibersihkan dari berhala dan budaya jahiliyah yang sesat menyesatkan ditutup untuk selamanya.
  37. Perang Hunain, terjadi pada bulan Syawwal 8H. Rasulullah bersama 12.000 orang berangkat menuju Bani Tsaqif dan Hawazin disuatu lembah Authaz didekat Hunain. Pada awal peperangan kaum muslimin dibuat bercerai berai akibat sergapan musush yang bersenjatakan panah. Namun Rasul, ketika melihat pasukannya berlarian justru merengsek ke depan dengan sekitar 100 orang sahabat saja menghadapai ribuan pasukan musush, aksi heroic dan berani ini kemudian menghadirkan kembali semangat juang kaum muslimin yang akhirnya kembali mengatur barisan juang dan meraih kemenangan yang gemilang.
  38. Perang Tha’if
  39. Perang Tabuk, Rasul memimpin 30.000 pasukan untuk menghadapi Romawi diTabuk. Perang ini lebih menyerupai tes loyalitas kaum muslimin Terhadap nabinya. Tak terjadi kontak fosisk dengan Romawi pada akhirnya, namun ujian berat justru di alami pada saat perjalanan pasukan menuju Tabuk, dimana kondisi saat itu sedang terjadi musim panas yang sangat terik. Ali Bin Abi Tahil tidak ikut serta dalam peperangan ini karena diperintah oleh nabi untuk menjaga Madinah. Ekspedidi ini adalah ekspedisi terakhir bagi nabi.
  40. Ekspedisi Militer Terakhir, Shafar 11H. Usamah bin Zaid (pemuda 18 tahun) menjadi panglima perang. Rupanya Allah SWT menakdirkan pasukan ini menjadi pasukan dua pemimpin kaum muslimin, yaitu Rosulullah SAW dan Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu

Itulah beberapa catatan tentang perang yang dilakukan oleh Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Jika di perhatikan, mayoritas yang terjadi adalah perang untuk mempertahankan diri, dan memang selain dari difensif Nabi juga memberlakukan perang ofensif, akan tetapi dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Menghindarkan ancaman dan bahaya laten yang mengancam keselamatan kaum muslimin. Hal ini sebenarnya dapat dikategorikan sebagai defensive juga, akan tetapi lebih aktif. Perang ini dipandang perlu dilakukan, karena jika tidak, ancaman musuh akan berkembang dengan nyata dan berbahaya. dalam kategori ini mencakup perang; Khaibar, Hunain, Thaif, dan lain-lain.
  2. Membebaskan suatu Negeri/kaum dari penjajahan dan kedzaliman kolonialisme; Perang Mu’tah, Tabuk, dll

Diluar hal ini, saya beranggapan bahwa Nabi tidak melakukan peperangan.

29 September 2011 - Posted by | Artikel, Catatan Perjalanan, Sejarah ISlam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: