Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Perang Badr Kubro (1)

Oleh: Zaki Permana

Latar Belakang

Setelah mayoritas kaum muslimin hijrah ke Madinah, mereka benar-benar bersiap menjalani kehidupan baru dengan permulaan yang benar-benar baru. Sebab mereka meninggalkan Makkah dengan terburu-buru sebagaimana layaknya pengungsi di era sekarang. Tak ada pengungsi yang membawa serta harta benda mereka ke pengungsian, malah kebanyakan pengungsi hanya membawa bekal pakaian yang melekat di badan saja dan beberapa bekal secukupnya selama perjalanan. Waktu itu, belum terbayang bagi muhajirin ini bahwa mereka akan membangun kehidupan baru di Madinah, yang terbayang di benak mereka adalah cara secepat dan seaman mungkin untuk keluar dari Makkah hingga tiba di Madinah.

Harta yang ditinggal ini kemudian dirampas seluruhnya oleh kaum musyrikin Quraisy Makkah, selain itu ada juga yang secara terang-terangan harta benda mereka dirampas oleh kaum musyrikin ketika kepergok hendak hijrah.  Sebagaimana kisah Shuhaib yang dicegat oleh kaum Quraisy. Orang-orang Quraisy itu mengatakan kepadanya; “Dulu engkau datang kepada kami dalam keadaan hina dan sengsara. Setelah hidup dengan kami, harta bendamu melimpah ruah dan engkau mendapatkan apa yang engkau dapatkan, kini engkau hendak pergi begitu saja membawa hatra bendamu. Demi Allah itu tak akan terjadi!” kemudian Shuhaib berkata; “Bagaimana menurut kalian jika harta bendaku ku serahkan kepada kalian, jika harta bendaku kuserahkan kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan aku?” kemudian Quraisy berkata; “baiklah”. Demikianlah yang dilakukan oleh kaum Quraisy kepada kaum muslimin yang hendak hijrah. Dalam hal ini Shuhaib beruntung karena dia adalah termasuk orang terpandang yang memiliki harta berlimpah oleh Karenanya ia di minta dengan baik-baik, namun tidaklah demikian dengan nasib kaum muslimin lain yang tidak memiliki kedudukan, mereka dirampas dengan paksa. Harta tersebut dikumpulkan menjadi satu gunungan besar, kemudian oleh Abu Sufyan bin Harb dijualnya di Syam, Damaskus.

Sementara itu di Madinah, kehidupan baru dimulai. Dan tentu saja, sebagaimana setiap hal baru bergeliat tentu akan diawali dengan kesulitan terlebih dahulu ketimbang kemudahan. Di Madinah inipun kehidupan tidak serta-merta berjalan lancar, terutama kehidupan sosial dan ekomni kota tersebut. karena Itulah kemudian Nabi, sebagai pemimpin tertinggi kota tersebut memandang perlu dilakukannya upaya stabilisasi krusial di Madinah. Dan hal tersebut dilakukan dengan dua hal, stabilisasi militer dan stabilisasi internal dengan jalan dibuatnya piagam Madinah (Sebuah undang-undang yang berisi kesepakatan kaum muslimin, Yahudi, dan penduduk Madinah lain untuk mengatur kehidupan di Madinah).

Stabilisasi militer ini berbentuk pada penyiapan pasukan oleh Nabi dan dimulainya beberapa ekspedisi-ekspedisi kecil guna menegaskan kepada masyarakat disekitar Madinah dan tentu saja juga untuk kaum musyrikin Makkah, bahwa eksistensi kaum muslimin telah kokoh. Dan citra akan ketangguhan eksistensi ini sedemikian penting bagi kelangsungan hidup penduduk Madinah yang muslim. Sebab dengannya masyarakat Badui dan beberapa kabilah yang tidak menyukai islam akan berfikir dua kali sebelum berangkat menyerang Madinah, serta beberapa kabilah lain pun mulai mempertimbangkan untuk membuat perjanjian damai dan bahkan menyatakan diri sebagai sekutu kaum muslimin, atau sekaligus menjadi bagian kaum muslimin. Sebagaimana yang dilakukan oleh bani Dhamrah, bani Mudlij.

Kaum muslimin yang hijrah menuju Madinah tidak seluruhnya berasal dari kalangan menengah bawah yang memiliki harta sedikit, namun juga banyak dari kalangan konglomerat yang memiliki harta berlimpah ruah, sebut saja Abu Bakr, Ustman bin Afan, Abdurrahman bin ‘Auf, Hamzah Bin Abdulmuththalib, Mus’ab bin Umair, dan lain sebagainya adalah orang-orang yang terkenal sebagai juragan kaya tanah Makkah. Harta mereka yang sedemikian banyak inipun ludes di rampas oleh kaum musyrikin kota Makkah.

Sedangkan masyarakat Madinah, adalah masyarakat yang ekonominya dikuasai dan di setir oleh bangsa Yahudi Madinah, mereka dibodohi dan terus menerus dihasut untuk saling berperang oleh Yahudi, sehingga mereka tidak sempat untuk memikirkan kesejahteraan dan kemapanan ekonimi mereka. Masyarakat Madinah pun dipaksa memasuki system keuangan yahudi yang selalu menyuburkan riba’.

Keahlian ekonomi Masyarakat Madinah bukanlah berdagang semacam orang Makkah. Mereka hanyalah petani kurma berpenghasilan minim dan cenderung berada dalam kesusahan. Terlebih lagi dengan ditambah daya rusak pertikaian antar kabilah Aus dan Khazraj, semakin membuat kehidupan masyarakat Madinah menjadi lebih susah.

Pada awal hijrah, kaum muslimin Madinah harus bertarung dengan diri mereka sendiri, bahwa mereka harus menampung pengungsi Makkah yang tanpa harta padahal kehidupan ekonomi mereka sendiripun sangat sederhana.

Tidak berat sebenarnya bagi penduduk Madinah untuk menjalani hal tersebut, Sebab keimanan kaum ini telah sampai pada puncaknya, dan atas jasa pengorbanan yang sedemikian besar Itulah kemudian mereka dicatat oleh Allah SWT dan kaum muslimin sebagai kaum Anshor, kaum penolong Nabi dan para Muhajirin.

Namun demikian, kaum Muhajirin tidak berkeinginan untuk dapat memanfaatkan ketulusan hati kaum Anshor tersebut, mereka merasa perlu untuk tidak memberi beban kepada saudaranya seiman tersebut, sebagaimana kisah Abdurrahman bin ‘Auf yang setelah ditawari separuh harta dari saudaranya yang Anshor beliau berkata, “terima kasih banyak atas tawarannya, namun beritahu saja aku dimanakan letak pasar?”

Itulah sebabnya nabi tak mau menerima sumbangan tanah dari kaum anshor yang sudah jelas-jelas berkeinginan untuk mensedekahkan tanah mereka bagi Nabi, bahkan mereka cenderung berebut untuk dapat memberikan sumbangan kepada Nabi dan Muhajirin yang lain. Tapi nabi dan para sahabatnya tak mau memanfaatkan kesempatan tersebut. mereka tetap membangun kehidupan mereka sendiri dari awal dengan kemampuan mereka sendiri pula.

Ditengah kondisi yang serba sulit inilah tersiar kabar bahwa khafilah dagang Abu Sufyan baru saja pulang dari Damaskus membawa sejumlah harta kekayaan kaum muslimin yang telah dijual. Jumlahnya tidak main-main, Abu Sufyan membawa 1000 ekor unta bermuatan penuh dengan Nilai lebih dari 5000 dinar berpengawal lebih dari 40 orang.

Mengetahui hal ini, Nabi kemudian mengumpulkan sahabatnya untuk menghadang kafilah tersebut dengan Maksud merebut kembai harta kaum muslimin dari tangan Abu Sufyan bin harb dan juga sebagai warning kepada musyrikin Makkah untuk berhati-hati Terhadap kaum muslimin yang telah kuat, seolah Nabi berkata kepada mereka, ‘kalian tak bisa lagi berbuat sewenang-wenang kepada kami wahai kaum musyrikin.’ Kemudian beliau berangkat bersama 313 atau 317 sahabat keluar Madinah.

Akan tetapi ternyata Abu Sufyan mengetahui keberangkatan kaum muslimin Madinah yang menuju kafilahnya dari mata-mata yang dia sebar untuk mencari informasi. Karena Itulah ia kemudian mengutus anak buahnya untuk berangkat ke Makkah dengan segera dan meminta bala bantuan kepada kaum Quraisy Makkah agar sudi melindungi harta yang dibawa kafilahnya. Sebab harta tersebut akan dibagi-bagi kepada pemuka Quraisy sesampainya Abu Sufyan di Makkah.

Utusan kemudian berangkat, dan melaksanakan perintah Abu Sufyan dengan baik. Oleh karenanya Quraisy, dipimpin oleh Abu Jahl sebagai panglimanya berangkat dengan 1300 pasukan, 100 kuda, 600 baju besi (baju besi dan kuda perang adalah peralatan perang yang mewah saat itu), dan unta yang jumlahnya tidak diketahui.

Kemudian, Abu Sufyan yang sangat waspada dan cerdik ini pun berjalan menghindari jalur menuju Makkah secara langsung, ia sadar bahwa jika ia dan kafilahnya berjalan melalui jalur biasa maka bisa jadi ia akan bertemu dengan Nabi dan para sahabatnya. Oleh Sebab itu ia memilih berbelok menghindari jalan utama dan memilih jalur memutar menuju laut untuk menghindari bentrokan.

Dan dengan langkahnya ini memang akhirnya kafilah dapat diselamatkan. Namun pasukan Makkah sudah terlanjur bergerak, maka kemudian Abu Sufyan berkirim surat kepada pasukan berisi peringatan bahwa tujuan dari berangkatnya pasukan Makkah adalah untuk menyelamatkan harta curian, bukan untuk berperang, dan kini harta tersebut telah selamat.

Namun, Abu Jahl yang congkak berang dengan surat Abu Sufyan ini, ia berkata bahwa ia tak akan kembali ke Makkah sebelum meneruskan perjalanan menuju Madinah untuk membunuh Muhammad. Karena posisinya sebagai panglima inilah kemudian ia ditaati oleh pasukan Makkah. Sehingga pasukan tersebut meneruskan perjalanan menuju Makkah melalui lembah Badr.

Pasukan Nabi, yang sadar bahwa targetnya telah lepas, akhirnya mengetahui serangan Quraisy ini lewat aksi intelejen yang berhasil menangkap 2 budak milik Quraisy. Dari penangkapan ini kemudian Nabi mengetahui bahwa pasukan Makkah terdiri dari 1000 pasukan dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap dari pasukan kaum muslimin.

Ada kisah menarik saat 2 budak ini tertangkap oleh telik sandi Nabi, waktu itu yang berhasil mengangkap mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqosh. Setelah kedua budak ini dibawa ke camp pertahanan kaum muslimin maka kedua budak ini di introgasi oleh penangkapnya, saat itu Nabi sedang Sholat (dan dalam sebuah Hadits shahi diterangkan oleh ‘Aisyah: “jangan tanya tentang lamanya sholat Nabi”).

Kedua budak ini dipukuli dan dipaksa untuk memberikan informasi yang mereka ketahui tentang pasukan Quraisy, mereka dipukuli dan ditanyai tentang Keadaan Abu Sufyan, karena memang kaum muslimin berangkat untuk menghadai Abu Sufyan bukan Quraisy. Karena kesakita kedua budak ini kemudian berkata, “ya kami memang budak Abu Sufyan” lalu setelah itu mereka dibiarkan.

Seusai sholat Nabi menemui mereka dan berkata “ketika kedua budak itu berkata benar kalian pukuli, namun ketika mereka bohong kalian malah membiarkan mereka. Demi Allah SWT budak ini tidak berdusta, Dua-duanya memang kepunyaan Quraisy”. Dalam hal ini Nabi tidak senang dengan cara kasar interogasi yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut. Kemudian interogasi diambil alih oleh Nabi, kemudian terjadilah dialog diantara mereka:

Nabi       : “Beritahukan kepadaku Keadaan orang-orang Quraisy”

Budak   : “Mereka ada di belakang bukit pasir itu, yang anda lihat di pinggir sebelah sana”

Nabi       : “Berapa banyak jumlah mereka?”

Budak   : “Kami tidak tahu”

Nabi       : “Kalau begitu beritahu kepadaku, berapa banyak unta yang mereka potong setiap hari?”

Budak   : “ kadang-kadang Sembilan, kadang-kadang sepuluh ekor”

Nabi       : “Kalau begitu, jumlah mereka 900 sampai 1000 orang!”

Nabi       : “Siapakah pemimpin-pemimpin Quraisy yang ada ditengah-tengah mereka?”

Budak   : “Utbah dan Syaibah, dua anak lelaki Rabi’ah; Abul Bahtari bin Hisyam; Hakim bin Nizam; Naufal  Khuwailid; Al Harits bin Amir; Thu’aimah bin Ady; An-Nadhr bin Harits; Zam’ah bin Al Aswad; ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl); Umayyah bin Khalaf; dan lain-lain”

Setelah itu Nabi berkata kepada para sahabatnya: “ketahuilah, Makkah sekarang mengerahkan pemimpin-pemimpinya untuk menyerang kalian!” (Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq. Dan hadist serupa juga diriwayatkan oleh ‘Ali bin Abi Thalib, dan juga dari Anas bin Malik dalam versi yang lebih ringkas)

Saat itu kaum muslimin hanya memiliki 2 ekor kuda dan 70 ekor unta yang mereka tunggangi bergantian, 3 orang untuk satu unta, disini Nabi juga termasuk yang bergantian dengan pasukannya. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ibn Ma’ud dengan sanad hasan dari al hakim dan sahih dari muslim:

Menjelang perang Badr, tiap tiga orang dari pasukan muslimin mengendarai seekor unta. Abu Libabah, dan Ali bin Abi Thalib bersama dengan Rosulullah SAW dengan seekor unta. Ketika tiba giliran beliau menunggang unta dua orang sahabat Nabi berkata, ‘ya Rosulullah SAW, Biarlah kami berjalan dan anda tetap naik,’ beliau menjawab, ‘kalian tidak lebih kuat berjalan daripada aku, dan aku tidak lebih kurang membutuhkan pahala daripada kalian.’”

Karena melihat ketimpangan yang besar inilah Nabi mengajak sahabatnya untuk berembug demi menghadapi situasi yang cukup mengagetkan dan tak diduga ini.

Maka berkumpulah para sahabat dari muhajirin dan anshor di sekitar Nabi membentuk sebuah majelis permusyawaratan militer, ada tiga komandan muhajirin disana yang mewakili 82-86 kaumnya, komandan-komandan ini tak gentar dan siap meneruskan penghadangan pasukan yang hedak menyerbu Madinah tersebut. namun golongan muhajirin adalah golongan minoritas dari pasukan ini, sedangkan kaum anshor adalah golongan mayoritas yang terdiri dari sekitar 61 orang dari ‘Aus dan 170 dari Khazraj. Mereka inilah yang sebenarnya tidak diwajibkan berperag, Sebab dalam perjanjian antara mereka dan Nabi di bukit aqobah beberapa tahun silam tidak mencantumkan hal demikian, kaum anshor akan melindungi Nabi di dalam Madinah, namun bukan di luar Madinah. Ditambah lagi memang karena situasi ini muncul dengan sangat tak terduga.

Diawal mereka keluar untuk menghadang kafilah berkekuatan 40 orang pengawal, kini tiba-tiba mereka harus berhadapan dengan 1000 pasukan lebih dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap dari mereka. Maka munculah kekhawatiran dalam diri pasukan ini. Dan sebagai panglima Nabi perlu menanyakan kesediaan pasukan untuk maju.

Kondisi ini dilukiskan oleh Allah SWT dalam surat al anfal ayat 5-6,

5.  Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya,

6.  Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).

Nabi kemudian berkata, “Bagai mana pendapat kalian (kaum Anshor)?” kemudian yang menjawab adalah pemimpin mereka, Sa’ad bin Mu’adz. Ia berkata:

“Demi Allah SWT, tampaknya anda menghendaki ketegasan sikap kami ya Rosulullah SAW?” beliau menjawab:”benar” Sa’ad melanjutkan: “ya Rosulullah SAW kami telah beriman kepada anda dan kamipun membenarkan kenabian dan kerasulan anda. Kami juga telah bersaksi, bahwa apa yang anda bawa adalah kebenaran. Atas dasar Itulah kami telah menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Ya Rosulullah SAW jalankanlah apa yang anda kehendaki, kami tetap bersama anda. Demi Allah SWT seandainya anda menghadapi lautan dan anda terjun kedalamnya, kami pasti akan terjun bersama anda. Seorangpun diantara kami tidak akan mudur dan kami tidak akan bersedih bila anda menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan hal itu akan kami buktikan dalam konfrontasi nanti. Semoga Allah SWT memperlihatkan kepada anda apa yang sangat anda inginkan dari kami. Marilah kita berangkat dengan berkah ilahi”

Bukan main senangnya hati Nabi mendengar ucapan sahabat Anshor tersebut, ucapan tersebut menunjukan loyalitas dan kepatuhan yang sedemikian tinggi Terhadap Nabi mereka. Kemudian Nabi bersabda:

“Berangkatlah dengan hati gembira….! Allah SWT telah menanjikan kepadaku salah satu diantara dua golongan…..demi Allah SWT aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…..”

Setelah itu kaum muslimin pun memantapkan posisi mereka di dekat sebuah sumur di Badr. Tak lama kemudian datanglah seorang sahabat Al Khabbab bin Al Munzir menghadap Nabi, ia berkata

“ Ya Nabi, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima petunjuk wahyu dari Allah SWT yang takdapat diubah lagi, ataukah berdasarkan strategi anda saja?”

Nabi menjawab: “tempat ini ku pilih berdasarkan strategi ku sendiri!”

Khabbab pun menjawab: “ya Rosulullah SAW jika demikian, ini bukanlah tempat yang baik. Ajaklah pasukan untuk pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan disana dan menggali sumur-sumur dibelakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dengan kondisi persediaan air minum yang cukup, sedang musuh tidak memperoleh air minum.”

Nabi pun menjawab: “pendapatmu sungguh baik”

Dan kemudian usulan Khabbab ini langsung di jalankan oleh pasukan. Dan malam itu, pasukan beristirahat dengan tenang, keyakinan yang begitu dalam telah terpatri dijantung mereka. Hal ini Allah SWT gambarkan dalam FirmanNya surat al Anfal ayat 11:

11.  (ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)

1 Oktober 2011 - Posted by | Artikel, Catatan Perjalanan, Sejarah ISlam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: