Zaki Permana's Blog

Articles, Poem, Download, and Others…

Sajak kebersahajaan


4928358-lg

Menarik…

Dengungannya meliuk-liuk di rerumput bersahaja desaku

Mencipta magis yang menjalari hati

Menyiram gelisah

Menggantikan galau dengan senyuman

Baca lebih lanjut

Iklan

19 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

SENANDUNG GADIS DESA

5530970-lg

Gadis desa itu berjalan teratur di pematang, kakinya lincah bermain percik air yang berloncatan dan hinggap di batang kemuning padi yang kian berrisi kian tertunduk tawadhu, dalam damai sawah itu ia bersenandung tentang alam dan bebintang keindahan di langit yang redup dalam kerudung senja. Matanya yang indah namun lelah mencari-cari dengan bahagia ternaknya yang sedari tadi berenang dalam kubangan yang tak jauh dari tempat ia berada. Kemudian diambilnya batangan bambu, senjata tongkat ajaib yang menandakan siapa sang majikan dan siapa yang bukan, diayunkannya lembut tongkat itu kelangit basah bekas hujan barusan sebagai tanda waktu pulang telah datang kepada ternak sumber penghidupannya, bagai tentara yang selalu patuh terhadap perintah komandan tanpa protes ternaknya mengikuti perintah untuk pulang dan masuk kandang, agar ternaknya aman dari terkaman dan agar esoknya dapat dengan mudah dijual untuk membeli beras yang selalu menanjak harganya. Hatinya riang, kakinya lincah, tak ada beban Negara, tak ada niatan korupsi.

Baca lebih lanjut

19 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Do’a Yang Indah

Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.

Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.

Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran. Allah menjawab, Tidak.

Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan. Allah menjawab, Tidak.

Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

18 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Jikalah Pada Akhirnya

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,

Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa tidak dinikmati saja,

Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,

Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,

Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,

Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,

Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,

Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,

Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,

Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,

Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,

Saat semua telah menjadi masa lalu

Aku ingin ada di antara mereka

Yang bertelekan di atas permadani

Sambil bercengkerama dengan tetangganya

Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu

Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha

senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja

dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)–

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak

mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam

raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti

Ketika semua telah menjadi masa lalu

Aku tak ingin ada di antara mereka

Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:

Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi

langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat

menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)–

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap

saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup

bersabar meski hanya sedikit jua?)]

18 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Dan danau itupun menjadi indah

Indah danau sebelah rumah sebenarnya belum pernah benar-benar lekat dalam mataku
Hanya deburannya saja yang kadang terasa begitu ada
Dan aku sudah bermain di selingkungannya bahkan dari sebelum aku mengenal jenisku
Namun kini aku sedang akil balik
Maka tiba-tiba danau itu menjadi sangat indah
aku tak mengerti mengapa
Danau yang dulu begitu kuacuhkan sekarang menjadi sebuah rangkaian keindahan dengan ritme keindahan yang menawarkan penona tiada ujung
danau itu…
di atasnya keindahan
di kanan keindahan
ditengah-tengah keindahan
di dalam keindahan
dalam indah kilaunya
aku masih tek mengerti kenapa
hingga daun-daun danau pun menyapa dan berkata
“kau sedang terlena anaku”
“pada apa”
aku bertanya tak terima
“padanya”
“apa?”
Desakku
“pada wanita yang pesonanya membawa serta keindahan di segenap jajahan mata”
maka aku berkata
benar dunia
aku terpesona oleh wanita
Yang indahnya membawa serta keindahan pada setiap jajahan mata

18 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Ketika Subuh Dibuai Cinta

Cinta adalah perlambang kesetiaan kasih bunda yang tetap selalu melekat untuk buah hatinya, cinta adalah buah segar yang muncul dikala kemarau, cinta adalah lentera yang menerangi jalanan saat datang gelap membayang, cinta adalah keindahan, keteraturan, dan kelembutan. Cinta adalah ketika hati ini selalu teringat akan orang-orang di sekitar dengan satu niatan, bermanfaat bagi semuanya.
Aku melihat padi bertasbih dengan ketawadhu’-annya, aku melihat purnama bertasbih dengan kemilaunya di malam hari, aku melihat gelombang radio bertasbih dengan rambatanya yang mengaliri udara. Dan aku ingin melihat dengan apa cinta bertasbih..apakah ia bertasbih dengan selimut hangat yang selalu membuat terlena orang-orang dalam dekapnya, ataukah ia bertasbih dengan kebesaran dan keagungannya Seperti yang ada pada sastra-sastra.
Cinta mengalir dalam nadi tiap hamba, cinta subur ditiap-tiap rongga kehidupan, cinta bagai angin, kedatangannya selalu tidak terlihat namun jejaknya menimbulkan rasa nyaman bahkan hingga kematian.
Wahai diri, jangan kau repot membayang arti cinta jika kau masih lupa rasanya berbagi dengan sesama. Karena islam menuntut bumi.
Yogyakarta, 29 februari 2008
ketika terinspirasi dari kisah cinta

18 Juni 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar